Perkembangan Islam di Tanah Betawi
Sejarah | 2023-12-04 22:16:43
Perkembangan Islam di Tanah Betawi
Islam merupakan agama yang lahir di abad ke-7 Masehi di Arab, telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan sepanjang sejarahnya. Dengan lebih dari 1.8 miliar penganut di seluruh dunia pada saat penulisan, Islam tidak hanya merupakan agama utama bagi sebagian besar populasi di Timur Tengah, tetapi juga telah menyebar ke berbagai belahan dunia, dan salah satunya islam telah menyebar pesat di Indonesia, salah satunya di tanah Betawi.
Betawi merupakan sekelompok orang yang bermukim di daerah Jakarta, bogor, dan sekitarnya. Selain itu kelompok ini muncul dikarenakan adanya suku suku yang bermukim di Batavia (jakarta), dan Perlu diketahui juga bahwasanya suku Betawi merupakan salah satu suku di indonesia yang sangat terkenal dengan identitas keislamanya, dan identitas agama bercampur baur dengan indentitas kesukuanya.[1]
Apabila ditarik garis Sejarah, perkembangan islam di Tanah Betawi sudah muncul ketika nusa kelapa atau yang biasa disebut suda kelapa ditaklukan oleh Faletehan.[2] Menurut de Barros seorang sejarawan portugis menyebutkan bahwa pada abad ke 16 penduduk sunda kelapa pada saat itu terdiri dari 2000 kepala keluarga, dan tempat tersebut di ditempat tinggali oleh beberapa suku bangsa, diantaranya Sunda, Jawa, Arab, Cina, Bugis, dan Melayu, dan menurut Ridwan saidi keberadaan suku Betawi mulai muncul ketika itu.[3]
Perlu diketahui bahwasanya penyerangan Faletehan terhadap Nusa Kelapa bukan dikarenakan Agama, hal tersebut dilakukan oleh Faletehan disebabkan oleh sistem Monopoli yang dilakukan Oleh Portugis, yang Dimana sistem monopoli ini menjadi hal yang merugikan bagi pedagang muslim, setelah menaklukan Nusa Kelapa Faletehan mengganti Namanya dengan Jayakarta ( Kota Kemenangan ) sebagai tanda kemenangan Faletehan.
Banyak yang mengatakan bahwa Pada kemenangan ini kata Jayakarta (Kota Kemenangan) yang diambil Oleh Faletehan itu terinspirasi dari Al Quran yang ketika Nabi Muhammad Menakhlukan Kota Makkah sebagai Kemenangan yang nyata, kemenangan ini merupakan salah satu Faktor dalam proses islamisasi ke pedalaman sunda yang masih menganut Hindu, Budha, dan Aimisme serta dinamisme.
Falatehan merupakan orang yang telah menaklukan Sunda Kelapa, akan tetapi banyak pendapat mengenai siapakah sesungguhnya Faletehan ini, ada yang berpendapat bahwa ialah sunan gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, namun pendapat lain mengatakan bahwa ia Fadillah Khan, seorang panglima yang berasal dari India yang menikah dengan puteri Raden Fata.
Sejak Abad 16 jayakarta masuk dalam kesultanan Banten yang di pimpin oleh Tubagus Angke, setelah ia wafat digantikan oleh Putrana Pangeran Wijayakrama, dari sini diketahui bahwa penyebaran islam sudah tersebar ke Tanah Betawi, hal itu busa dibuktikan dengan adanya Masjid Angke ayng menjadi pusat islam ketika saat itu , yang telah dibuat oleh Tubagus Angke.
Akan tetapai setelah beberapa saat pangeran Wijayakram kalah dalam peperangan melawan Belanda, hal tersebut menyebabkan kaum muslim pindah ke jayakarta, dan mendirikan Jatinegara Kaum sebagai pusat penyebaran islam, dalam proses penyebaran islam disana melibatkan beberapa tokoh dan ulama Betawi yang disebut sebagai Guru, dari sinilah identitas Betawi dan islam menjadi dua hal yang berbeda namun sulit untuk dipisahkan.
