Bullying Perlahan Memengaruhi Fokus Belajar Anak
Eduaksi | 2026-11-03 23:14:52Sella Surya Silani
Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya
sellasuryasilani@gmail.com
Dalam dunia pendidikan jika seorang anak mendapatkan nilai merah di hasil ulangan, sering kali dicap kurang belajar atau terlalu banyak bermain padahal dibalik penurunan nilai ini bisa jadi karena pikiran mereka tidak fokus, tidak tenang, atau tidak merasa aman untuk menyerap informasi yang diberikan. Secara keseluruhan mungkin jangkauan verbal dianggap sebagai candaan anak sekolah. Namun, bagi anak yang sering menghadapi kondisi ini secara terus menerus membuat mental mereka akan semakin drop atau turun. Mungkin bullying verbal ini tidak langsung menghancurkan nilai siswa secara langsung tetapi perlahan mempengaruhi fokus belajar anak.
Sayangnya sekarang zaman guru maupun orang tua kurang memperhatikan kondisi seorang anak. Mereka hanya fokus melihat hasil nilai ulangan atau rapor tanpa ingin tau apa yang dirasakan seorang anak. Orang tua dan guru harus mengenalkan apa itu bullying , macamnya apa, dampaknya apa. Peran guru dan orang tua sangatlah penting untuk mengajarkan, mencegah, dan mengatasi bullying. Banyak anak melakukan bullying tanpa disadari kepada sesamanya bahkan ke teman yang lebih lemah dari mereka.
(Macarau & Stevanus, 2022) mengatakan bahwa perlu dipahami oleh para orang tua bahwa yang terpenting bukanlah pada hasil atau pencapaian, melainkan proses pencapaian dan kesungguhan anak untuk mencapainya. Hindari komentar kritis yang akan menyertakan harga diri dan rasa percaya diri anak. Ada unsur lain yang tidak kalah pentingnya yang perlu dinilai orangtua yaitu pertumbuhan karakter, seperti kejujuran, keuletan, kerja keras, disiplin, tanggung jawab, dan sebagainya.
Sebagai contoh seperti yang diungkapkan oleh (Oktaviany & Ramadan, 2023) terjadinya tindakan bullying di SD Muhammadiyah 07 Terpadu paling banyak terjadi dalam bentuk ejek-ejekan nama orang tua, nama panggilan, ada juga siswa yang mengatakan najis dan menirukan bau badan, memukul siswa lain, dan berkelahi antar siswa. Bullying terjadi sebagai suatu bentuk tindakan untuk menunjukkan kekuasaan pelaku bullying, sakit hati, dan bercanda secara berlebihan.
Dampak dari bullying membuat siswa tidak percaya diri, khawatir dengan lingkungan, tidak nyaman bila dekat pelaku bullying , malu, marah, dan trauma. Siswa tidak percaya diri dalam menyampaikan pendapat ketika pembelajaran bahkan tidak percaya dengan kemampuan diri yang dimiliki oleh siswa. Mereka akan selalu menganggap dirinya seperti hinaan yang diterima maka dari itulah kepercayaan dirinya menurun atau merasa minder.
Anak yang tadinya memiliki prestasi yang baik atau paling tidak mereka bisa mengikuti pembelajaran jika tiba-tiba mengalami perubahan atau penurunan dalam belajar ini bisa jadi sebuah tanda. Melihat hal ini sebagai seorang guru harus memperhatikan kondisi apa ini yang menyebabkan penurunan dalam hal akademik. Apakah kondisi siswa ini mengalami bullying atau ada hal lain. Jika dibiarkan maka kondisi seorang anak akan semakin drop. Guru yang baik dalam dunia pendidikan tidak hanya mengajarkan teori tetapi harus bisa mengayomi siswanya dengan sifat mereka yang beragam agar siswanya memiliki perilaku yang baik dan tidak melakukan tindakan bullying.
Jika ada seorang anak yang mengalami bullying , guru yang perhatian bisa membantu dengan menunjukkan kepedulian, berusaha mengembalikan kepercayaan diri dan bagaimana cara mengatasi hal ini agar siswanya dapat termotivasi lagi dalam pembelajaran. Anak yang mengalami bullying biasanya tertutup dan tidak mau bercerita jadi sebagai guru dan orang tua harus bisa melakukan pendekatan. Sebagian besar anak mungkin sebenarnya hanya ingin mendengarkan tetapi karena dia takut dihakimi sehingga anak tidak ingin berkomunikasi atau mengungkapkan apa yang alami anak.
