Dari 500 Pelamar, 34 Terpilih: Kisah 45 Hari Petugas Cargo PT Pos Indonesia
Bisnis | 2026-06-02 15:18:50MAKKAH — Di balik tumpukan kardus berlabel “Pos Indonesia", ada 34 orang berseragam kombinasi merah biru tua, yang 45 hari nggak kenal waktu istirahat. Mereka petugas cargo PT Pos Indonesia. Tugasnya sederhana diucap, berat dijalani: mastiin “rindu” jamaah sampai ke rumah.
"Seleksi 500 vs 34: Nggak Semua Bisa Pakai Seragam Merah Biru"
Jadi petugas haji Pos Indonesia itu privilege. Dari 500 pelamar se-Indonesia, cuma 34 yang lolos. Seleksinya berlapis: tes administrasi, tes kemampuan, sampai tes online. Kerjasamanya langsung sama Kemenag dan 34+ asosiasi KBIHU/KBIH se-Indonesia.
“Yang daftar 500, kepilih 34. Saingannya ketat banget. Soalnya ini mengurus amanah orang,” kata salah satu petugas.
Selama 45 hari, mereka hidup di mess: gudang Jeddah, bandara, hotel jamaah, sampai call center pengaduan. Mitra utamanya KBIH/KBIHU. Minimal 1 petugas Pos handle 10-15 KBIH biar koordinasinya nggak buyar.
"Satu Rompi, Ribuan Kardus, Puluhan Hotel"
Contohnya Mas Agung. Sehari-hari dia staff pemasaran Kantor Pos Jakarta. Tapi 45 hari ini, beliau “naik pangkat” jadi penanggung jawab cargo untuk 17 hotel jamaah, dari Hotel 701 sampai 717 di area Misfalah Makkah.
Kerjanya mulai jam 9 pagi: keliling hotel, ngecek kardus jamaah yang udah di packing KBIH. Siang ngawal truk ke gudang konsolidasi Bandara King Abdulaziz Jeddah. Malam? Ngetik laporan + bales WhatsApp keluarga jamaah yang nanya “Pak, kardus ibu saya udah masuk manifest belum?”. Mas Agung meninggalkan istri dan 3 anak di Kedoya Jakarta, demikian pula mas Resnu meninggalkan istri seorang perawat dan 3 anak.
“Capek? Pasti. Tapi begitu denger jamaah bilang ‘Alhamdulillah, 3 bulan nunggu, akhirnya nyampe juga kardusnya utuh’, langsung lupa capeknya,” ujarnya sambil mengelap peluh yang mengalir.
“Senengnya Double: Dapat Umroh + Ngebantu Orang"
Hampir semua petugas bilang hal yang sama: senangnya double. Pertama, berkesempatan umroh di sela-sela kerja. Sholat Subuh di Masjidil Haram jadi “bayaran” paling mahal setelah begadang mengurus manifest.
Kedua, merasakan jadi bagian dari ibadah orang. Ada jamaah titip kardus isi sajadah buat masjid di kampung. Ada nenek-nenek nitip oleh2 buat anaknya yang sakit di Lombok. Ada bapak-bapak nangis di bandara karena kardusnya nyaris ketinggalan, terus dipelukin petugas Pos.
“Ngebantu orang nyelesaiin ibadahnya tuh nagih. Pengen tahun depan daftar lagi,” kata Mas Resnu, petugas dari Garut.
Harapan: “Pak, Tahun Depan Kami Juga Haji Ya?”
Di akhir masa tugas, para petugas ini punya 1 harapan yang sama, disampaikan lirih ("Sampaikan saja, mas. Harapan kan sama dengan doa" kata penulis) :
“Pak Menteri, Dirut... kami seneng banget bisa khidmah ke jamaah. Cuma, 45 hari ini kami cuma bisa umroh. Kami juga pengen ngerasain jadi jamaah haji. Biar doa kami di Arafah nggak cuma ‘Ya Allah lancarkan tugas saya’, tapi ‘Ya Allah panggil saya jadi tamuMu’.”
Harapan itu wajar. 45 hari ngurusin koper, kardus, dan air mata jamaah. Masa nggak kebagian giliran dipanggil jadi tamu Allah juga?
"Epilog: Baju Merah Biru yg Dilepas, Amanah Jalan Terus"
Hari ke 45, baju merah biru dicopot. Koper kerja ditukar koper oleh-oleh. Mereka pulang ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan seluruh Indonesia, kembali jadi staff kantor lagi seperti biasa.
Tapi 34 orang ini pulang bawa cerita. Cerita tentang 500 vs 34. Cerita tentang kardus Makkah yang lebih berat dari kardus biasa. Cerita tentang Makkah yang ngajarin mereka: melayani jemaah = melayani tamu Allah.
Karena buat PT Pos Indonesia, mengantar kardus sampai alamat itu bukan cuma kerja logistik. Itu bagian dari doa: “Semoga sampai, semoga berkah, semoga mabrur.”
Terimakasih Pos Indonesia. Maju terus dan profesional
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