Dari hal diatas Betawi dan islam merupakan dua identitas yang sangat kental, hal tersebut bisa terjadi dikarenakan kedua identitas tersebut berkembang secara bebarengan, sebagaimana kita temukan dari identitas Melayu yang sangat sulit dipisahkan dari identitas islam, hal itu bisa juga terjadi, dikarenakan islam yang notabenya sebagai agama menjadi faktor dominan yang penting dan telah memeberikan kontribusi besar dalam proses pembentukan identitas atau suku tersebut.
Namun menurut Ridwan Saidi, Betawi merupakan varian Melayu yang mendiami Nusa Kelapa jauh sebelum kedatangan Islam, Ini bisa dilihat dari kosakata Betawi yang juga mengandung unsur-unsur bahasa yang lebih tua.
Secara tidak langsung kemenangan Faletehan menjadi sebab terbesar dalam membentuk identitas Betawi, hal ini yang menjadikan perbedaan dari suku suku yang lainya seperti jawa dan sunda, apa yang membuat beda, yang membuat beda adalah suku Betawi terdiri dari dua unsur yaitu islam dan melayu, namun melayu disini budaya melayu yang sudah tercampur oleh budaya Sunda Kelapa.
Dengan adanya Belanda mereka melarang umat islam dalam membangun masjid dan merayakan upacara keislaman, namun dengan berkembannya islam pada saat itu larangan tersebut tidak berjalan efektif, sehingga pada abad 18 islam menjadi berkembang lebih pesat, hal tersebut ditandai oleh munculnya masjid masjid di daerah Jakarta (jayakarta) serperti masjid al-Mansur di Kampung Sawah didirikan pada 1717. Lalu disusul oleh Masjid Pekojan pada 1755, Masjid Sawah Besr 1761. Setiap kelompok etnik berupaya untuk memiliki masjid sendiri. Masjid Pekojan, misalnya, didirikan oleh orang Arab, Masjid Tambora didirikan oleh orang Sumbawa pada 1768, Masjid Kebon Jeruk didirikan oleh peranakan Cina Islam pada 1789.
Dikarenakan banyaknya jumlah masjid hal tersebut dibarengi dengan munculnya kegiatan pengajian yang dilaksanakan di masjid, dan jamaah dari pengajian tersebut dihadiri oleh jamaah yang bermacam macam kota, semakin terkenal penceramah dalam acara pengajian tersebut maka semakin banyak juga ja,aaah yang hadir.
Dengan maraknya perkembangan islam yang ditandai dakwah islam di Betawi, menjadikan para Belanda khawatir, dikarenakan keinginan Belanda dalam mendirikan Niewe Amsterdam Di Batavia kalah dengan perkembangan islam, hal tersebut juga di tandai oleh jangkauan wilayak dakwah islam yang berkembang cepat serta keberhasilan anak didik menjadi guru guru dakwah di daerah masing masing, dan pada akhir abad 19 dan awal abad 20 islam tumbuh dan berkembang di Tanah Betawi serta terciptanya pusat kegiatan islam di Betawi.
[1] ihat misalnya Yasmine Zaki Shahab, Identitas dan Otoritas: Rekon-struksi Tradisi Betawi.Jakarta: Laboratorium Antropologi UI, 2004; Lance Castles, Profil Etnik Jakarta.Jakarta: Komunitas Bambu, 2007
[2] laksamana Cirebon dan tokoh penyebar Islam yang dikenal karena memimpin penaklukan Sunda Kelapa pada tahun 1527 dan mengganti namanya menjadi Jayakarta
[3] bdul Aziz, Islam dan Masyarakat Betawi, op. cit. Ridwan Saidi, Sejarah Jakarta, op. cit.
Jahroni, J. (2016). Islamisasi Pantai Utara Jawa: Menelusuri Penyiaran Islam di Tanah Betawi. Jurnal Lektur Keagamaan, 14(2),
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
