Pandemi, Ikhtiar Nalar Spiritual Guru Tahan Uji
Guru Menulis | 2021-10-10 22:35:25
Pandemi virus Corona atau COVID-19 di seluruh daerah di Indonesia tentu menjadi keprihatinan bersama. Ikhtiar terus dilakukan di semua level pemerintah baik pusat hingga daerah guna mencegah dan meminimalisir penularan virus asal Wuhan, Tiongkok ini.
Dampak besar pandemi Corona secepat kilat terasa di semua level kehidupan, tak terkecuali dunia pendidikan. Pemerintah memutuskan menggalakkan Social Distancing dengan memunculkan konsep bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Di dunia pendidikan, seluruh jenjang pendidikan baik TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga level Perguruan Tinggi diharuskan belajar di rumah dalam batas waktu tertentu. Guru pun diwajibkan bekerja cerdas dengan menerapkan pembelajaran daring atau online dengan memanfaatkan semua media yang ada, agar tetap memastikan peserta didik belajar dari rumah. Tentu dengan tugas-tugas yang tidak memberatkan. Pembelajaran juga disisipi dengan materi-materi edukasi tentang pentingnya pola hidup sehat hingga pengetahuan tentang virus Corona atau COVID-19 dan cara pencegahannya.
Di level Sekolah Dasar (SD) misalnya. Peran Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI dan BP) sangat penting untuk memastikan peserta didik belajar di rumah dengan tenang. Massifnya pemberitaan tentang COVID-19 di semua media massa lokal, nasional hingga dunia tentu sangat berpengaruh terhadap psikis masyarakat, khususnya peserta didik kita.
Ikhtiar nalar-spiritual menjadi agenda wajib guru, khususnya guru PAI dan BP. Baik langsung dan tidak langsung, mereka harus mampu menjadi agen trauma healing anak didiknya di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19 yang berimbas langsung di semua sendi kehidupan. Tujuannya untuk menaikkan psikologi peserta didik serta meningkatkan kepercayaan diri mereka di masa social distancing.
Ikhtiar nalar tersebut sebenarnya masih terus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan imunitas masyarakat di tengah pandemi saat ini. Salah satunya penerapan 5 M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilitas). Pelbagai program edukasi terkait pentingnya melakukan protokol kesehatan juga terus digalakkan. Teranyar adalah program vaksinasi yang menyasar seluruh elemen masyarakat, baik di lingkup pemerintahan, perkantoran, pasar, hingga level pedesaan.
Guru agama di sekolah dasar, menengah hingga atas juga memiliki kewajiban yang sama untuk mengkolaborasikan gagasan pemerintah terkait vaksinasi, serta pentingnya 5 M dalam pembelajaran baik daring maupun tatap muka dengsn sistem blanded learning (50 persen siswa masuk kelas, 50 persen daring).
Dari sisi pembelajaran, guru PAI harus mampu merancang pembelajaran dengan menyasar sisi spiritualitas siswa. Tak hanya melulu memberikan soal online, tapi juga memastikan ibadah siswa secara baik. Melalui kolaborasi serta komunikasi aktif dengan orangtua, siswa diberikan tugas edukatif dengan mendokumentasikan kegiatan ibadah sehari-hari seperti; salat, wudhu hingga membantu orangtua membersihkan lingkungan tempat tinggalnya. Pun praktik protokol 5 M yang harus ketat dilakukan. Mereka juga diedukasi dengan membuat bio disinfektan yang murah dan aman untuk digunakan di tempat tinggal dan rumah ibadah di sekitar tempat tinggalnya.
Selaku guru agama juga tak henti-hentinya mengingatkan anak didik untuk melanggengkan ibadah wudhu. Karena membasuh tangan tiga kali dalam rukun wudhu baik bagi kesehatan. Di mana mencuci tangan selain dapat menghilangkan najis tapi juga menangkal berbagai virus yang melekat. Itu yang harus terus menerus kita yakinkan kepada anak didik kita sebagai bagian dari ikhtiar nalar-spiritual menghadapi pendemi Corona.
Paling penting guru juga mampu meyakinkan peserta didik bahwa dampak yang terjadi dari pandemi virus Corona jangan menjadikan kita semua merasakan ketakutan yang berlebihan. Tetapi sebagai bangsa beragama, kita masih punya Tuhan, Allah Swt. Dengan sifat Rahman Rahim-Nya, percayalah Allah Swt akan memberikan pelangi di setiap badai yang datang. Bencana akan dipulihkan, diperbaiki dan diperbaharui dengan semangat kebersamaan untuk melawan badai ini, kita pasti bisa melewatinya. Inilah wujud komitmen guru tanpa batas saat pandemi. Nashrun Min Allah wa Fathun Qarib (Pertolongan dari Allah dan Kemenangan yang dekat waktunya). Bersama kita bisa!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