(Hertijung, 2013) mengungkapkan bahwa orangtua juga perlu mewaspadai kebiasaan anak-anak berbicara secara kasar atau tidak sopan agar tidak terbawa dalam keseharian anak ketika berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Berbagai bentuk perilaku negatif yang dilakukan atau dialami oleh anak baik berupa perkataan, sikap maupun perilaku, hendaknya perlu diwaspadai dan digali lebih lanjut agar intervensi secara dini dapat dilakukan sehingga tidak membawa dampak psikologis yang lebih berat.
(Najah et al., 2022) juga melakukan wawancara terhadap subjek. Guru dan siswa dalam mengkategorikan bentuk yang dilakukan siswa terhadap perilaku verbal bullying tersebut. Ketika melakukan wawancara, sekaligus melakukan pengamatan terhadap masing-masing pribadi siswa. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian terdapat siswa yang memiliki prestasi yang rendah dikelas, dia mendapatkan verbal bullying dengan rendahnya prestasi dikelas, tetapi faktor keluarga juga berpengaruh pada dirinya. Orang tua yang tegas mengakibatkan siswa tersebut semakin tertekan dengan pembelajaran karena kemampuan yang kurang.
Baik guru maupun orang tua memang yang lebih berpengalaman dan tidak ada salahnya jika menasehati tetapi sebaiknya melihat kondisi dan tidak langsung menghakimi jika seorang anak sedang mengungkapkan perasaan. Namun, banyak orang tua yang kurang memperhatikan anaknya karena kesibukannya dalam pekerjaan. Jadi hanya menganggap bullying verbal hanya candaan anak sekolah. Tapi jika anak sensitif terhadap candaan yang mencakup fisiknya bisa jadi tidak percaya diri dan menarik diri dari pertemanan.
Guru juga tidak hanya memperhatikan korban bullying saja tetapi pelaku bullying juga harus diperhatikan. Alasan anak melakukan bullying apakah karena melihat lingkungannya atau bahkan melihat orang tuanya yang selalu bertengkar. Biasanya anak-anak melakukan intimidasi untuk menutupi kondisinya yang tidak berdaya dan untuk melarikan diri agar terlihat bahwa dia kuat. Oleh karena itu, guru juga harus mencari tau apa karena dia melakukan bullying dan bagaimana memberi Arahan yang benar bahwa bullying adalah tindakan yang salah.
Menurut (Sestiani & Muhid, 2022) upaya peningkatan kepercayaan diri korban bullying dapat berasal dari lingkungan sosialnya yaitu dukungan sosial. Dukungan sosial dapat mempengaruhi kepercayaan diri korban bullying . Semakin tinggi dukungan sosial akan semakin besar kepercayaan korban pengganggu. Di sisi lain, semakin rendahnya dukungan sosial, semakin sedikit kepercayaan terhadap perilaku korban.
Hertunjung, WS (2013). Bentuk-Bentuk Perilaku Bullying Di Sekolah Dasar. Seminar Nasional Psikologi UMS 2013 - Parenting , 53 (9), 450–458. https://publikasiilmiah.ums.ac.id/handle/11617/3952
Macarau, VVV, & Stevanus, K. (2022). Peran Orangtua dalam Upaya Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Usia Dini. EDULEAD: Jurnal Pendidikan dan Kepemimpinan Kristen , 3 (2), 153–167. https://doi.org/10.47530/edulead.v3i2.113
Najah, N., Sumarwiyah, S., & Kuryanto, MS (2022). Verbal Bullying Siswa Sekolah Dasar dan pengaruhnya terhadap hasil belajar. Jurnal Educatio FKIP UNMA , 8 (3), 1184–1191. https://doi.org/10.31949/educatio.v8i3.3060
Oktaviany, D., & Ramadhan, ZH (2023). Analisis Dampak Bullying Terhadap Psikologi Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Educatio FKIP UNMA , 9 (3), 1245–1251. https://doi.org/10.31949/educatio.v9i3.5400
Sestiani, RA, & Muhid, A. (2022). Pentingnya Dukungan Sosial Terhadap Kepercayaan Diri Penyuntas Bullying: Tinjauan Pustaka. Jurnal Tematik , 3 (2), 245–251. https://journals.usm.ac.id/index.php/tematik/article/view/4568
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
