Keutamaan Malam Lailatul Qadar, Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Agama | 2026-09-17 17:45:23Pendahuluan
Al-Qur’an memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada Lailatul Qadar. Dalam Surah Al-Qadr ayat 1–5, Allah SWT menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam tersebut dan bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu pula para malaikat dan Ruh turun dengan izin Allah, sementara keselamatan berlangsung hingga terbit fajar.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar bagian dari rangkaian malam pada bulan Ramadan. Ia memiliki nilai spiritual yang sangat besar karena berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an serta menjadi momentum bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun, ada hal menarik yang sering terlewat. Banyak orang berusaha mencari Lailatul Qadar dengan memperhatikan tanda-tanda tertentu, tetapi justru lupa pada tujuan utamanya: meningkatkan kualitas ibadah. Rasulullah SAW tidak mengajarkan umatnya untuk hanya menunggu satu malam tertentu. Beliau justru menganjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya malam-malam ganjil.
Karena itu, memahami keutamaan Lailatul Qadar seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan kapan malam tersebut terjadi. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang Muslim memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Malam yang Lebih Baik daripada Seribu Bulan
Keutamaan paling utama Lailatul Qadar disebut secara langsung dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Jika dihitung secara sederhana, seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Angka tersebut menggambarkan betapa besar nilai yang diberikan kepada malam tersebut.
Akan tetapi, ayat tersebut tidak semestinya dipahami hanya sebagai persoalan perhitungan waktu. Nilai “lebih baik daripada seribu bulan” menunjukkan keistimewaan kualitas amal dan keberkahan yang terdapat pada malam tersebut. Penelitian Khoirurroziqin mengenai makna Lailatul Qadar dalam Surah Al-Qadr juga menjelaskan bahwa konsep tersebut memiliki dimensi makna yang lebih luas daripada sekadar ukuran waktu, termasuk keberkahan dan kedudukan khusus malam tersebut dalam Al-Qur’an.
Keistimewaan lainnya adalah turunnya para malaikat dan Ruh dengan izin Allah. Surah Al-Qadr menggambarkan malam tersebut sebagai malam yang penuh keselamatan hingga terbit fajar. Dengan demikian, Lailatul Qadar memiliki hubungan erat dengan ketenangan, keberkahan, dan kedekatan spiritual seorang hamba kepada Allah SWT.
Hal ini juga menjelaskan mengapa umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Kesempatan tersebut tidak hanya bernilai secara ritual, tetapi juga dapat menjadi momentum evaluasi diri setelah menjalani sebagian besar Ramadan.
Rasulullah SAW Menghidupkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
Teladan Rasulullah SAW menjadi salah satu dasar penting dalam memahami cara menyambut Lailatul Qadar. Dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah RA, ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW meningkatkan kesungguhannya dalam beribadah, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.
Rasulullah SAW juga melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan dan menganjurkan umat Islam untuk mencari Lailatul Qadar pada periode tersebut.
Hadis lain secara khusus menyebutkan agar Lailatul Qadar dicari pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan. Karena waktu pastinya tidak diberitahukan secara mutlak, seorang Muslim tidak seharusnya membatasi ibadah hanya pada satu malam.
Dalam konteks kehidupan modern, sikap tersebut memiliki pesan yang cukup relevan. Kesungguhan dalam beribadah membutuhkan konsistensi, bukan sekadar mengandalkan satu kesempatan. Mencari Lailatul Qadar berarti bersedia meningkatkan kualitas ibadah pada beberapa malam sekaligus, meskipun seseorang tidak mengetahui dengan pasti malam mana yang menjadi Lailatul Qadar.
Penelitian mengenai praktik keagamaan masyarakat pada malam-malam akhir Ramadan juga menunjukkan bahwa meningkatnya aktivitas keagamaan tidak hanya berkaitan dengan ibadah individual. Sebuah penelitian tahun 2025 mengenai jamaah Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya menemukan bahwa religiusitas berpengaruh signifikan terhadap keputusan masyarakat untuk berkunjung pada malam ganjil akhir Ramadan.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pencarian Lailatul Qadar juga dapat membentuk kehidupan keagamaan secara kolektif. Masjid menjadi ruang untuk salat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan membangun kebersamaan.
Memohon Ampunan dan Memperbaiki Diri
Salah satu doa yang sangat dikenal berkaitan dengan Lailatul Qadar adalah doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Aisyah RA. Ketika Aisyah bertanya apa yang harus dibaca apabila bertemu Lailatul Qadar, Rasulullah SAW mengajarkan:
Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni.
