Pahami Dulu, Hitung Kemudian: Kebiasaan Berpikir yang Membuat Matematika Terasa Cepat
Edukasi | 2026-10-20 18:23:31Matematika Sering Ditakuti Sebelum Dipelajari
Tiga kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Indonesia menggambarkan masalah yang sama dari sudut berbeda. Adhiyati, Kumala, dan Heryani (2022) mencatat bahwa sebagian siswa menganggap matematika sulit karena identik dengan hitungan, angka, dan rumus. Anggapan ini dapat terbawa dari SD hingga jenjang berikutnya dan membuat siswa belajar hanya karena tuntutan sekolah, bukan karena rasa ingin tahu.
tutorlyft" />
Di daerah lereng Gunung Kelud, Blitar, Robby dkk. (2023) juga menemukan bahwa berhitung menjadi momok bagi sebagian anak. Mereka perlu berhadapan dengan berbagai operasi dasar, sementara minat belajar matematika di taman belajar yang mereka dampingi masih rendah. Sementara itu, dalam kegiatan di SMK Telkom 1 Medan, Simamora, Lubis, dan Rafidah (2024) mengawali kegiatan dengan menanyakan kesan siswa saat mendengar kata matematika. Banyak siswa menyebutnya sulit, membuat stres, atau menyeramkan.
Ketiga tulisan tersebut berasal dari kegiatan dan konteks yang berbeda, sehingga tidak berarti semua siswa mengalami hal yang sama. Namun, semuanya mengingatkan kita pada satu hal: pengalaman belajar dan cara pandang terhadap matematika ikut memengaruhi kesiapan siswa untuk mencoba. Jika sejak awal matematika dianggap menakutkan, soal yang sebenarnya bisa dipelajari selangkah demi selangkah pun dapat terasa lebih berat.
Cepat Bukan Berarti Sekadar Hafal
Adhiyati dkk. (2022) menekankan pentingnya memahami konsep dasar sebelum menghafal rumus. Gagasan ini sederhana, tetapi sering terlupakan ketika belajar hanya berorientasi pada jawaban akhir. Rumus memang dapat membantu, tetapi siswa juga perlu tahu apa arti rumus itu, kapan digunakan, dan mengapa langkah tertentu masuk akal.
Bayangkan sebuah kue yang dibagi menjadi beberapa bagian sama besar. Setengah kue dapat digambarkan sebagai dua potong berukuran seperempat. Dengan begitu, kita dapat memahami bahwa setengah kue terdiri dari dua bagian seperempat.
Contoh ini memperlihatkan bahwa pemahaman dapat dibangun melalui gambaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setelah maknanya dipahami, siswa lebih mudah menghubungkannya dengan simbol dan prosedur matematika. Mereka juga memiliki cara untuk memeriksa apakah jawaban yang diperoleh masuk akal.
Dari Hitung Cepat ke Pikir Tepat
Berhitung cepat tentu bermanfaat, tetapi kecepatan sebaiknya tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan belajar matematika. Siswa juga perlu mampu menjelaskan alasan, memilih strategi yang sesuai, dan memeriksa kembali hasilnya. Jawaban yang cepat tetapi tidak dipahami akan sulit diterapkan pada soal dengan konteks berbeda.
eslbrains" />
Salah satu cara membangun kebiasaan ini adalah memberi jeda sebelum menghitung. Baca soal sampai selesai, tandai informasi penting, lalu tanyakan: apa yang diketahui, apa yang diminta, dan hubungan apa yang mengaitkan keduanya? Setelah itu, pilih strategi, lakukan perhitungan, dan periksa apakah hasilnya masuk akal.
Untuk soal cerita, kebiasaan tersebut sangat penting. Siswa mungkin mampu melakukan operasi tambah, kurang, kali, atau bagi, tetapi masih bingung menentukan operasi yang tepat ketika informasi disajikan dalam bentuk narasi. Karena itu, guru dapat meminta siswa menceritakan kembali soal dengan kata-kata sendiri, menggambar situasi, membuat tabel sederhana, atau menjelaskan alasan memilih operasi tertentu sebelum mulai menghitung.
