MBG: Menyiapkan Generasi Emas atau Generasi Buruh?
Politik | 2026-01-26 07:25:23
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan setahun, sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap generasi penerus bangsa. Melalui program MBG ini pemerintah sedang berjuang memastikan perut anak bangsa terisi oleh makanan bergizi dengan tujuan menyelamatkan anak dari Stunting dan gizi buruk, meningkatkan IQ sehingga mampu mencetak generasi Emas 2045.
Program Tak Adil
Pada awal bulan Februari tahun 2026 Pemerintah akan melakukan Pengangkatan pegawai SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) menjadi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), dengan tujuan memperkuat SDM dan profesionalisme Program MBG berdasarkan Perpres No. 115 Tahun 2025
Bagaimana tidak tenaga SPPG yang baru setahun kerja sudah diangkat menjadi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), semetara masih banyak tenaga pendidik dan tenaga kesehatan yang sudah bertahun-tahun mengabdikan diri belum juga diangkat menjadi PPPK.
Demi kelancaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah melalui Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan, BGN mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp 335 juta untuk tahun 2026. “Kita sudah mendapat pagu anggaran Rp 268 triliun dengan dana standby Rp 67 triliun, sehingga total dianggarkan Rp 335 triliun,” ujar Dadan saat ditemui di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026). Kompas.com
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto pada saat melakukan kunjungan kerja di Inggris dalam kesempatan tersebut Presiden Prabowo menegaskan bahwa pendidikan merupakan kunci utama bagi keberhasilan suatu bangsa saat berbicara dalam forum UK-Indonesia EducationRoundtable pada Selasa, 20 Januari 2026, di Lancaster House, London.
Namun pada kenyataannya pendidikan masih tertinggal jauh bahkan alokasi dana pendidikan dari APBN 2026 sebesar Rp 769,1 triliun dipotong hampir 30 persen atau sekitar Rp 223 triliun untuk program MBG. Muncul pertanyaan besar mengapa dana MBG harus menyedot dana pendidikan? Kenapa tidak diambil dari pos-pos yang lain? Justru mengamputasi yang seharusnya menjadi penopang terwujudnya generasi Emas.
Kita analogikan tubuh anak-anak adalah perangkat keras (Hardware) dan otak perangkat lunak (software). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya fokus pada perbaikan Hardware dengan tujuan agar badan anak-anak tetap sehat, mendapat asupan nitrisi yang cukup sehingga otak mudah menyerap pelajaran.
Apakah akan terwujud Generasi Emas ketika hanya tubuh yang sehat, sementara otak tidak ditingkatkan? Ketika badan mendapat asupan yang sehat seharusnya otak pun demikian. Di kantin MBG , anak-anak di beri Ayam, telur, susu, buah agar cerdas, tapi ketika dikelas anak-anak diajarkan dengan buku yang sudah sobek, atap kelas yang bocor, putaran yang berganti-ganti, bahkan ketika hujan turun di kelas mereka terendam air akibat banjir. Percuma kenyang tapi otak kosong, yang ada bukan menyiapkan Generasi Emas tapi menyiapkan Generasi buruh.
Dalam pusaran Sistem kapitalisme hari ini "No Free Luch" Sama halnya dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu hanyalah ilusi politik seakan mensejahterakan namun dibalik itu semua ada bisnis tersembunyi yang akan melahirkan generasi sehat secara fisik tapi, lemah secara intelektual. Ketika Makan Bergizi Gratis (MBG) ini sukses maka kita akan memiliki jutaan anak muda yang sehat fisiknya berbadan dan tinggi ideal, namun tak mampu bersaing secara intelektual. Yang pada akhirnya generasi kita hanya akan menjadi buruh kerja yang siap menopang perekonomian bangsa.
Jebakan Kenyang Tapi Otak Kosong
Kita analogikan tubuh anak-anak adalah perangkat keras (Hardware) dan otak perangkat lunak (software). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya fokus pada perbaikan Hardware dengan tujuan agar badan anak-anak tetap sehat, mendapat asupan nitrisi yang cukup sehingga otak mudah menyerap pelajaran.
Apakah akan terwujud Generasi Emas ketika hanya tubuh yang sehat, sementara otak tidak ditingkatkan? Ketika badan mendapat asupan yang sehat seharusnya otak pun demikian. Di kantin MBG , anak-anak di beri Ayam, telur, susu, buah agar cerdas, tapi ketika dikelas anak-anak diajarkan dengan buku yang sudah sobek, atap kelas yang bocor, putaran yang berganti-ganti, bahkan ketika hujan turun di kelas mereka terendam air akibat banjir. Percuma kenyang tapi otak kosong, yang ada bukan menyiapkan Generasi Emas tapi menyiapkan Generasi buruh.
Dalam pusaran Sistem kapitalisme hari ini "No Free Luch" Sama halnya dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu hanyalah ilusi politik seakan mensejahterakan namun dibalik itu semua ada bisnis tersembunyi yang akan melahirkan generasi sehat secara fisik tapi, lemah secara intelektual. Ketika Makan Bergizi Gratis (MBG) ini sukses maka kita akan memiliki jutaan anak muda yang sehat fisiknya berbadan dan tinggi ideal, namun tak mampu bersaing secara intelektual. Yang pada akhirnya generasi kita hanya akan menjadi buruh kerja yang siap menopang perekonomian bangsa.
Pemenuhan Gizi Dalam Islam
Dalam pandangan Islam Negara bertanggung jawab atas seluruh kebutuhan rakyat. Pemberian makanan bergizi adalah hak seluruh rakyat, yang penyediaannya melibatkan seluruh sistem yang ada. Sedangkan sistem pendidikan mengedukasi kepada masyarakat pentingnya gizi seimbang. Selain itu Negara juga menyediakan lapangan pekerjaan bagi setiap kepala keluarga agar ketersediaan makanan bergizi di rumah selalu tersedia.
Sumber dana untuk memenuhi ketersediaan makanan Bergizi juga jelas dalam Islam, salah satu sumber pendapatan dalam Islam adalah dari pengelolaan harta kepemilikan umum seperti sumber daya alam. Negara pengelolaannya kemudian hasilnya dikembalikan kepada masyarakat, kemudian hasil pengelolaannya diberikan kepada Baitulmal. Dalam Baitulmal terdapat pos-pos untuk menyalurkan hasil dari sumber daya alam, sehingga tidak ada celah untuk menyedot penyaluran dana lain.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
