Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image gitaagustiana1@gmail.com

Anak-Anak Palestina di Balik Jeruji Zionis, Mengapa Dunia Islam Membisu?

Agama | 2026-10-18 21:31:02

Oleh : Gita Agustiana, S.Pd.

Orang tua mana yang tidak sedih hatinya melihat anaknya kehilangan rasa aman dan nyaman, kehilangan kesempatan untuk meraih mimpi-mimpinya? Anak-anak semestinya dapat bersekolah, bermain bersama teman-temannya, tertawa bersama keluarga, dan tumbuh dalam kasih sayang serta perlindungan. Namun, kenyataan pahit justru harus dirasakan oleh anak-anak Palestina. Masa kecil yang seharusnya dipenuhi pendidikan, permainan, dan kebersamaan bersama keluarga, berubah menjadi ketakutan dan penderitaan. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang harus kehilangan kebebasan dan ditawan oleh tentara Zionis. Mereka bukan hanya kehilangan ruang untuk bermain dan belajar, tetapi juga harus menghadapi kenyataan pahit yang tidak semestinya dialami oleh seorang anak.

Dikutip oleh Kompas.com, sekitar 370 anak Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Zionis. Sebagian besar anak-anak tersebut berada di penjara Megiddo dan Ofer, sebagaimana dilansir Anadolu via Antara, Jumat (28/8/2026). Anak-anak tersebut merupakan bagian dari lebih dari 9.400 tahanan dan narapidana Palestina yang ditahan Israel hingga awal Agustus, menurut kelompok hak asasi tersebut. Data dari Komisi Palestina Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan tahun 2019, kasus penangkapan anak-anak Palestina oleh militer Israel telah melampaui angka 50.000 sejak tahun 1967.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa penahanan anak-anak Palestina oleh Zionis terjadi secara berulang dan melibatkan banyak anak. Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy juga menyoroti penggunaan penahanan administratif yang terus dilakukan Israel. Sejumlah organisasi hak asasi manusia Palestina dan internasional berulang kali menuduh otoritas Israel menempatkan tahanan, termasuk anak di bawah umur, dalam kondisi keras serta tidak memberikan akses yang memadai terhadap makanan dan layanan medis.

Penangkapan dan penahanan anak-anak Palestina bukan sekadar kasus individual. Data dan laporan lembaga internasional menunjukkan adanya pola penahanan yang berulang, disertai persoalan perlakuan dan perlindungan hukum terhadap anak. Kondisi ini tentu mengancam rasa aman, pendidikan, kehidupan keluarga, dan masa depan mereka. Selain itu, Penahanan anak-anak Palestina tidak hanya merampas kebebasan mereka, tetapi juga menimbulkan ketakutan dan tekanan bagi keluarga serta masyarakat Palestina.

Penangkapan dan penahanan anak secara sewenang-wenang jelas bertentangan dengan prinsip syariat Islam. Islam memuliakan anak dan memberikan perlindungan terhadap mereka, termasuk ketika terjadi peperangan.Allah SWT berfirman :

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Artinya:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(QS. Al-Baqarah: 190)

Larangan melampaui batas tersebut juga tercermin dalam sunnah Rasulullah ﷺ yang melarang pembunuhan terhadap anak-anak dalam peperangan. Dengan demikian, anak-anak yang tidak terlibat dalam pertempuran memiliki perlindungan dan tidak boleh dijadikan sasaran.

Di tengah kondisi tersebut, penguasa-penguasa di negeri-negeri Muslim belum mampu menghentikan kezaliman dan membebaskan anak-anak Palestina dari penahanan Israel. Kondisi ini tidak terlepas dari terpecahnya negeri-negeri Muslim ke dalam batas-batas negara. Umat Islam yang secara akidah merupakan satu umat, secara politik terpisah dalam negara-negara yang memiliki kepentingan dan kebijakan masing-masing. Akibatnya, respons terhadap persoalan Palestina berjalan secara terpisah dan belum terwujud dalam satu kekuatan politik yang menyatukan kepentingan umat.

Dengan demikian, sudah seharusnya umat dan penguasa di negeri muslim menyadari bahwa kejahatan Zionis terhadap anak-anak Palestina tidak boleh dibiarkan dan harus dilawan dan diperangi dengan jihad fii sabilillah. Segala bentuk intimidasi dan ancaman Zionis tidak boleh menyurutkan perjuangan pembebasan Palestina malah semstinya kaum muslimin harus berjuang lebih keras untu meraih kemenangan islam dalam daukah khilafah. Sebab Persatuan umat, jihad, tentara Islam dan Khilafah adalah kunci pembebasan Palestina dari penjajahan Zionis Israel. Karena hanya syariat Islam yang mengatur perlindungan terhadap anak-anak di saat perang, memuliakan, menjaga dan memberi harapan masa depan.

Dalam Islam, ada beberapa adab atau etika dalam perang yang diajarkan untuk menjaga kemanusiaan dan keadilan. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Tidak Menyerang Tanpa Alasan yang Sah.

2. Menghindari Pembunuhan terhadap Non-Kombatan. Rasulullah SAW melarang pembunuhan terhadap wanita, anak-anak, orang tua, atau orang yang tidak ikut berperang. Hal ini termasuk petani, pendeta, atau mereka yang tidak terlibat dalam peperangan. Rasulullah ﷺ secara tegas berpesan kepada para pemimpin pasukan:

وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا

“Janganlah kalian membunuh anak-anak”. (HR. Muslim no. 1731)

3. Tidak Merusak Lingkungan.

4. Memperlakukan Tahanan dengan Baik

Al-Qur'an menggambarkan orang-orang saleh sebagai orang yang memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.”(QS. Al-Insan: 8)

5. Menjaga Etika dan Moral.

6. Memberikan Pilihan Perdamaian Jika Mungkin Islam mengajarkan agar perdamaian diutamakan.

7. Menghormati Mayat Musuh

Adab-adab ini menunjukkan bahwa meskipun perang bisa menjadi bagian dari kehidupan, Islam tetap menekankan nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan keadilan dalam menghadapi situasi peperangan. Hal ini terlihat sebagaimana tatkala umar bin Khattab menjamin nafkah anak terlantar

Umar menetapkan bahwa anak itu merdeka dan nafkahnya menjadi tanggungan Baitul Mal. Dalam riwayat lain yang dikutip dari ath-Thabaqat, Umar juga menetapkan rezeki bulanan serta biaya penyusuan dan nafkah anak terlantar dari Baitul Mal.

ini menunjukkan bahwa perlindungan anak bukan hanya berbentuk larangan melakukan kekerasan, tetapi juga tanggung jawab negara memenuhi kebutuhan hidup anak yang tidak memiliki pengasuh bahkan menjamin kehidupannya dimasa depan. Wallahualam bishowab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image