Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Surya Aji Bilianto

Tantangan dan Peluang Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Medik di Indonesia

Pendidikan dan Literasi | 2024-12-02 14:33:40

Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) memainkan peran yang sangat penting dalam sistem kesehatan kita. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya harapan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, profesi ini dihadapkan pada sejumlah tantangan yang tidak bisa diabaikan. Dalam konteks ini, penting untuk melihat lebih dalam mengenai isu-isu yang mengelilingi profesi ATLM di Indonesia, seperti kekurangan tenaga ahli, standar kompetensi, dan kebijakan pendidikan, serta dampaknya terhadap masa depan profesi ini. Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh sektor ATLM adalah ketidakmerataan tenaga ahli.

Dalam diskusi terbaru yang diadakan oleh PATELKI, terungkap bahwa banyak fasilitas kesehatan, terutama di daerah terpencil, kekurangan tenaga laboratorium yang terampil. Situasi ini tentu menjadi hambatan dalam upaya memastikan akses layanan kesehatan yang merata di seluruh Indonesia. “Melalui Rapat Pimpinan Nasional XIII PATELKI dan Temu Ilmiah ke-30 di Jakarta, PATELKI memperoleh keputusan bersama untuk melangkah lebih agresif serta memperkokoh infrastruktur PATELKI agar mampu mengikuti perkembangan regulasi serta kebutuhan Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) se-Indonesia,” ujar Ketua Umum PATELKI Atna Permana di sela TLM Funwalk 5K yang digelar PATELKI, di Jakarta, Minggu (17/11).

Selain itu, Atna juga mengatakan dan menghimbau tenaga ATLM di setiap rumah sakit baik negeri, swasta, maupun puskesmas di berbagai daerah di Indonesia tetap diisi oleh warga negara Indonesia. Ia mengatakan bahwa ada peluang datangnya tenaga asing ATLM karena masih sedikitnya tenaga Ahli Laboratorium Medik. Menurut dia, pada dasarnya Indonesia tidak kekurangan tenaga ATLM. Saat ini anggota PATELKI mencapai 90 ribu orang. Hanya, sebaran tenaga ATLM belum merata hingga ke puskesmas pelosok daerah. Salah satu faktor penyebab kekurangan ini adalah minimnya program pendidikan yang mampu menghasilkan tenaga ATLM berkualitas.

Meskipun jumlah institusi pendidikan yang menawarkan program studi di bidang ini meningkat, banyak lulusan yang belum memenuhi standar kompetensi internasional. Keterbatasan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti Sarjana Terapan atau Magister, juga menjadi kendala di tengah persaingan global yang semakin ketat. Dengan kemajuan teknologi kesehatan, tuntutan untuk meningkatkan standar kompetensi ATLM semakin mendesak. Kerja sama antara PATELKI dan Kementerian Kesehatan dalam mengadopsi standar internasional dari International Federation of Biomedical Laboratory Science (IFBLS) adalah langkah positif.

Namun, implementasi teknologi ini memerlukan investasi yang signifikan dalam pelatihan dan infrastruktur, yang sayangnya belum merata di seluruh fasilitas kesehatan. Digitalisasi layanan laboratorium menjadi prioritas, terutama untuk penanganan penyakit menular dan tidak menular dengan lebih efisien. Namun, kesiapan tenaga kerja dalam mengoperasikan teknologi ini menjadi tantangan tersendiri. Untuk menarik lebih banyak tenaga ahli ke dalam profesi ini, PATELKI mengusulkan pemberian insentif, seperti peningkatan gaji dan tunjangan bagi tenaga ATLM. Langkah ini diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk menjadikan profesi ini sebagai pilihan karier. Selain itu, pengembangan program studi yang sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) perlu diperkuat untuk menjamin kualitas pendidikan yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Dampak dari kekurangan tenaga ahli dan kebutuhan peningkatan kompetensi ini langsung berpengaruh pada kualitas layanan kesehatan di Indonesia. Jika masalah ini tidak segera diatasi, risiko ketidaksetaraan dalam layanan kesehatan akan semakin meningkat, terutama di wilayah terpencil. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan organisasi profesi untuk memperkuat ekosistem ATLM di Indonesia.

Beberapa langkah yang bisa diambil meliputi peningkatan kapasitas pendidikan dengan menambah jumlah program studi ATLM dan memperluas akses pendidikan tinggi, memberikan insentif dan penghargaan yang layak kepada tenaga ATLM agar profesi ini lebih menarik secara finansial, serta meningkatkan ketersediaan alat dan teknologi modern di laboratorium dengan pelatihan intensif bagi tenaga kerja.

Profesi ATLM berada di persimpangan antara tantangan dan peluang yang besar. Untuk mewujudkan visi layanan kesehatan yang berkualitas dan merata, semua pihak harus berkomitmen untuk memperkuat profesi ini. Dengan langkah-langkah strategis yang tepat, ATLM tidak hanya akan menjadi garda depan dalam diagnosis medis, tetapi juga menjadi tulang punggung sistem kesehatan yang kuat dan berkelanjutan.


Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image