Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shinta Dewi

FOMO dan Algoritma: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Pilihanmu?

Trend | 2026-10-06 13:05:08

Apa Itu FOMO, Sebenarnya?

FOMO adalah perasaan cemas atau gelisah karena merasa tertinggal dari pengalaman, tren, atau informasi yang sedang dibicarakan orang lain. Dulu, FOMO mungkin hanya muncul saat melihat teman berkumpul tanpa mengajak kita. Namun di era media sosial, intensitasnya jauh lebih besar — karena kita tidak hanya melihat satu atau dua teman, tapi ratusan bahkan ribuan unggahan orang lain yang seolah selalu "lebih seru" dari kehidupan kita sendiri.

Algoritma: Pihak yang Diam-Diam Mengatur Apa yang Kamu Lihat

Media sosial modern tidak menampilkan konten secara acak. Di balik layar, ada algoritma yang terus mempelajari kebiasaanmu — konten apa yang kamu tonton lebih lama, apa yang kamu sukai, bahkan apa yang membuatmu berhenti scrolling sejenak. Dari situ, algoritma akan terus menyodorkan konten serupa, membentuk semacam "gelembung" yang membuat kita merasa suatu tren jauh lebih besar dan mendesak dari kenyataannya.

Inilah yang membuat FOMO di era algoritma terasa berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi sekadar rasa cemas alami, tapi rasa cemas yang terus-menerus "disuburkan" oleh sistem yang memang dirancang agar kita betah dan terus kembali.

Bayangkan seseorang yang awalnya tidak tertarik dengan suatu tren fashion. Namun, karena algoritma terus-menerus menampilkan konten serupa selama berminggu-minggu — mulai dari video review, testimoni, hingga unggahan teman-temannya yang ikut tren tersebut — perlahan muncul perasaan "kayaknya aku juga harus punya". Padahal, jika ditelusuri, keinginan tersebut bukan murni muncul dari kebutuhan pribadi, melainkan hasil dari paparan berulang yang dirancang sistem untuk menciptakan rasa urgensi.

Kenapa Generasi Muda Paling Rentan?

Generasi muda, khususnya yang tumbuh besar bersama media sosial, cenderung lebih rentan terhadap FOMO yang dipicu algoritma. Hal ini terjadi karena identitas sosial generasi ini banyak terbentuk melalui interaksi digital, sehingga tren yang muncul di linimasa terasa seperti keharusan untuk diikuti, bukan sekadar pilihan. Ditambah lagi, algoritma yang semakin canggih membuat setiap individu merasa tren tersebut "dibuat khusus" untuknya, padahal sebenarnya jutaan orang lain menerima pola yang serupa.

Dampaknya Tidak Hanya soal Belanja atau Tren

Banyak orang mengira FOMO hanya berkaitan dengan keputusan belanja impulsif. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. FOMO yang terus-menerus dipicu algoritma bisa memengaruhi cara seseorang memilih kegiatan, memilih circle pertemanan, bahkan memengaruhi kesehatan mental karena terus-menerus membandingkan diri dengan standar yang ditampilkan di media sosial. Perasaan "harus mengikuti" ini, jika dibiarkan, bisa membuat seseorang kehilangan kendali atas preferensi dan waktunya sendiri.

Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Pilihanmu?

Pertanyaan ini penting untuk direfleksikan. Ketika kita merasa "ingin" sesuatu, apakah itu benar-benar keinginan pribadi, atau hasil dari pola yang terus-menerus ditampilkan algoritma? Banyak keputusan yang terasa spontan sebenarnya adalah hasil dari paparan berulang terhadap konten yang sama, yang secara halus membentuk persepsi kita tanpa disadari.

Di sinilah pentingnya kesadaran digital — memahami bahwa apa yang muncul di linimasa bukanlah representasi penuh dari dunia nyata, melainkan hasil seleksi sistem berdasarkan pola interaksi kita sebelumnya.

Bagaimana Cara Mengelolanya?

Beberapa langkah sederhana bisa membantu mengurangi dampak FOMO yang dipicu algoritma. Pertama, membiasakan diri untuk bertanya "apakah aku benar-benar menginginkan ini, atau hanya terpengaruh tren?" sebelum mengambil keputusan. Kedua, sesekali melakukan jeda dari media sosial untuk memberi ruang berpikir tanpa gangguan algoritma. Ketiga, secara sadar mengikuti atau mencari konten yang beragam, agar "gelembung" yang terbentuk tidak terlalu sempit dan homogen.

Bayangkan seseorang yang awalnya tidak tertarik dengan suatu tren fashion. Namun, karena algoritma terus-menerus menampilkan konten serupa selama berminggu-minggu — mulai dari video review, testimoni, hingga unggahan teman-temannya yang ikut tren tersebut — perlahan muncul perasaan "kayaknya aku juga harus punya". Padahal, jika ditelusuri, keinginan tersebut bukan murni muncul dari kebutuhan pribadi, melainkan hasil dari paparan berulang yang dirancang sistem untuk menciptakan rasa urgensi.

FOMO di era digital bukan lagi sekadar perasaan alami yang muncul begitu saja, melainkan hasil interaksi kompleks antara psikologi manusia dan sistem algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan waktu kita di layar. Memahami mekanisme ini bukan berarti harus sepenuhnya menjauhi media sosial, tapi lebih kepada membangun kesadaran — agar pilihan yang kita ambil benar-benar berasal dari diri sendiri, bukan sekadar hasil dari apa yang terus-menerus disodorkan algoritma.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image