Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

Tak Cukup Sedekah

Ekonomi Syariah | 2026-11-03 20:25:14

Ketika kaum jelata sudah semakin sulit dan melata-lata hidupnya, kita yang mungkin masih termasuk golongan berkecukupan ataupun kaya, memang layak untuk peduli dan sedekah. Sebab kepedulian adalah tanda kemanusiaan yang baik hati. Sedangkan sedekah juga merupakan suatu ciri rasa syukur seorang hamba bertakwa kepada Allah Swt., tuhan pemberi rezeki.

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدࣱ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Namun, sedekah kepedulian itu tampak akan selalu sulit kita ulurkan pada kaum jelata yang makin meningkat jumlahnya. Apalagi di tengah masalah kebutuhan hidup yang makin mencekik sehingga membuat kantong-kantong keuangan kita juga terhimpit.

Menurut laporan data Bank Dunia tahun 2026 saja, angka kemiskinan penduduk Indonesia sudah mencapai 64,2%. Akibatnya, Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah ini, justru menempati posisi kemiskinan keempat dari sebelas negara Asean. (nasionalkontan.co.id, 31/08/2028)

Disamping itu, walaupun BPS(Badan Pusat Statistik) menyatakan bahwa angka kemiskinan Indonesia mengalami penurunan pada tahun 2026. Namun, disaat yang sama, tingkat kesenjangan belanja antara golongan perkotaan dan pedesaan juga diakui makin melebar. Sejak bulan Setember 2025 hingga Maret 2026, telah terjadi 0.005 poin ketimpangan. (finence.detik.com, 05/08/2026)

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah kita akan terus bersedekah agar kesulitan orang lain dapat terangkat dan kita sendiri mendapat tambahan rezeki dari Allah Swt.? Jika demikian, apakah niat bersedekah kita sudah murni dalam keikhlasan atau justru akan mendatangkan azab?

Pertanyaan-pertanyaan itu pasti perlu dijawab agar kita tidak salah berniat dan bertindak. Sebab jika kesalahan itu terjadi, maka dampak buruk dalam kehidupan di dunia akan menimpa dan kita juga harus bertanggungjawab dalam lahan neraka yang menyala-nyala.

*Memahami Makna dan Akar Masalah*

Pada dasarnya, jawaban tentang masalah tersebut harus dilakukan dalam dua hal. Pertama, menganalisa akar masalah kehidupan yang harus segera dibasmi agar kesulitan serupa tidak terulang lagi. Kedua, memahami makna dari kepedulian manusiawi dan rasa syukur murni agar kita juga tidak salah bertindak dalam hidup ini.

Adapun, terkait akar masalah kehidupan, sebenarnya bukan total atas nama ujian dari Allah Swt. yang harus senantiasa kita terima dengan sabar dan ikhlas. Namun, justru bisa berasal dari golongan manusia zalim yang harus segera kita hentikan.

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةࣲ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرࣲ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu, maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Lihat saja, ketika ideologi kapitalisme yang dianut oleh penguasa negara menggaung-gaungkan pajak sebagai dana pemasukan negara. Pada faktanya, hasil tarikan pajak itu malah membuat masyarakat, baik golongan kaya, menengah, maupun miskin makin tertekan.

Di samping itu, dalam metode politik kapitalisme yang memandang bahwa pemerintah hanya sebagai pihak administrasi negara, maka semua susunan kebijakannya sangat jauh dari target amanah. Misalnya, dalam amanah mengurusi urusan semua rakyatnya, negara malah terbukti lebih mengutamakan rakyat yang berstatus pengusaha. Ketika harga pasar dikendalikan oleh para pengusaha, negara hanya cenderung menjadi pengawas jual belinya. Bukan sebagai pengendali harga yang membuat saudagar beruntung dan masyarakat juga tidak terkatung-katung.