Artinya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Doa tersebut menarik karena inti permohonannya adalah ampunan. Ini menunjukkan bahwa mengejar Lailatul Qadar tidak seharusnya hanya dipahami sebagai usaha memperoleh pahala sebanyak-banyaknya. Ada proses spiritual yang lebih mendasar, yaitu mengakui kesalahan, memohon ampun, dan memiliki keinginan untuk memperbaiki diri.
Kementerian Agama juga menekankan beberapa bentuk ibadah yang dapat dilakukan untuk menghidupkan Lailatul Qadar, seperti salat malam, membaca dan mentadaburi Al-Qur’an, memperbanyak doa serta istighfar, dan melakukan i’tikaf.
Dengan demikian, seseorang tidak harus menunggu mengalami tanda tertentu untuk mulai beribadah. Membaca Al-Qur’an, salat malam, berzikir, berdoa, bersedekah, meminta maaf kepada orang lain, dan meninggalkan kebiasaan buruk merupakan bentuk konkret dari upaya memperbaiki diri.
Penelitian tahun 2026 tentang kegiatan dzikir dalam menyambut Lailatul Qadar juga menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan bersama dapat berperan dalam membangun kecintaan kepada Allah sekaligus kesadaran sosial dalam komunitas.
Pada akhirnya, keberhasilan menghidupkan Lailatul Qadar tidak hanya terlihat dari berapa lama seseorang berada di masjid atau berapa banyak ibadah yang dilakukan pada malam hari. Perubahan perilaku setelah Ramadan juga menjadi bagian penting dari makna spiritualnya.
Penutup
Lailatul Qadar merupakan salah satu malam paling istimewa dalam Islam. Al-Qur’an menyebutnya lebih baik daripada seribu bulan, sementara hadis Nabi Muhammad SAW mengarahkan umat Islam untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam-malam ganjil.
Keutamaannya bukan alasan untuk sekadar mengejar satu malam, melainkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT. Rasulullah SAW memberikan contoh dengan meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir, menghidupkan malam, membangunkan keluarga, dan melakukan i’tikaf.
Karena waktu pastinya tidak diketahui secara mutlak, sikap yang lebih tepat adalah menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan kemampuan masing-masing. Salat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, beristighfar, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama dapat menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.
Lebih dari itu, doa yang diajarkan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa inti dari Lailatul Qadar adalah memohon ampunan. Kemuliaan malam tersebut semestinya melahirkan perubahan dalam diri, bukan berhenti ketika Ramadan berakhir.
Dengan demikian, Lailatul Qadar dapat dipandang sebagai momentum untuk kembali kepada Allah SWT dengan hati yang lebih bersih, kesadaran yang lebih kuat, dan komitmen untuk menjalani kehidupan dengan nilai-nilai yang lebih baik.
Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Qadr ayat 1–5, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Kementerian Agama RI.
- Shahih Al-Bukhari, Hadis No. 2014, tentang keutamaan salat pada malam Lailatul Qadar.
- Shahih Al-Bukhari, Hadis No. 2017, tentang mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil sepuluh malam terakhir Ramadan.
- Shahih Al-Bukhari, Hadis No. 2020, tentang Rasulullah SAW mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir.
- Shahih Al-Bukhari, Hadis No. 2021, tentang mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
- Majelis Ulama Indonesia, “Doa saat Berjumpa Malam Lailatul Qadar, Lengkap dengan Artinya,” 2026.
- Majelis Ulama Indonesia, “Ingin Meraih Lailatul Qadar di Tahun 2026? Begini Petunjuk Para Ulama,” 2026.
- Kementerian Agama RI Kantor Wilayah Provinsi Bali, “Mengejar Lailatul Qadar: Ikhtiar Spiritual Menuju Kemuliaan Malam Seribu Bulan,” 2026.
- NU Online, “Doa Malam Lailatul Qadar, Lengkap dengan Latin dan Terjemahnya,” 2025.
- Khoirurroziqin, “Makna Lailatul Qadar dalam Al-Qur’an; Analisis Semiotika Roland Barthes,” Al-Kamal: Jurnal Kajian Islam, Vol. 3 No. 1, 2023.
- Amrullah, A., Surahmah, S., & Sholichah, L. F., “Pengaruh Aksesibilitas dan Religiusitas terhadap Keputusan Berkunjung pada Malam Ganjil Akhir Ramadan di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya,” PESHUM, Vol. 4 No. 4, 2025.
- Mahyani, A. & Supiana, “Cultivating Divine Love via Lailat al-Qadr: Insights from Mosque Dhikr Gatherings,” International Journal of Nusantara Islam, Vol. 14 No. 1, 2026.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
