Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image 20240302114 Naurell Aura Ciptalova

Fermentasi Pangan dan Perannya bagi Kesehatan Usus

Edukasi | 2026-02-04 19:57:01
Fermentasi Pangan Tempe

Fermentasi makanan adalah proses kimia biologis yang melibatkan kerja mikroorganisme seperti bakteri, ragi, dan jamur untuk mengubah komponen dalam bahan makanan menjadi zat yang lebih sederhana. Proses ini sudah lama digunakan sebagai cara pengawetan alami sekaligus untuk meningkatkan rasa dan nilai gizi makanan. Makanan hasil fermentasi seperti tempe, tape, oncom, dan kecap sering dikonsumsi oleh masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagai bagian dari kebiasaan makan sehari-hari.

Dalam beberapa dekade terakhir, fermentasi makanan mendapat perhatian yang besar karena perannya dalam meningkatkan kesehatan saluran cerna melalui interaksi dengan mikrobiota usus.Sistem pencernaan manusia dihuni oleh komunitas mikroorganisme yang kompleks, yang dikenal sebagai mikrobiota usus. Mikroorganisme ini memainkan peran penting dalam tubuh, seperti membantu mencerna makanan yang tidak bisa dicerna oleh enzim manusia, menghasilkan beberapa vitamin, serta membantu mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Ketidakseimbangan atau perubahan pada kumpulan mikroba di saluran pencernaan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti diare, radang usus, serta gangguan metabolisme tubuh. Oleh karena itu, strategi diet yang mampu menjaga keseimbangan bakteri di usus sangat penting dalam mempertahankan kesehatan pencernaan.

Makanan yang difermentasi dikenal mengandung bakteri hidup, terutama bakteri asam laktat seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium, yang bisa berfungsi sebagai probiotik. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang, bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup, dapat memberi manfaat bagi kesehatan tubuh inangnya. Setelah dikonsumsi, mikroorganisme dari makanan berbahan fermentasi bisa bertahan melewati bagian atas saluran pencernaan dan berinteraksi dengan kumpulan mikroba di usus. Interaksi ini membantu meningkatkan jumlah bakteri baik dan menghambat pertumbuhan mikroba berbahaya melalui persaingan untuk mencari makanan serta menghasilkan zat-zat yang dapat membunuh mikroba.

Selain itu, proses fermentasi juga menghasilkan berbagai zat aktif biologis yang berperan dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan. Metabolit tersebut mencakup asam organik, vitamin B kompleks, enzim, serta asam lemak rantai pendek seperti asetat, propionat, dan butirat. SCFA berperan penting sebagai sumber energi bagi sel-sel epitel usus dan membantu menjaga kondisi lapisan mukosa usus tetap utuh. Dengan menjaga fungsi batas usus, kemampuan usus untuk menyerap zat bisa dikendalikan, sehingga mencegah masuknya bahan beracun ke dalam darah dan mengurangi kemungkinan terjadinya peradangan.

Proses fermentasi juga membantu meningkatkan kemampuan tubuh menyerap serta memanfaatkan nutrisi secara lebih baik. Selama proses fermentasi, protein terurai menjadi peptida dan asam amino yang lebih ringan, sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Selain itu, zat antinutrisi seperti asam fitat yang bisa menempel pada mineral akan terurai, sehingga tubuh lebih mampu menyerap mineral seperti besi, kalsium, dan seng secara efisien. Fermentasi tidak hanya mengubah sifat fisik dan rasa makanan, tetapi juga meningkatkan kualitas gizi dan manfaat bagi tubuh.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makan makanan yang difermentasi bisa membantu memperbaiki keseimbangan bakteri di usus dan mengurangi kemungkinan terjadinya gangguan pencernaan. Pangan yang difermentasi juga dikatakan membantu mengatur respons imun pada saluran pencernaan dan mengurangi proses peradangan. Ini menunjukkan bahwa manfaat makanan fermentasi tidak hanya berdampak pada pencernaan saja, tetapi juga mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan karena hubungan yang sangat erat antara usus dan sistem kekebalan tubuh

Meskipun begitu, aspek keamanan pangan hasil fermentasi tetap harus diperhatikan. Proses penguraian yang tidak teratur atau tidak bersih dapat menyebabkan munculnya mikroorganisme berbahaya yang bisa menyebabkan infeksi. Beberapa makanan hasil fermentasi memiliki kadar garam yang cukup tinggi, sehingga harus dikonsumsi dengan batasan tertentu, terutama oleh orang yang menderita tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, menerapkan prinsip kebersihan dan sanitasi saat memproduksi makanan fermentasi serta mengkonsumsinya secara seimbang merupakan hal yang penting agar manfaat makanan fermentasi dapat digunakan secara optimal.

Secara umum, proses fermentasi makanan memiliki peran penting dalam membantu kesehatan saluran pencernaan. Dengan menambahkan mikroorganisme baik dan senyawa aktif biologis, makanan yang difermentasi membantu menjaga keseimbangan bakteri di saluran cerna, meningkatkan penyerapan nutrisi, serta memperkuat perlindungan saluran cerna. Menggabungkan makanan hasil fermentasi dalam pola makan sehari-hari yang seimbang dapat menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kesehatan pencernaan dan meningkatkan kesejahteraan tubuh secara keseluruhan.

Referensi

Doo, H., et al. (2024). Lactic acid bacteria in Asian fermented foods and their beneficial roles in human health. Food Science and Biotechnology, 33, 2021–2033.Patel, P., et al. (2023). Effects of fermented food consumption on non-communicable diseases. Foods, 12(4), 687.Leeuwendaal, N. K., et al. (2022). Fermented foods, health and the gut microbiome. Nutrients, 14(7), 1527.

Penulis:Mahasiswa Ilmu Gizi, Universitas Esa Unggul: Regina Nathasa Ferdianti 20240302050, Shifa Ratnadila 20240302053, Naurell Aura Ciptalova 20240302114, Marissa Cilfini Situmeang 20240302115, Khotrun Nada 20240302213

Tugas PBL matakuliah Teknologi PanganDosen Pengampu: Reza Fadhilla, S.TP, M.Si

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image