Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sutanto

Sutanto Hadirkan Spirit Dolanan Nusantara dalam Buku Negeri Permainan

Guru Menulis | 2026-02-27 13:26:15
Sutanto bergambar dengan buku yang ditulisnya, di halaman MTsN 3 Bantul, Kamis (26/2/2026)

BANTUL — Semangat melestarikan permainan tradisional kembali digaungkan. Guru MTsN 3 Bantul, Sutanto, ambil bagian dalam penulisan buku “Negeri Permainan: Dari Engklek Sampai Gobak Sodor” bersama 106 penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Buku ini menjadi oase di tengah derasnya arus permainan digital yang kian mendominasi keseharian anak-anak.

Dalam buku setebal 55 halaman tersebut, Sutanto mengangkat permainan tradisional Lari Kelereng di Sendok, permainan sederhana yang sarat nilai ketangkasan dan sportivitas. Menggunakan sendok dan kelereng sebagai alat utama, permainan ini kerap hadir dalam lomba peringatan Hari Kemerdekaan maupun kegiatan sekolah.

“Pemain menggigit sendok yang di atasnya diletakkan kelereng, lalu berlari menuju garis finis tanpa menjatuhkannya. Siapa tercepat dan kelereng tetap bertahan di sendok, dialah pemenangnya,” ujar Sutanto saat ditemui di MTsN 3 Bantul, manggung Wukirsari Imogiri Bantul, Kamis (26/2/2026).

Ia menambahkan, ketegangan permainan justru terletak pada keseimbangan dan fokus. Peserta dinyatakan kalah bila kelereng terjatuh atau ada pemain lain yang lebih dahulu menyentuh garis akhir. Di balik kesederhanaannya, permainan ini melatih konsentrasi, kesabaran, sekaligus daya juang.

Founder Komunitas Yuk Menulis, Vitriya Mardiyati

Buku ini digagas oleh Founder Komunitas Yuk Menulis (KYM), Vitriya Mardiyati. Ia menegaskan, Negeri Permainan bukan sekadar kumpulan nostalgia masa kecil, melainkan jembatan antara generasi gawai dan akar budaya bangsa.

“Kami percaya permainan tradisional adalah bagian dari literasi budaya yang harus dirawat. Ia bukan sekadar hiburan, tetapi pelajaran hidup yang tertanam kuat dalam ingatan dan karakter anak-anak,” tutur Vitriya.

Melalui buku ini, pembaca diajak menjelajahi “negeri kecil” tempat anak-anak berlari tanpa takut, melompat tanpa ragu, dan belajar tanpa sekat ruang kelas. Di sana, engklek mengajarkan keseimbangan, gobak sodor menumbuhkan keberanian, egrang melatih keteguhan, dan congklak merawat kesabaran.

Lebih dari sekadar dokumentasi permainan rakyat, buku ini menjadi penegas bahwa pendidikan karakter sejatinya telah lama hidup dalam tradisi. Permainan tradisional bukan barang usang, melainkan warisan bernilai yang tetap relevan di tengah modernitas.

“Saya bersyukur dipertemukan dengan guru, orang tua, penulis, dan relawan yang mencintai literasi. Semoga keberkahan menyertai setiap langkah kita dalam merawat budaya bangsa,” pungkas Vitriya.

Kehadiran buku Negeri Permainan menjadi pengingat: di tengah layar sentuh dan dunia virtual, anak-anak Indonesia tetap membutuhkan ruang nyata untuk berlari, tertawa, dan belajar dari permainan yang membumi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image