Memahami Soal Cerita: Jangan Langsung Menghitung
Ada alasan lain mengapa siswa bisa membutuhkan waktu lama saat mengerjakan matematika: kadang-kadang masalahnya bukan pada kemampuan berhitung, melainkan pada cara memahami cerita. Fithry, Bayu, Utami, dan Fitri (2026) meneliti lima siswa kelas V dan menganalisis kesalahan mereka menggunakan Newman Error Analysis. Kerangka ini membagi proses penyelesaian soal menjadi lima tahap: membaca soal, memahami informasi, mengubah cerita menjadi model atau operasi matematika, melakukan perhitungan, dan menuliskan jawaban akhir.
Dalam penelitian tersebut, kesalahan transformasi yakni kesulitan menentukan operasi hitung yang tepat dari cerita akan muncul pada empat dari lima siswa pada soal bilangan bulat. Contohnya, ada siswa yang menjumlahkan angka 7 dan 3 tanpa memperhatikan kata “mundur”, padahal kata itu mengubah arah penyelesaian. Temuan ini mengingatkan kita bahwa angka yang terlihat di soal tidak otomatis memberi tahu operasi yang harus digunakan. Kita perlu memahami hubungan antar-informasi terlebih dahulu.
Lima langkah sederhana sebelum menyerahkan jawaban bisa membantu: (1) baca soal dengan teliti; (2) ceritakan kembali maksud soal dengan kata-kata sendiri; (3) tentukan operasi atau model matematika yang sesuai; (4) hitung dengan cermat; dan (5) tulis jawaban lengkap beserta satuannya jika diperlukan. Jika kesalahan terjadi, periksa tahap mana yang belum tepat—bukan sekadar mengulang seluruh hitungan dari awal.
Latihan Berulang Lebih Kuat Saat Ada Teman yang Membantu
Latihan berulang tetap berguna, terutama untuk menguatkan fakta perkalian. Namun, latihan akan lebih terarah jika siswa mendapat kesempatan untuk saling memeriksa dan menjelaskan. Fatmawati dan Nafi’ah (2026) mengkaji metode drill yang dipadukan dengan tutor sebaya pada pembelajaran perkalian di kelas III sekolah dasar. Kegiatan dilakukan secara rutin pada awal pelajaran, sekitar 10–15 menit, melalui latihan berpasangan: siswa mengulang hafalan, bergantian menyimak, lalu mengoreksi jika ada jawaban yang keliru.
bbc.com" />
Artikel tersebut melaporkan bahwa setelah metode diterapkan secara rutin, sejumlah siswa mulai menjawab lebih cepat dan tepat, meskipun sebagian masih membutuhkan bantuan pada perkalian yang dianggap sulit. Siswa juga menyampaikan bahwa belajar bersama teman membantu mereka mengikuti contoh dan berlatih tanpa selalu menunggu guru. Karena penelitian ini merupakan studi kasus pada satu kelas, hasilnya tidak bisa langsung dianggap berlaku sama untuk semua sekolah. Meski begitu, praktik ini memberi contoh yang bisa dicoba dan dievaluasi sesuai kebutuhan kelas.
Kuncinya, tutor sebaya bukan berarti guru melepaskan tanggung jawab. Guru tetap perlu memasangkan siswa secara bijak, memastikan keduanya mendapat giliran, dan mengoreksi pemahaman yang keliru. Latihan berulang membantu membangun kelancaran, sementara diskusi dan koreksi langsung membantu siswa menyadari alasan di balik jawaban. Keduanya dapat saling melengkapi.
