Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image oni qonita

Pengamatan Pekerjaan Laboratorium Medik: Membandingkan Teori dan Praktik Lapangan

Update | 2025-12-01 23:25:39

Sebagai mahasiswa baru Universitas Airlangga, terutama pada jurusan Teknologi Laboratorium Medik (TLM), saya merasa perlu untuk mengetahui dan memahami lebih dalam bagaimana pekerjaan di dalam laboratorium sehari-hari berlangsung sebelum memasuki perkuliahan. Tentu saja hal ini tidak dilakukan tanpa sebab, karena dengan ini akan memudahkan saya dalam memahami materi perkuliahan sebagai orang awam yang baru saja terjun pada dunia kesehatan. Oleh karena itu, saya melakukan pengamatan secara invisible di dua rumah sakit besar dan satu pusat kesehatan masyarakat (PUSKESMAS).

Selain itu, di sini saya juga ingin membuktikan teori yang pernah saya baca pada suatu jurnal yang menyatakan bahwa sebagian besar kesalahan pemeriksaan laboratorium justru terjadi sebelum proses analisis dimulai, misalnya saat pengambilan, pelabelan, atau pengiriman sampel. Salah satu studi internasional menyatakan bahwa fase pre-analitik adalah penyumbang kesalahan terbesar dalam pemeriksaan laboratorium (Alghamdi et al., 2024).

Penelitian lain juga menemukan bahwa sekitar 98% kesalahan laboratorium terjadi pada fase ini (Shah et al., 2020). Berikut adalah beberapa hal penting yang ingin saya lihat langsung dalam pengamatan kali ini: 1. Bagaimana cara pengolahan sampel yang diterima di laboratorium, apalagi ketika kondisi ramai pasien. 2. Prosedur penerapan K3 dan Pengolahan limbah laboratorium. 3. Cara petugas berkomunikasi satu sama lain. Sesuai dengan yang sudah dijelaskan di atas, saya melakukan pengamatan di tiga tempat yang berbeda sebagai perbandingan dan dilakukan dalam kurun waktu sekitar satu minggu.

Setiap sesi berlangsung kurang lebih 1–2 jam. Hasil Pengamatan Hasil dari pengamatan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Alur Penerimaan Sampel Setiap sampel yang diberikan atau diambil pada saat itu juga langsung diberi label sesuai dengan identitas pemilik sampel. Sampel-sampel tersebut disusun secara rapi untuk proses analisis selanjutnya. Setiap tahap penamaan dilakukan dengan hati-hati agar tidak ada kekeliruan, meskipun begitu, pengambilan sampel bisa terus berjalan dengan lancar tanpa ada antrian yang menumpuk terlalu banyak. 2. SOP Keselamatan Kerja dan Pengolahan Limbah Laboratorium Para petugas memakai APD yang lengkap saat bekerja, mulai dari sarung tangan, jas lab, masker, dan APD lainnya yang diperlukan. Untuk limbahnya sendiri dibuang sesuai dengan jenis-jenisnya. Contohnya, limbah jarum suntik masuk dalam limbah infeksius. Tidak lupa juga limbah ini dipisahkan dengan limbah lainnya, karena jika tidak, hal ini akan membahayakan bagi orang-orang. 3. Komunikasi Antar Tim yang Baik Meskipun saya hanya mengamati dari kejauhan, komunikasi yang terjalin terlihat baik. Semua petugas melaksanakan tugasnya masing-masing dan saling melengkapi satu sama lain.

Mereka bekerja sama agar tidak terjadi kesalahan sekecil apa pun dalam sampel yang diuji. Kesimpulan dan Perbandingan Teori-Praktik Secara keseluruhan, dari tiga tempat yang saya kunjungi menunjukkan praktik kerja yang baik dan sudah sesuai standar. Mengenai teori penelitian dari Alghamdi et al. (2024) yang menyebutkan bahwa sebagian besar kesalahan laboratorium berasal dari kesalahan sebelum analisis dimulai, begitu juga dengan penelitian Shah et al. (2020) yang menyatakan bahwa 98,4% kesalahan terjadi pada tahap ini; setelah saya membandingkan antara teori dan praktik lapangan, ternyata hal ini kurang relevan.

Hal ini karena rumah sakit dan puskesmas yang saya kunjungi berhasil menjalankan tahapan pre-analitik dengan cukup baik. Alur masuk sampelnya jelas, identifikasi tepat, dan SOP juga sudah dipatuhi sesuai standar. Dengan kata lain, penerapan prosedur yang konsisten dapat mengurangi risiko kesalahan. Meskipun demikian, saya juga menyadari bahwa pengamatan yang saya lakukan hanyalah dalam waktu yang terbatas. Sehingga, masih ada kemungkinan tantangan muncul pada jam-jam sibuk, kekurangan tenaga, atau saat alat mengalami gangguan. Tantangan seperti ini juga disebutkan dalam beberapa jurnal, terutama terkait latent errors atau kesalahan yang tidak langsung terlihat (Sela et al., 2023).

Pengamatan invisible yang saya lakukan ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana tenaga laboratorium bekerja. Saya menyaksikan bahwa tiga tempat pelayanan kesehatan yang saya kunjungi menjalankan proses pelayanan laboratorium dengan baik, mulai dari alur sampel, penggunaan APD, hingga komunikasi tim. Pengalaman ini membuat saya memahami bahwa teori mengenai risiko kesalahan laboratorium memang benar adanya. Akan tetapi, dengan praktik yang baik, disiplin, dan koordinasi antar anggota tim yang tepat dapat membantu menekan kesalahan tersebut, karena di sini kita tidak bekerja sebagai individu saja, tetapi sebagai satu tim.

Sebagai mahasiswa baru, pengamatan ini sangat membantu saya memahami betapa pentingnya ketelitian, kerja sama, dan kepatuhan pada SOP untuk menjadi seorang analis kesehatan nantinya. Referensi 1. Alghamdi, S. M. S., et al. (2024). Pre-Analytical, Analytical, And Post-Analytical Errors In Clinical Laboratory Testing: A Systematic Review Of Causes And Prevention Strategies. Journal of International Crisis and Risk Communication Research. 2. Shah, T. J., Sadaria, R., & Vasava, S. (2020). Pre-Analytical Errors in Clinical Diagnostic Laboratory. Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology. 3. Vongsakulyanon, A. (2019). Prevention of Clinical Laboratory Test Error: Pre-analytical Error. Ramathibodi Medical Journal. 4. Sela, M. D., Jur., B., & Aristoteles. (2023). Analysis of Frequency Types of Pre-analytic Stage Errors in Routine Hematology Examinations in Hospitals. Tropis: Jurnal Riset Teknologi Laboratorium Medis.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image