Selanjutnya, mengenai ulasan makna atas kepedulian, sesungguhnya adalah kondisi mental seseorang yang membuatnya mampu merasakan keadaan, pikiran, dan perasaan orang lain. Dengan begitu, ia akan serius berusaha membantu dan melindungi orang lain, karena ia dapat mengidentifikasikan kondisinya sama dengan orang itu.

Apabila orang lain sedang merasa kesulitan ekonomi, bantuannya tidak hanya berupa sedekah harta. Namun juga bisa berupa bantuan motivasi untuk meringankan beban perasaan, kehadiran fisik sebagai pembelaan dan pembuatan rencana penyelesaian masalah. Dengan kata lain, bentuk bantuan kepedulian sangatlah beragam.

Sementara itu, rasa syukur dalam Islam bukan hanya bermakna pujian ataupun ucapan terima kasih kepada sang pemberi rezeki, Allah Swt. Namun, lebih fokus sebagai bentuk ketaatan iman kepada-Nya. Sebab, segala rezeki yang Dia berikan adalah peluang bagi kita untuk menjalankan syari'at-Nya.

Sebagaimana Ibnu Qayyim yang menuturkan, “ Hakikat syukur adalah penghambaan diri kepada Allah Swt. Syukur akan tampak saat lisannya memuji dan mengakui. Dalam hatinya akan muncul kesadaran, kesaksian, dan kecintaan. Dalam anggota tubuhnya juga ada ketundukan dan ketaatan.”

Tak heran, rasa syukur atas limpahan harta yang Abdurahman bin Auf miliki dahulu kala, tidak hanya ia wujudkan dengan sedekah kepada kaum fakir miskin. Akan tetapi, ia rela banyak memberikannya untuk dana jihad melawan kedzaliman kaum kafir Quraisy. Lebih dari itu, ia juga sudah terbukti ikhlas menyedekahkan tenaganya dalam aktivitas dakwah dan jihad sebagai bentuk syukur atas rezeki kesehatan dan kecerdasannya.

*Peduli dan Syukur Sejati*

Oleh karena itu, dalam kondisi kehidupan yang penuh serangan berbahaya ini, kepedulian sejati bukan hanya rajin bersedekah harta yang sifatnya sementara. Sebab hal itu belum dapat menjamin kesulitan terangkat sempurna.

Diperlukan aksi nyata berupa pelenyapan akar masalah dan pengubahan sistematis negara menuju jalur kebenaran yang dilandasi Islam. Sebab, hanya dengan penerapan ajaran agama Islam, rasa syukur dan kepedulian bisa datang dari level individu hingga mencapai level pemerintahan.

Diantaranya seperti dalam hukum kemandirian pengelolaan kekayaan sumber daya alam yang telah Allah Swt. berikan dalam tanah negara, pemerintah akan sadar untuk bersyukur. Mereka akan mengelolanya secara mandiri tanpa tergiur tawaran investasi pengusaha kapitalis yang justru akan merebut hak kepemilikan umum tersebut.

Ajaran Islam menyangkut strategi pengalokasian dana Baitul Mal juga akan selalu membuat kepedulian negara tepat sasaran. Salah satunya seperti hukum alokasi dana gratis untuk fasilitas umum pendidikan dan kesehatan. Hal itu pasti akan membuat golongan kaya maupun miskin merasa tenang tanpa tekanan. Andaikan masalah keuangan datang, mungkin hanya mencakup urusan belanja keseharian yang tidak terlalu besar.

Kalaupun takdir Allah Swt. mengubah keadaan individu kaya bisa jatuh miskin dan individu miskin juga bisa naik menjadi kaya, mereka akan tetap mampu bersyukur dalam wujud ketaatan pada Allah Swt. Bukan menghabiskan waktu untuk mencari-cari harta.

Kesimpulannya, kepedulian dan kesyukuran sejati hanya melalui penerapan ideologi Islam secara menyeluruh. Sebab, individu akan terlatih ikhlas, negara juga akan selalu berusaha menciptakan lingkungan sosial kuat. Bukan menjauh dari rakyat. Dengan begitu, kemakmuran dan ketenangan hidup akan benar-benar terwujud.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image