Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Fazria Hastuty Dj Bagu

Pendidikan Agama Islam dan Teknologi Laboratorium Medis dalam Perspektif Risalah Islam Berkemajuan Muhammadiyah

Agama | 2025-12-29 15:30:45

By " Siti Fazria Hastuty Dj Bagu (Mahasiswa TLM UNIMUS)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan menuntut pendidikan tinggi untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral dan kesadaran etis. Tantangan ini menjadi semakin relevan dalam bidang Teknologi Laboratorium Medis (TLM), sebuah profesi yang berperan strategis dalam proses diagnosis, pencegahan, dan pengendalian penyakit. Dalam konteks keindonesiaan, integrasi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan sains laboratorium menemukan landasan ideologis yang kuat dalam Risalah Islam Berkemajuan Muhammadiyah.

Sejak awal berdiri, Muhammadiyah memandang Islam sebagai agama yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, rasionalitas, dan sosial kemanusiaan. Sains dan teknologi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang netral nilai, tetapi harus diarahkan untuk mewujudkan kemaslahatan umat dan keadilan sosial. Muhammadiyah menegaskan bahwa “Islam Berkemajuan adalah Islam yang mendorong kemajuan peradaban, memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berorientasi pada pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan kehidupan manusia” (PP Muhammadiyah, 2015, hlm. 23).

TLM UNIMUS

Dikotomi Agama dan Sains: Tantangan Pendidikan TLM

Salah satu persoalan mendasar pendidikan modern adalah masih kuatnya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sains. Ilmu agama sering dipahami sebagai wilayah normatif-spiritual, sementara sains diposisikan sebagai pengetahuan empiris yang dianggap bebas nilai. Pemisahan ini berdampak serius dalam pendidikan kesehatan, termasuk TLM, karena praktik laboratorium selalu bersentuhan langsung dengan keselamatan dan kehidupan manusia.

Hidayat dan Suryana (2018) menegaskan bahwa “dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum telah menyebabkan peserta didik kehilangan perspektif holistik dalam memahami realitas kehidupan” (hlm. 282). Akibatnya, lulusan pendidikan tinggi sering kali unggul secara teknis, tetapi lemah dalam sensitivitas etika dan tanggung jawab sosial.

Dalam praktik laboratorium medis, setiap tahapan—mulai dari pengambilan spesimen, proses analisis, hingga pelaporan hasil—memiliki implikasi klinis dan moral. Karena itu, sains laboratorium sejatinya tidak pernah bebas nilai.

Urgensi Integrasi Pendidikan Agama Islam dan TLM

Tenaga Teknologi Laboratorium Medis merupakan garda penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Akurasi hasil pemeriksaan laboratorium sangat menentukan keputusan klinis dokter. Kesalahan kecil dapat berdampak besar, bahkan fatal. Oleh sebab itu, kompetensi teknis harus berjalan seiring dengan etika dan kesadaran moral.

Penelitian internasional menunjukkan bahwa pendidikan etika berpengaruh signifikan terhadap profesionalisme tenaga laboratorium. Amin, Khatun, dan Rahman (2022) menyatakan bahwa “ethical training improves laboratory professionals’ awareness and decision-making in clinical practice” (p. 168). Temuan ini menegaskan bahwa penguasaan teknologi tanpa fondasi etika justru berisiko menurunkan kualitas layanan kesehatan.

Dalam perspektif Islam, profesi kesehatan dipandang sebagai amanah kemanusiaan. Prinsip menjaga kehidupan (ḥifẓ al-nafs) merupakan tujuan utama syariat. Oleh karena itu, pendidikan TLM harus menanamkan kesadaran bahwa kerja laboratorium bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial.

Islam Berkemajuan sebagai Kerangka Integrasi

Islam tidak memisahkan antara wahyu dan akal. Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa kemajuan sains justru lahir dari semangat keimanan. Dalam konteks ini, integrasi agama dan sains bukan mencampuradukkan metodologi, melainkan menyatukan orientasi nilai.

Nata (2020) menegaskan bahwa integrasi Islam dan ilmu pengetahuan bertujuan “membangun paradigma keilmuan yang berbasis tauhid, di mana ilmu tidak hanya dinilai dari aspek kegunaan, tetapi juga dari dimensi moral dan kemanusiaannya” (hlm. 45). Zarkasyi (2015) juga menekankan bahwa worldview Islam memandang ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memakmurkan kehidupan manusia.

Dalam Risalah Islam Berkemajuan ditegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan nilai etik dan spiritual. Ilmu tidak boleh berhenti pada capaian teknis, tetapi harus menghadirkan keadaban. Prinsip ini sangat relevan bagi pendidikan TLM yang menuntut ketelitian ilmiah sekaligus kejujuran, tanggung jawab, dan empati.

