Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Carlota Angel Harianto

Arsitektur Empati di Poli Pediatri: Realitas Tenaga Medis

Medika | 2025-11-26 14:20:34

“Wherever the art of medicine is loved, there is also a love of humanity.” — Hippocrates, bapak kedokteran.

Komunikasi yang lembut dan penuh perhatian antara tenaga medis dan orang tua dalam pelayanan kesehatan.

Di Indonesia, poli pediatri sering menjadi salah satu unit rawat jalan paling padat. Tekanan waktu, antrean panjang, hingga keterbatasan tenaga medis membuat komunikasi menjadi faktor krusial dalam keselamatan pasien — namun sering terabaikan.

Dunia kesehatan adalah dunia yang penuh dinamika dan ketegangan yang sering tersembunyi dari pandangan umum. Setiap menit bahkan detik sangat berarti, khususnya di poli pediatri, yang terisi dengan harapan dan ketakutan orang tua, serta perjuangan para tenaga medis yang terkadang tak terlihat oleh mata. Ini adalah dunia yang bukan sekadar soal ilmu dan teknologi, melainkan juga kemanusiaan yang melekat kuat dalam setiap tindakan. Di balik kesibukan tersebut, tersimpan kisah-kisah berarti yang penuh dengan tanggung jawab dan keteguhan hati.

Observasi di Rumah Sakit Pendidikan

Sore itu, untuk pertama kalinya saya melakukan observasi yang cukup lama di poli pediatri. Ruangan itu tidak pernah benar-benar sunyi. Ada tangis anak, langkah cepat perawat, dan percakapan singkat antar-tenaga medis yang berjalan tanpa jeda. Di tengah keramaian itu, saya mulai bertanya, apa sebenarnya yang terjadi di balik hiruk-pikuk ini? Apakah poli pediatri hanya tempat anak-anak diperiksa, atau lebih dari itu? Pertanyaan ini penting, karena kualitas komunikasi di ruang seperti ini dapat menentukan apakah seorang anak mendapatkan perawatan yang aman dan tepat.

Pada awalnya, saya memiliki persepsi bahwa dunia medis itu hanya tentang diagnosis dan tindakan terapeutik yang cepat dan tepat. Namun, setelah melihat secara langsung, saya paham bahwa ada unsur lain yang sama pentingnya: komunikasi. Bagaimana tenaga medis berkomunikasi, bagaimana pesan disampaikan, itulah yang justru menentukan alur pelayanan. Misalnya, informasi sekecil alergi obat atau perubahan gejala dapat mengubah alur tindakan yang dilakukan oleh dokter kepada pasiennya. Percakapan singkat antar-tenaga itu bukan hanya rutinitas, melainkan bagian dari mekanisme yang turut menopang setiap tindakan medis.

Pergantian Shift: Momen Krusial

Saya menyaksikan suatu momen yang terlihat seperti pergantian shift. Prosesnya berlangsung begitu cepat, catatan berpindah tangan, instruksi disampaikan dengan efisien, dan para tenaga medis berpindahan dalam waktu yang singkat, tanpa sempat mengambil napas panjang. Melihat semua itu, satu hal terlintas di pikiran saya: bagaimana jika ada informasi yang terlewat? Di layanan kesehatan anak, kesalahan kecil dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis atau tindakan yang tidak sesuai.

Di ruang seperti poli pediatri, satu detail kecil dapat menentukan langkah besar, membedakan yang bahaya dengan yang tidak. Anak-anak tidak selalu mampu mengungkapkan keluhan dengan jelas, sehingga penentuan dari mayoritas informasi berada di tangan tenaga medis. Ketika penyampaian pesan tidak lengkap atau terburu-buru, risikonya bukan sekadar kebingungan, tetapi keselamatan.

Dari sini saya memahami bahwa kepercayaan antar-tenaga kesehatan bukan hanya soal profesionalitas, melainkan sebuah syarat agar komunikasi tetap efektif. Tanpa dasar kepercayaan itu, alur informasi tidak akan berjalan dengan lancar. Karena itu, standar komunikasi antar-shift harus diperhatikan secara komprehensif, tidak hanya sebagai rutinitas administratif.

Pelajaran Empati dari Orang Tua Pasien

Selain mengamati interaksi antar-tenaga medis, saya juga memperhatikan interaksi tenaga medis dengan orang tua pasien di ruang tunggu. Ada kecemasan yang tampak di mata orang tua tersebut, meski tidak terucap. Ada rasa takut yang mereka coba sembunyikan demi menenangkan anak. Namun, di saat yang sama seorang tenaga medis menghampiri mereka dan memberikan penjelasan dengan nada yang lembut dan bahasa yang sopan. Seketika gerak-gerik kecemasan kedua orang tua pun hilang, seiring dengan penjelasan yang diberikan. Hal ini membuat saya takjub. Dari situ saya belajar: komunikasi medis tidak cukup hanya akurat. Ia harus manusiawi. Bahasa yang terlalu teknis bisa membuat orang tua bingung, sementara penjelasan yang terlalu dingin dapat menambah kecemasan. Ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya menyentuh aspek klinis, tetapi juga aspek psikologis keluarga.

Saya menyadari bahwa di poli pediatri, empati bukan sekadar nilai tambahan. Empati adalah bagian dari proses penyembuhan itu sendiri, baik bagi pasien, maupun orang tuanya.

Refleksi untuk Calon Tenaga Kesehatan

Sebagai calon dokter, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa sesempurna apapun, kemampuan klinis saja tidak cukup untuk menjadi tenaga medis yang baik. Hal-hal lain seperti kesedian mendengar, ketelitian dalam menyampaikan informasi, dan yang terpenting, kepekaan pada emosi orang lain juga harus selalu ada setiap saat. Komunikasi, pada akhirnya, adalah jembatan yang menghubungkan tenaga medis dengan pasien, data dengan keputusan, dan kecemasan dengan rasa tenang.

Dari poli pediatri, dapat dipelajari bahwa di balik setiap kata yang disampaikan dengan hati-hati, selalu ada peluang untuk menciptakan perbedaan. Dunia kesehatan bukan hanya soal menyembuhkan tubuh. Ia bersifat holistik — menyembuhkan body, mind, dan soul, dan turut menjaga kepercayaan dan kemanusiaan yang ada di dalamnya.

Dalam dunia kesehatan, setiap tindakan tidak hanya soal menyembuhkan, tetapi juga menjaga kepercayaan dan harapan yang terpaut di dalamnya. Pada akhirnya, menjadi tenaga medis adalah sebuah perjalanan hati dan jiwa bukan sekadar ilmu semata. Kualitas layanan kesehatan anak sangat bergantung pada ketepatan klinis dan komunikasi efektif sehingga keduanya harus berjalan seimbang agar setiap anak mendapatkan pelayanan yang aman dan penuh empati.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image