Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Angela Gita Devina Fascinosa

Self-Reward: Bentuk Apresiasi Diri atau Awal Perilaku Konsumtif?

Gaya Hidup | 2025-11-24 07:05:09

Di tengah tekanan dan tuntutan dalam kehidupan sehari-hari, fenomena self-reward kian menjadi sebuah tren yang semakin populer sebagai cara cepat untuk “menghadiahi diri sendiri” setelah berhasil menjalani hari mereka yang berat. Kegiatan ini memang bisa membantu memperbaiki suasana hati, tetapi sejumlah studi menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut juga dapat berubah menjadi pemicu sikap konsumtif berlebih jika dilakukan tanpa kontrol. Lalu, di titik manakah self-reward berubah wujud dari bentuk apresiasi diri menjadi kebiasaan konsumtif yang diam-diam menguras dompet kita.

Self-reward sehat vs konsumtivitas berlebih

Self-reward yang sehat pada dasarnya berfungsi sebagai bentuk apresiasi diri dengan hadiah kecil yang kita sukai untuk menghargai segala usaha yang telah kita lakukan. Aktivitasnya tidak harus mahal, karena nilai utamanya terletak pada rasa lega, rileks, dan kepuasan emosional jangka panjang. Ketika self-reward dilakukan dengan kesadaran penuh untuk memiliki kontrol atas diri sendiri, maka gaya hidup akan tetap seimbang dan manfaat self-reward dapat tersalurkan dengan baik.

Sebaliknya, konsumtivitas berlebih muncul ketika self-reward berubah menjadi bentuk pelarian dari emosi seperti stres, kesepian, atau kecemasan. Dalam kondisi ini, seseorang cenderung membeli sesuatu bukan karena mereka benar-benar membutuhkannya, tetapi karena mereka ingin meredakan rasa “mengganjal” di dalam diri. Sensasi puas yang muncul sangat cepat, tetapi juga cepat hilang ini mendorong keinginan untuk mengulangi kemauan berbelanja agar mendapatkan “kesenangan instan” tersebut. Hal inilah yang kemudian menciptakan pola belanja impulsif dan melupakan batas antara kebutuhan dan keinginan.

Jika hal ini terjadi dalam jangka panjang, kebiasaan ini tidak hanya menguras finansial, tetapi juga melemahkan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi diri. Akhirnya, self-reward bukan lagi menjadi bentuk apresiasi diri, melainkan kebiasaan yang mendorong ketergantungan pada konsumsi berlebih untuk merasa lebih baik.

Tanda-tanda self-reward menjadi tindak konsumtif

Self-reward mulai berubah menjadi tindak konsumtif ketika kamu lebih sering membeli barang bukan karena membutuhkannya, tetapi karena ingin menghapus emosi negatif seperti stres, lelah, ataupun cemas. Pada titik ini, belanja tidak lagi menjadi bentuk apresiasi diri, melainkan bentuk pelarian yang dilakukan secara otomatis setiap kali suasana hati memburuk. Meski setelahnya muncul rasa menyesal, rasa bersalah, atau pikiran “harusnya tadi nggak beli”, perilaku itu tetap terulang karena otak sudah terbiasa mencari kenyamanan cepat lewat konsumsi.

Tanda lain yang semakin jelas adalah ketika pengeluaran self-reward mulai mengambil alih keuangan bulanan kita. Hal-hal kecil yang awalnya kecil dan remeh berubah menjadi kebiasaan yang pelan-pelan menggerus tabungan, bahkan membuatmu menunda kebutuhan penting seperti cicilan, makan sehat, bahkan dana darurat. Dalam kasus tertentu, orang juga mulai memakai paylater atau kartu kredit untuk self-reward, menciptakan utang kecil yang tampak sepele namun terus bertambah dan akhirnya membebani mental. Ketika self-reward mulai mengacaukan kestabilan emosi dan finansial, itulah sinyal bahwa kebiasaan ini sudah melampaui batas sehatnya.

Cara mengatur self-reward yang sehat

Mengatur self-reward yang sehat tentunya berarti dapat mengatur self-reward dengan mindful berarti kita memberi hadiah pada diri sendiri dengan penuh kesadaran, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat. Langkah awal yang paling efektif adalah menetapkan anggaran khusus, sehingga kita dapat memuaskan diri namun tetap memiliki batas yang jelas. Dengan begitu, keputusan untuk membeli sesuatu tidak lagi berasal dari emosi, melainkan dari rencana yang sudah dibuat sebelumnya.

Selain itu, penting untuk memperluas makna self-reward, tidak hanya berupa barang atau pengeluaran finansial. Aktivitas non-materi seperti olahraga ringan, tidur lebih awal, membaca novel, memasak makanan favorit, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat seringkali memberikan efek pemulihan emosional yang lebih tulus dan tahan lama. Ini membantu menyeimbangkan kebutuhan emosional tanpa harus bergantung pada tindakan konsumtif.

Memberikan jeda 24–48 jam sebelum membeli sesuatu juga terbukti efektif untuk menekan impuls belanja. Kebanyakan keinginan impulsif biasanya hanya bertahan kurang dari satu hari, sehingga menunda pembelian memberi waktu bagi otak untuk berpikir lebih rasional. Ketika dorongan itu hilang, kamu bisa melihat apakah barang tersebut memang benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat. Dengan melakukan strategi-strategi ini, self-reward akan tetap terasa menyenangkan tanpa memberikan dampak negatif terhadap finansial maupun mental.

Penutup

Pada akhirnya, self-reward bukanlah sesuatu yang salah. Self-reward dapat menjadi cara kita untuk merayakan diri dan mengapresiasi usaha yang telah kita lakukan. Namun, ketika kebiasaan ini berubah menjadi pembelian impulsif yang digunakan sebagai pelarian dari emosi negatif, ia kehilangan makna aslinya dan menjelma menjadi konsumtivitas berlebih yang merugikan. Karena itu, kuncinya bukan pada menghentikan self-reward, tetapi pada mengenali batasnya. Apakah kita sedang mengapresiasi diri atau justru menghindari masalah dengan berbelanja? Dengan kesadaran yang tepat, self-reward dapat kembali menjadi cara positif yang dapat menyeimbangkan emosi kita, bukan kebiasaan yang menguras dompet dan kesehatan mental.

-Angela Gita Devina Fascinosa Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image