Muhammadiyah, Pendidikan Tinggi Kesehatan, dan TLM

Sebagai organisasi Islam modern, Muhammadiyah memiliki jaringan perguruan tinggi dan rumah sakit yang luas di bidang kesehatan. Perguruan tinggi Muhammadiyah yang membuka program studi TLM memiliki posisi strategis untuk menjadi model integrasi Pendidikan Agama Islam dan sains laboratorium.

Muhammadiyah menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus “mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan nilai-nilai Islam, serta diabdikan bagi kemajuan dan kesejahteraan umat manusia” (PP Muhammadiyah, 2012, hlm. 7). Prinsip ini menegaskan bahwa lulusan TLM Muhammadiyah tidak hanya dituntut kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki orientasi pengabdian dan kepedulian sosial.

Model Integrasi dalam Kurikulum TLM

Integrasi Pendidikan Agama Islam dan sains TLM dapat diwujudkan melalui beberapa pendekatan. Pertama, pembelajaran etika profesi berbasis studi kasus laboratorium. Rahmawati, Susanto, dan Lestari (2021) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kasus mampu meningkatkan kesadaran etis mahasiswa kesehatan secara signifikan (hlm. 52).

Kedua, refleksi etis dalam praktikum laboratorium. Bebeau dan Monson (2018) menegaskan bahwa “guided ethical reflection strengthens professional identity among health students” (p. 68). Ketiga, pendekatan interdisipliner melalui kolaborasi dosen agama, etika profesi, dan dosen laboratorium (Sutrisno & Ma’arif, 2019).

Manfaat dan Penutup

Integrasi Pendidikan Agama Islam dan Teknologi Laboratorium Medis dalam perspektif Risalah Islam Berkemajuan Muhammadiyah akan melahirkan tenaga laboratorium medis yang unggul secara ilmiah, kuat secara moral, dan berorientasi pada kemanusiaan. Pasien memperoleh layanan yang akurat sekaligus manusiawi, sementara institusi kesehatan mendapatkan profesional yang dapat dipercaya secara ilmiah dan etis.

Pendidikan TLM di era modern membutuhkan paradigma integratif. Pendidikan agama dan sains harus berjalan seiring, saling menguatkan, dan saling memberi makna. Inilah arah pendidikan kesehatan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memuliakan kehidupan manusia.

Daftar Referensi

Amin, M., Khatun, R., & Rahman, S. (2022). Ethical challenges and professional responsibility in medical laboratory practice. Journal of Medical Ethics, 48(3), 165–171. https://doi.org/10.1136/medethics-2021-107456

Bebeau, M. J., & Monson, V. E. (2018). Guided reflection on ethical decision making: A tool for professional identity formation. Journal of Moral Education, 47(1), 61–75. https://doi.org/10.1080/03057240.2017.1399421

Cruess, R. L., Cruess, S. R., & Steinert, Y. (2019). Supporting the development of a professional identity: General principles. Medical Teacher, 41(6), 641–649. https://doi.org/10.1080/0142159X.2018.1536260

Hidayat, T., & Suryana, T. (2018). Integrasi keilmuan dalam pendidikan Islam: Upaya mengatasi dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Jurnal Pendidikan Islam, 7(2), 279–296. https://doi.org/10.14421/jpi.2018.72.279-296

Ma’arif, A. S. (2017). Islam dan masalah keindonesiaan. Yogyakarta: Mizan.

Nata, A. (2020). Islam dan ilmu pengetahuan: Integrasi epistemologis dan aksiologis. Jakarta: Prenada Media Group.

PP Muhammadiyah. (2010). Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

PP Muhammadiyah. (2012). Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

PP Muhammadiyah. (2015). Risalah Islam Berkemajuan: Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Rahmawati, I., Susanto, H., & Lestari, D. (2021). Pembelajaran etika profesi berbasis studi kasus pada mahasiswa kesehatan. Jurnal Pendidikan Kesehatan Indonesia, 9(1), 45–56. https://doi.org/10.7454/jpki.v9i1.4321

Sutrisno, F., & Ma’arif, S. (2019). Paradigma integrasi Islam dan sains dalam pendidikan tinggi kesehatan. Qalamuna: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama, 11(2), 123–138. https://doi.org/10.37680/qalamuna.v11i2.4102

World Health Organization. (2020). Laboratory biosafety manual (4th ed.). Geneva: WHO Press. https://www.who.int/publications/i/item/9789240011311

Zarkasyi, H. F. (2015). Worldview Islam dan integrasi ilmu pengetahuan. Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam, 11(1), 1–22. https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v11i1.252

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image