Menggabungkan Pemahaman, Latihan, dan Konteks
Dari dua penelitian tambahan ini, muncul pelajaran yang sejalan dengan gagasan utama artikel: belajar matematika membutuhkan lebih dari sekadar kecepatan. Pada soal cerita, siswa perlu memahami bahasa dan mengubahnya menjadi model matematika yang tepat. Pada perkalian dasar, latihan berulang dapat membantu membangun kelancaran, terlebih jika disertai dukungan teman dan arahan guru. Dengan demikian, strategi belajar sebaiknya disesuaikan dengan sumber kesulitan siswa, bukan disamaratakan.
Misalnya, jika siswa salah memilih operasi, guru dapat meminta mereka menggambar situasi atau menjelaskan kembali cerita. Jika siswa sudah memahami operasi tetapi masih lambat mengingat hasil perkalian, latihan singkat berulang dan pemeriksaan berpasangan bisa lebih sesuai. Jika jawaban hitungannya benar tetapi satuan atau kesimpulannya tidak lengkap, perhatian perlu diarahkan pada cara menuliskan jawaban akhir. Mengenali jenis kesalahan membuat bantuan belajar menjadi lebih tepat sasaran.
Liputan6" />
Latihan yang Menyenangkan Tetap Perlu Tujuan
Robby dkk. (2023) melaporkan bahwa kegiatan pelatihan berhitung cepat di taman belajar mitra di Blitar diikuti dengan antusiasme peserta yang mulai tumbuh dan kemampuan mengikuti arahan pengajar dengan baik. Sementara itu, Simamora dkk. (2024) menggabungkan demonstrasi dengan praktik langsung dan latihan menyelesaikan soal. Temuan dari kegiatan-kegiatan ini memberi gambaran bahwa suasana belajar yang aktif dapat menjadi salah satu cara untuk mengajak siswa terlibat.
Latihan rutin juga tetap penting. Namun, latihan tidak harus selalu berupa lembar soal panjang yang dikerjakan dalam diam. Guru dapat menggunakan kuis singkat, permainan pola bilangan, diskusi berpasangan, atau meminta siswa membandingkan dua cara penyelesaian. Setelah latihan, siswa perlu diajak membahas mengapa suatu cara berhasil dan kapan cara itu cocok digunakan.
Teman sebaya juga bisa menjadi sumber bantuan. Saat berdiskusi, siswa dapat saling menjelaskan langkah yang mereka pahami dan menemukan bagian yang masih membingungkan. Peran guru tetap penting untuk meluruskan miskonsepsi, memastikan semua siswa mendapat kesempatan, dan menjaga agar kegiatan tidak berubah menjadi perlombaan yang membuat siswa takut salah.
Refrensi
Adhiyati, U. P., Kumala, I., & Heryani, R. D. (2022). Tips dan trik cara mudah belajar matematika. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bangun Cipta, Rasa, & Karsa (BATASA), 1(1). https://doi.org/10.30998/pkmbatasa.v1i1.956
Fatmawati, P. D., & Nafi’ah, J. (2026). Analisis implementasi metode drill dengan tutor sebaya dalam mengembangkan kemampuan kognitif matematis siswa di sekolah dasar. SUPERMAT: Jurnal Pendidikan Matematika, 10(1), 1–18.
Fithry, A., Bayu, E. P. S., Utami, F. Z., & Fitri, L. (2026). Analisis kesalahan penyelesaian soal cerita matematika: Pendekatan kualitatif dalam menentukan metode pembelajaran optimal. Pengertian: Jurnal Pendidikan Indonesia, 4(2), 1345–1368.
Robby, R. R., Qomarudin, M. N. H., Akabarita, R., Ananingtyas, R. S. A., Naharin, S. N., & Durrofiq, I. (2023). Pelatihan metode berhitung cepat matematika untuk siswa SD di daerah lereng Gunung Kelud Kecamatan Garum Kabupaten Blitar. Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Nusantara (JPPNu), 5(1), 124–128. https://doi.org/10.28926/jppnu.v5i1.168
Simamora, Y., Lubis, U. A., & Rafidah. (2024). Cara asyik dan cepat menyelesaikan soal-soal matematika. JALIYE, 3(2).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
