Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image dr. Made Sindy Astri Pratiwi, S.Ked.

Mengapa Antibiotik Kini Semakin Tidak Mempan? Waspadai Resistensi Antibiotik

Medika | 2026-01-05 14:45:38
Gambar ilustrasi (Sumber: The Economic Times)

Resistensi antibiotik saat ini menjadi ancama global serius terhadap keberhasilan pengobatan infeksi bakteri. Resistensi antibiotik merujuk pada kemampuan bakteri untuk tetap bertahan atau menoleransi efek antibiotik. Hal ini berarti mikroorganisme seperti bakteri mampu untuk bertahan dan tidak terpengaruh oleh aktivitas antibiotik yang seharusnya menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri, meskipun obat tersebut telah diberikan dengan kadar yang tepat secara klinis. Studi menyebutkan bahwa bakteri yang resisten terhadap antibiotik merupakan krisis masalah kesehatan yang krusial dengan lebih dari 700.000 kematian tiap tahun di seluruh dunia. Kondisi ini tentu akan menjadi masalah karena antibiotik tidak lagi efektif untuk mengobati penyakit infeksi yang sebelumnya dapat diatasi.

Pemicu Resistensi Antibiotik


Resistensi antibiotik dipicu oleh berbagai faktor yang berkaitan terutama oleh karena penggunaan antibiotik yang tidak bijak. Saat ini tidak jarang ditemukan masyarakat yang masih mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter, tidak menghabiskan konsumsi antibiotik, atau menggunakan antibiotik pada penyakit yang sebetulnya disebabkan oleh virus. Kurangnya pengawasan, terbatasnya pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan, serta randahnya kesadaran masyarakat terhadap antibiotik turut mempercepat penyebaran bakteri yang resisten

Mengapa resistensi antiobiotik dapat terjadi?

Ketika pasien terpapar oleh penggunaan atibiotik yang tidak digunakan secara tepat, sebagian bakteri memang berhasil dimatikan, namun terdapat bakteri yang berhasil untuk bertahan. Bakteri yang selamat inilah yang kemudian berkembang biak dan menjadi semakin kuat. Oleh sebab itu, antibiotik yang dulunya mampu untuk mengatasi penyakit infeksi, saat ini menjadi sulit diobati dan membutuhkan obat yang lebih kuat dan waktu penyembuhan yang lebih lama

Dampak Resistensi Antibiotik
Berbagai dampak serius resistensi antibiotik dapat terjadi pada kesehatan masyarakat bahkan sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang telah resisten menjadi sulit untuk diobati. Hal ini akan meningkatkan risiko kegagalan terapi, rawat inap yang lebih lama, komplikasi yang berat, hingga kematian. Pasien yang terbukti mengalami resistensi juga membutuhkan waktu perawatan yang lebih lama. Meskipun terdapat antibiotik lini kedua atau ketiga, namun pengobatannya cenderung mahal dengan efek samping yang lebih besar sehingga akan meningkatkan beban dan biaya pengeluaran kesehatan. Tidak hanya itu, studi juga menyebutkan bahwa resistensi antibiotik mengancam keberhasilan tindakan medis seperti operasi dan perawatan intensif karena risiko infeksi yang tidak dapat ditangan

Pencegahan Resistensi

Sejatinya, tidak semua penyakit memerlukan antibiotik sebagai pengobatan. Pencegahan resistensi dapat dilakukan dengan penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab. Saat ini telah banyak apotek yang menerapkan penggunaan antibiotik sesuai dengan resep dokter. Namun tidak sampai di sana, antibiotik harus digunakan dengan dosis dan lama pemakaian yang tepat serta harus dikonsumsi secara tuntas meskipun pasien telah menunjukkan perbaikan gejala. Hindari menggunakan antibiotik milik orang lain dan tidak menyimpan sisa antibiotik. Selain itu, penting untuk tidak menggunakan antibiotik oleh penyakit yang disebabkan oleh virus. Edukasi pada masyarakat dan pengawasan dari tenaga kesehatan merupakan langkah penting untuk memperlambat laju resistensi antibiotik

Sebagai simpulan, resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan global yang semakin mengancam keberhasilan pengobatan infeksi bakteri. Perlu adanya kewaspadaan terhadap penggunaan antibiotik yang tidak tepat sebagai pemicu utama munculnya bakteri yang resisten. Dampak yang disebabkan oleh resistensi bakteri juga merupakan hal yang serius karena dapat meningkatkan angka kesakitan, kematian, hingga biaya pengobatan. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik harus dilakukan sebijak mungkin agar tetap menjaga efektivitas antibiotik secara berkelanjutan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image