Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Luffiatul Aini Mahasiswa Universitas Airlangg

Mengupas Motivasi Pelari Pemula: Kesehatan, Tren, atau Keduanya?

Trend | 2025-11-27 05:21:40

Di tengah hiruk-pikuk kota dan tuntutan hidup yang semakin padat, aktivitas lari mendadak menjadi salah satu gaya hidup baru yang banyak digemari. Setiap akhir pekan, taman kota dipenuhi pelari dengan earphone terpasang, sepatu terbaru, dan smartwatch yang mencatat setiap detak jantung mereka. Di media sosial, bertebaran unggahan jarak tempuh, rute lari yang estetik, hingga foto-foto race dengan medali menggantung bangga di leher. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik: Aapakah semua orang benar-benar berlari demi kesehatan, atau ada latar lain yang mendorong mereka, seperti tren dan rasa takut ketinggalan?
Bagi pelari pemula, langkah pertama sering kali bukan soal stamina atau komitmen — tapi tentang motivasi. Dan motivasi itulah yang begitu beragam, seunik setiap pelari yang memulai perjalanan mereka di lintasan.


1. Dorongan Kesehatan: Alasan Klasik yang Tetap Relevan.


Bagi banyak orang, olahraga lari adalah cara sederhana dan murah untuk memulai hidup sehat. Tidak membutuhkan peralatan rumit atau keanggotaan gym, lari bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.


Beberapa alasan terkait kesehatan yang sering muncul antara lain:

-Meningkatkan kebugaran jantung dan paru-paru

-Mengontrol berat badan atau membentuk tubuh

-Mengurangi stres dan kecemasan karena pelepasan hormon endorfin

-Meningkatkan kualitas tidur

-Membentuk kebiasaan hidup aktif di tengah rutinitas kerja yang padat


Bagi pelari pemula, pencapaian kecil seperti mampu berlari 10 menit tanpa berhenti sering menjadi motivasi lanjutan untuk terus berkembang.


2. Pengaruh Tren dan FOMO: Tak Sekadar Ikut Ramai


Tidak bisa dipungkiri, media sosial memainkan peran besar dalam populernya olahraga lari. Dari Instagram hingga TikTok, konten seputar lari sering kali viral — mulai dari outfit pelari, review sepatu terbaru, hingga vlog saat mengikuti race.


Fenomena ini menimbulkan apa yang disebut FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal tren atau tidak dianggap gaul oleh lingkungan sosial. Beberapa tanda tren ini antara lain:
-Ramainya event lari dengan kuota cepat habis

-Orang mulai membeli perlengkapan lari premium meski baru mulai berlatih

-Munculnya komunitas pelari dengan estetika branding yang kuat-Meningkatnya unggahan aktivitas lari di media sosial sebagai bentuk eksistensi


Namun, FOMO tidak selalu berdampak negatif. Banyak pelari pemula justru berhasil membangun kebiasaan olahraga berkat dorongan tren awal tersebut.

3. Kekuatannya Komunitas: Motivasi Sosial yang Mengikat


Jika kesehatan adalah alasan personal, tren adalah alasan eksternal, maka komunitas adalah jembatan di antara keduanya.
Bergabung dengan komunitas lari memberikan manfaat seperti:
-Merasa lebih termotivasi karena latihan bersama

-Mendapat dukungan ketika rasa malas menyerang

-Memiliki teman bertukar pengalaman, tips, dan rute latihan-Keamanan saat berlari di malam atau pagi buta

-Merasakan euforia kebersamaan saat mengikuti race


Banyak pelari yang awalnya ikut-ikutan, kemudian berubah menjadi pelari rutin karena menemukan lingkungan sosial yang positif.

4. Pencapaian Diri: Motivasi yang Muncul Seiring Progres


Seiring waktu, motivasi pelari pemula biasanya berkembang. Apa yang awalnya hanya FOMO bisa berubah menjadi rasa bangga ketika melihat progres sendiri: jarak yang bertambah, pace yang membaik, atau berhasil menyelesaikan 5K pertama.
Motivasi pencapaian diri ini membawa manfaat seperti:
-Meningkatkan disiplin dan konsistensi-Membangun rasa percaya diri

-Menciptakan tujuan baru, seperti mengikuti race 10K, half marathon, atau bahkan marathon
Inilah fase ketika lari tidak lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi gaya hidup.

5. Jadi, Mana yang Lebih Dominan?
Jawabannya tidak tunggal. Motivasi seseorang untuk mulai berlari bisa bersifat multifaktorial. Seseorang mungkin mulai karena FOMO, tetapi bertahan karena manfaat kesehatan.Ada yang awalnya ingin hidup sehat, namun lebih semangat ketika melihat dukungan komunitas atau apresiasi di media sosial.


Yang terpenting bukanlah dari mana motivasi itu datang, melainkan bagaimana seseorang menjaga konsistensi, memahami batas tubuh, dan menemukan keseimbangan antara tren dan kesehatan. Berlari bisa menjadi refleksi sederhana tentang hidup: setiap orang memiliki titik mulai yang berbeda, tetapi yang menentukan adalah bagaimana kita melangkah selanjutnya. Apakah Anda berlari untuk sehat, untuk tren, atau keduanya — selama dilakukan dengan sadar dan bertanggung jawab, lari tetap memberikan dampak positif bagi tubuh maupun mental.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image