Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jihan Alifah

Derita Mahasiswa IT: Bukan Dukun Hacker, Apalagi Tukang Servis Elektronik Keliling

Teknologi | 2026-11-04 17:24:33

Menjadi mahasiswa Teknik Informatika (TI) ternyata punya tantangan tersendiri yang tidak diajarkan di dalam silabus perkuliahan. Tantangan terbesar itu bukanlah memahami rumitnya teori graf atau bahasa pemrograman tingkat rendah, melainkan... menghadapi ekspektasi orang-orang di sekitar kita.

Begitu status "mahasiswa Teknik Informatika" disematkan, seketika itu juga CV tidak resmi kita langsung berubah di mata keluarga dan tetangga. Kita bukan lagi dianggap sebagai mahasiswa yang sedang belajar ilmu komputer, melainkan ditahtakan sebagai lulusan serba bisa yang menguasai seluruh spektrum teknologi semesta.

Mitos vs Realitas di Mata Keluarga

Di mata orang tua dan sanak saudara, anak TI itu punya kekuatan magis. Realitanya? Jauh banget dari ekspektasi.

 

  1. "Tolong Benerin Printer/Kulkas/Mesin Cuci Dong" Ini adalah ujian kesabaran tingkat nasional. Begitu ada perangkat elektronik di rumah yang rusak—mulai dari remote TV, blender, sampai printer yang macet—nama kita langsung dipanggil. Padahal, kurikulum kita isinya logika algoritma, jaringan komputer, dan rekayasa perangkat lunak, bukan workshop perbengkelan elektronik rumah tangga. Jawabannya pun klasik: "Maur, aku anak IT, bukan tukang servis..." tapi akhirnya tetap disuruh ngecek kabel juga.
  2. "Katanya Anak IT, Coba Bobol Akun IG Mantan" Permintaan legendaris dari teman tongkrongan. Banyak yang mengira kuliah informatika itu isinya 4 tahun belajar cara jadi hacker profesional yang bisa membobol sandi apa saja hanya dalam tiga detik pakai terminal hitam penuh teks hijau ala film Hollywood. Padahal, dosen baru ngajarin dasar looping aja kepala udah mau pecah.
  3. "Nanti Lulus Pasti Kerjanya Duduk Doang Sambil Ngoding Terus Gaji Dollar" Enak ya kalau segampang itu. Padahal kenyataannya di semester 3 ini, duduk berjam-jam di depan laptop itu bukan buat pamer kekayaan, tapi karena panik nyari titik koma (;) yang hilang di baris ke-250 yang bikin program gagal jalan.

Menikmati Proses Menjadi "Kuli Keyboard"

Di balik segala salah paham dan momen-momen bikin senyum ketir itu, ada kebanggaan tersendiri jadi anak TI. Kita dilatih untuk berpikir runtut, memecahkan masalah langkah demi langkah, dan tidak mudah menyerah saat menghadapi jalan buntu.

Meskipun saat ini kita masih berada di fase semester 3—di mana tugas makin menumpuk dan kopi jadi kebutuhan primer—setidaknya kita tahu bahwa apa yang kita pelajari hari ini adalah fondasi untuk membangun masa depan digital.

Jadi, buat kamu para mahasiswa TI yang habis dimintai tolong benerin laptop tetangga atau ngurusin WiFi yang lemot: tetaplah tersenyum dan nikmati peranmu. Toh, suatu saat nanti, kita memang bakal jadi orang-orang di balik layar yang bikin sistem dunia ini tetap berjalan (meskipun sekarang masih sering stres sendiri karena error).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image