Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Abdul Aziz, B.A., M.Pd., Gr

Islam Ala Santri

Agama | 2026-09-18 07:57:36
Santrivation untuk santri & negri | Dok. Pribadi penulis

Ada satu hal yang jarang disadari orang-orang di luar pesantren: bahwa cara santri memahami Islam itu unik. Bukan Islam yang rumit dengan istilah-istilah berat, bukan pula Islam yang hanya hidup di rak buku. Islam ala santri adalah Islam yang dijalani, Saya menyebutnya "Islam yang membumi". Sebab di pesantren, tauhid tidak hanya diajarkan di kelas, tapi juga terasa saat jauh dari orang tua dan hanya Allah tempat mengadu. Akhlak tidak hanya dihafal definisinya, tapi dibentuk lewat kebiasaan antre, berbagi kamar dengan puluhan orang, dan belajar menahan ego demi kebersamaan.

Kerinduan yang Menjadi Guru

Setiap santri punya kisah rindu rumahnya sendiri. Ada yang menangis diam-diam di sudut asrama, ada yang menulis surat yang tak pernah terkirim, ada pula yang justru menemukan bahwa rindu itu adalah jalan menuju kedewasaan. Homesick bukan kelemahan, ia adalah proses. Dari sanalah lahir disiplin, tanggung jawab, dan yang paling penting, kesabaran yang tidak bisa dibeli dengan uang. Perjalanan hidup semacam ini pula yang menjadi napas dari buku terbaru saya, Santrivation, yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi'i. Buku ini lahir dari kisah nyata: dari kampung kecil di Ciamis, melintasi mihrab masjid di Tokyo saat bertugas dakwah 90 hari di Jepang, hingga akhirnya duduk di bangku kuliah Universitas Islam Madinah. Di dalamnya saya menuliskan bagaimana rasa kehilangan sosok ibu di tengah masa mondok justru menjadi titik balik yang menguatkan azzam untuk terus menuntut ilmu.

Ketika Cita-Cita Menjadi Ibadah

Islam ala santri juga mengajarkan bahwa karier dan cita-cita bukan sekadar urusan dunia, ia adalah jalan ibadah. Seorang santri yang bercita-cita jadi guru, dokter, pengusaha, atau ulama, semuanya bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan dengan benar. Inilah salah satu pesan utama yang saya coba sampaikan lewat Santrivation: bahwa motivasi sejati bukan datang dari seminar-seminar motivasi biasa, tapi dari hadits dan teladan Nabi yang diramu ulang menjadi kebiasaan hidup.Alhamdulillah, buku ini mendapat kepercayaan besar. Kata pengantar ditulis langsung oleh KH. Cholil Nafis, Wakil Ketua MUI Pusat, dan mendapat testimoni dari sejumlah tokoh nasional seperti Dr. Hidayat Nurwahid, Ustadz Dr. Bachtiar Nasir, hingga penulis nasional Ahmad Rifai Rifan. Dukungan-dukungan ini semakin meneguhkan bahwa kisah sederhana seorang santri, jika dituliskan dengan jujur, bisa menjadi cermin bagi banyak orang; baik santri, alumni pesantren, maupun orang tua yang ingin memahami dunia anaknya.

Islam yang Dihidupi, Bukan Sekadar Dihafal

Pada akhirnya, "Islam ala santri" bukan istilah untuk mengeksklusifkan sesuatu. Ia adalah pengingat bahwa Islam paling indah justru terlihat dalam hal-hal kecil: antre sabar, rindu yang mendewasakan, dan mimpi yang diniatkan karena Allah. Semoga catatan kecil ini, dan juga Santrivation, bisa menjadi jembatan bagi siapa saja yang ingin belajar bagaimana menjalani hidup dengan cara pandang seorang santri: sederhana, tapi menghidupkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image