Wayang Intermedia dan Cermin Batin: Kisah Tentang Angan-Angan dan Keinginan untuk Melawan
Agama | 2026-11-04 13:24:59
Wayang sejak lama dikenal sebagai media yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kehidupan. Kini wayang terus bergerak mengikuti zaman. Salah satunya lewat pertunjukan wayang intermedia, yaitu wayang yang bertemu dan berpadu dengan media-media lain dalam satu pementasan. Pertunjukan kali ini mengangkat tema yang dekat dengan banyak orang: perasaan ingin melawan yang masih berhenti sebatas angan-angan.
Tokoh yang Terjebak dalam Angan-Angan
Jendra Yudhistira Putra, salah satu dalang dalam pementasan ini, menjelaskan bahwa cerita yang dibawakan berpusat pada seorang tokoh yang gemar berangan-angan, tetapi di dalam dirinya sudah tumbuh keinginan untuk melawan.
“Kisah ini menceritakan seseorang yang gemar berangan-angan, tetapi di dalam dirinya sudah ada keinginan untuk melawan. Setiap kali pendapatnya tidak sejalan dengan pendapat orang lain, ia merasa ingin menentang, namun perlawanan itu masih sebatas bayangan di dalam pikirannya,” ujar Jendra.
Tokoh ini digambarkan sebagai pribadi yang tidak mudah menerima pendapat orang lain. Ketika pandangannya tidak sejalan dengan pandangan di sekitarnya, muncul dorongan dalam hatinya untuk menentang.
Namun, dorongan itu tidak langsung diwujudkan dalam tindakan. Tokoh ini lebih sering membayangkan perlawanan di dalam pikirannya. Ia menyusun jawaban, membayangkan situasi, dan membayangkan dirinya menghadapi pihak yang tidak sependapat. Semua itu berlangsung dalam ruang imajinasi, sementara di dunia nyata ia belum berani bergerak.
Intermedia: Menghadirkan Ruang Batin di Atas Panggung
Pendekatan intermedia memberi peluang bagi wayang untuk menampilkan hal yang sulit dilihat mata, yakni isi pikiran tokoh. Angan-angan, yang sifatnya tak kasatmata, bisa diwujudkan melalui perpaduan wayang dengan media lain sehingga penonton dapat “melihat” apa yang berkecamuk di dalam kepala sang tokoh.
Pilihan ini terasa selaras dengan ceritanya. Kisah tentang dunia batin membutuhkan bahasa pertunjukan yang mampu memperlihatkan lapisan antara kenyataan dan bayangan, antara apa yang diucapkan dan apa yang hanya dipikirkan.
Pergulatan antara Keinginan dan Keberanian
Konflik utama cerita ini terletak pada jarak antara apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan. Di satu sisi, ada hasrat untuk melawan ketidakcocokan yang ia temui. Di sisi lain, ada kecenderungan untuk menahan diri dan bertahan dalam angan-angan.
Pergulatan semacam ini terasa akrab. Banyak orang pernah memiliki pendapat berbeda, ingin menyampaikannya dengan lantang, tetapi akhirnya memilih diam. Karena itu lakon ini dapat menjadi cermin bagi penonton untuk mengenali sisi dirinya sendiri melalui tokoh yang dipentaskan.
Wayang yang Terus Relevan
Dengan mengangkat kisah yang sangat manusiawi dan mengemasnya secara intermedia, pementasan ini menunjukkan bahwa wayang tetap relevan untuk menyuarakan persoalan masa kini. Yang dihadirkan bukan lagi sekadar pertarungan kebaikan dan kejahatan, melainkan konflik batin seseorang yang bergulat dengan dirinya sendiri.
Melalui tokoh yang berangan-angan namun ingin melawan, penonton diajak merenungkan pertanyaan sederhana tetapi mendalam: apakah sebuah keinginan cukup berhenti di dalam pikiran, atau perlu diwujudkan dengan langkah nyata? Pertanyaan itu dibiarkan terbuka agar setiap penonton menjawabnya sesuai pengalamannya.
Pementasan wayang intermedia ini menawarkan cerita yang sederhana namun dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kisah tentang orang yang berangan-angan sekaligus ingin melawan menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki pergulatan batinnya sendiri. Lewat panggung wayang yang berpadu dengan media lain, pergulatan itu diterjemahkan menjadi tontonan yang tidak hanya dinikmati, tetapi juga direnungkan.
Oleh:
Risqi Dwi Natasya Seran 261481030
Meidina Karin Tsalis 261481045
Prodi Film dan Televisi, Kampus ISI Surakarta.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
