Kuliah Bukan Lomba Cepat-cepatan, Tetapi Perjalanan Mencari Arah
Edukasi | 2026-10-18 20:06:18
Oleh: Asna Malini
Pernahkah kamu merasa tertinggal? Teman seangkatan sudah lulus, sudah magang di perusahaan besar, sudah punya usaha, atau sudah pamer toga di media sosial. Sementara kamu masih bergulat dengan revisi skripsi yang tidak kunjung selesai, atau masih bingung sebenarnya mau jadi apa setelah lulus.
Kalau begitu, kamu tidak sendirian. Perasaan seperti ini umum sangat di kalangan pelajar, dan penting untuk dibicarakan secara jujur.
Cemas Itu Wajar, tapi Jangan Dibiarkan Sendirian
Kecemasan siswa terhadap masa depan bukan tanpa alasan. Menurut Badan Pusat Statistik, pada Mei 2026 ada sekitar 1,03 juta lulusan diploma IV sampai S3 yang menganggur, atau sekitar 14,31 persen dari seluruh penganggur di Indonesia. Pada bulan Februari 2026, tingkat kemiskinan terbuka penduduk usia 15 sampai 24 tahun juga tercatat 16,36 persen, yang tertinggi di antara kelompok umur lainnya.
Angka-angka itu membuat banyak mahasiswa bertanya dalam hati, "Kalau sudah kuliah bertahun-tahun, apakah saya pasti bisa bekerja?" Pertanyaan itu wajar. Namun kita perlu membaca data dengan tenang. Angka tersebut tidak berarti kuliah sia-sia. Ia menunjukkan bahwa dunia kerja memang semakin ketat, sehingga ijazah saja tidak cukup. Yang dibutuhkan juga kemampuan, pengalaman, dan keberanian untuk terus belajar.
Masalahnya, banyak siswa menghadapi kecemasan ini sendirian. Mereka tidak mau terlihat lemah, takut dianggap mengeluh, atau merasa orang lain pasti baik-baik saja. Akibatnya, rasa cemas menumpuk diam-diam. Di sisi lain, data nasional menunjukkan bahwa sangat sedikit remaja dengan masalah kesehatan mental yang sedang mencari bantuan. Survei I-NAMHS 2022 hanya mencatat sekitar 2,6 persen. Kebiasaan memendam ini sering terbawa sampai ke bangku kuliah.
Tiga Jebakan yang Sering Menimpa Mahasiswa
Pertama, membungkus diri. Setiap orang punya jalan dan waktunya sendiri. Ada yang lulus cepat, ada yang butuh waktu lebih lama karena harus bekerja sambil kuliah, mengurus keluarga, atau mengalami masa sulit. Yang kamu lihat di unggahan orang lain hanya bagian terbaiknya. Kamu tidak melihat malam-malam penuh keraguan yang mereka lewati.
Kedua, menggambarkan menyamakan nilai dengan harga diri. IPK memang penting, tetapi itu hanya satu bagian kecil dari diri Anda. Orang yang IPK-nya biasa saja tetap bisa berkembang jika rajin belajar, mau berorganisasi, dan terbuka pada kritik. Sebaliknya, IPK tinggi tidak otomatis menjamin kesiapan menghadapi hidup.
Ketiga, jebakan menunda permintaan jangka panjang. Banyak siswa baru mencari dukungan ketika sudah sangat tipis. Padahal bantuan paling efektif adalah bantuan yang datang lebih awal. Bercerita kepada dosen pembimbing akademik, teman dekat, keluarga, atau layanan konseling kampus bukanlah tanda kegagalan. Itu tanda bahwa kamu sedang menjaga dirimu sendiri.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan Mulai Hari Ini
Pertama, pecahkan masa depan yang besar menjadi langkah kecil. Kamu tidak harus tahu jawaban untuk sepuluh tahun lagi. Cukup tentukan satu langkah untuk bulan ini, misalnya mengikuti pelatihan singkat, mencoba magang, bergabung dengan komunitas, atau memperbaiki satu keterampilan.
Kedua, kenali kekuatanmu, bukan hanya kekuranganmu. Coba tanyakan pada diri sendiri, apa yang membuat bersemangat dan apa yang sering orang minta tolong padaku. Jawabannya bisa menjadi petunjuk arah.
Ketiga, bangun lingkaran yang sehat. Carilah teman yang bisa saling menguatkan, bukan yang hanya saling membandingkan. Satu atau dua orang yang bisa kamu ajak bicara jujur sudah sangat berarti.
Keempat, jaga tubuh dan pikiranmu. Tidur cukup, makan teratur, bergerak, dan bersantai bukan kemewahan. Itu bahan bakar agar kamu bisa berpikir jernih.
Al-Qur'an mengingatkan dalam QS. Al-Insyirah ayat 5 dan 6 bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Ayat ini bukan sekedar penghibur. Ia mengajak kita percaya bahwa masa sulit bukanlah titik akhir, selama kita terus berusaha dan tidak menyerah pada keadaan.
Untuk Kampus dan Kita Semua
Pesan ini juga untuk kampus. Layanan konseling dan pendampingan karier perlu mudah dijangkau, ramah, dan tidak membuat siswa takut dicap bermasalah. Dosen pun dapat berperan lebih besar dengan menjadi pendengar yang baik, bukan hanya pemberi nilai. Orang tua dan keluarga perlu belajar bertanya dengan lembut, misalnya "kamu lagi capek ya", sebelum bertanya "kapan lulus" atau "kapan kerja".
Kuliah bukan lomba lari cepat. Tidak ada garis akhir yang sama untuk semua orang. Ada yang tiba lebih dulu, ada yang tiba lebih lambat, tapi yang terpenting adalah tetap berjalan, tetap belajar, dan tidak berjalan sendirian. Jadi kalau hari ini kamu merasa tertinggal, tarik napas dulu. Kamu tidak terlambat. Kamu sedang dalam perjalananmu sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
