Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Assyifa Safitri 26011102813

Kamu Dilarang Tone Deaf

Politik | 2026-11-04 16:53:38

Suara yang tak 'terdengar' bukanlah karena telinga tak mampu menangkapnya, melainkan karena ruang kepala dan hati selalu sibuk bercakap - cakap sendiri. Hal apa yang menyita pikiran dan perasaanmu, sampai suara orang di sekitar tak terdengar? Mendengarkan dengan empati adalah keterampilan kunci dalam membangun hubungan dan menanamkan empati. Ini melibatkan memberikan perhatian penuh kepada orang lain, memahami apa yang mereka katakan dengan baik, serta meluangkan waktu untuk mendengarkan tanpa menghakimi atau mencari solusi.

Namun saat ini beragam tingkah laku manusia yang merusak empati misalnya dengan menutup telinga atau disebut dengan nada tuli, yang juga bisa terjadi karena adanya hak istimewa. Lalu apa itu nada tuli dan keistimewaan? Istilah keistimewaan (hak istimewa) dan nada tuli (tuli nada atau ketidakpekaan sosial) semakin sering muncul dalam perbincangan publik dan media sosial di Indonesia. Hak istimewa berarti keuntungan yang dimiliki seseorang sejak lahir atau karena posisi sosialekonominya.

Sementara itu, melansir Hearview, istilah nada tuli dalam percakapan modern digunakan untuk menggambarkan komentar atau tindakan yang dianggap tidak peka terhadap situasi maupun perasaan orang lain. Masalah ketidakpekaan publik ini muncul lagi setelah berbagai masalah komunikasi dari pejabat publik, politisi, dan tokoh publik. Saat masyarakat terbebani dengan masalah ekonomi, perhatian tertuju pada gaya hidup mewah, pernyataan santai tanpa rasa empati saat menghadapi krisis, dan tindakan sebagian elit yang dianggap kemewahan atau hak istimewa mereka.

Perbedaan besar dengan penderitaan masyarakat dan perayaan para elit, ini menimbulkan banyak kritik dari masyarakat yang menganggap pemilik – pemilik hak istimewa itu minim kepekaan. Padahal dalam penelitian berskala global yang diterbitkan di Journal of Cross-Cultural Psychology, para peneliti menguji lebih dari 104.000 partisipan di seluruh dunia untuk mengukur empati. Indonesia meraih skor 3,62, menempatkannya di posisi ke-21 dunia. Hal yang mengagumkan mengingat begitu beragamnya Indonesia. Fenomena nada tuli bukan sekadar salah bicara atau kesalahan komunikasi.

Dari sudut pandang sosiologis, ketidakpekaan ini muncul karena jurang kelas sosial yang lebar. Seperti yang diketahui sikap bahasa merupakan salah satu konsep penting dalam kajian sosiolinguistik yang menjelaskan hubungan antara bahasa dengan perilaku sosial penuturnya. Misalnya pejabat publik. Pada Peristiwa Kebakaran Karhutla sendiri contohnya. Masyarakat berteriak-teriak menekan pejabat bahwa mereka sangat menderita dan kesulitan. Asap tebal yang merenggut nyawa dan kerusakan di berbagai sektor kerap menghantui penderitaan korban bencana.

Tanggapan yang mereka peroleh malah Presiden melakukan kunjungan ke luar negeri hingga menolak bantuan dari pihak luar. Meski begitu, Prabowo memberikan alasan terkait hal tersebut dan akhirnya menerima bantuan dari pihak luar. Tetap saja begitu sulit, sebagian rakyat masih merasa kurangnya prioritas presiden terhadap rakyat, seolah–olah menutup mata akan penderitaan yang dialami masyarakat. Kasus lain, dari figur publik kita bisa melihat Maudy Ayunda, ia membahas pada kanal Youtube pribadinya yang berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News" .

Ia menyatakan bahwa banyak kabar yang terus memburuk kita perlu menjauh untuk menjaga kesehatan mental. Menurut saya informasi dan motivasi yang diberikan Maudy sendiri cukup dapat dipahami, hanya saja tidak sesuai dengan waktu dan situasi yang terjadi. Karena ketika seseorang sedang dalam kesulitan, jaminan yang diberikan secara langsung dapat terasa diremehkan. Apalagi melihat gaya hidup yang jauh dari kesulitan yang dihadapi kebanyakan masyarakat.

Memiliki hak istimewa sebenarnya bukan kesalahan moral. Tidak ada seorang pun yang dapat memilih mana atau dari keluarga mana mereka dilahirkan. Namun, memamerkan atau memakai hak istimewa tanpa menyadari situasi ketika lingkungan sekitar sedang mengalami krisis adalah kegagalan etika publik. Bagi pejabat publik dan influencer, setiap tindakan dan perkataan mempunyai dampak politik dan sosial yang besar.

Dalam suasana demokrasi digital, masyarakat semakin bisa menyuarakan rasa tidak adil. Kritik keras netizen terhadap narasi yang tidak peka sebenarnya adalah cara kontrol sosial untuk mengingatkan para elite agar tidak lepas dari kenyataan dan empati. Jika tidak disertai empati sosial yang mendalam, komunikasi publik hanya akan menjadi panggung komedi. Hal ini akan memperlebar ketimpangan sosial dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi kekuasaan.

Menurut saya penting untuk memahami apa yang diharapkan sebagai seorang manusia dan juga sebagai bagian dari suatu kelompok agar nantinya kita dapat memahami arti dari empati itu sendiri. Jangan biarkan rasa nyaman kita terhadap hak–hak yang kita dapatkan sehingga lupa bahwasanya kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Ayo dong jangan menutup telinga. Masalah di depan mata kita, mari saling merangkul. Masyarakat indonesia yang satu.












Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image