Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wayan Cahyono

Guru di Balik TKA: Pekerjaan Rumah yang Sering Terlewat dari Sorotan

Sekolah | 2026-09-16 08:44:48

Seorang guru kelas VI duduk di depan laptopnya menjelang tenggat penyusunan kisi-kisi soal. Kurikulum Merdeka menuntutnya membuat soal yang "mengukur penalaran, bukan hafalan" — istilah yang sering diucapkan dalam pelatihan, tapi tidak selalu jelas bagaimana mewujudkannya di atas kertas. Ia membuka contoh soal HOTS dari internet, mencoba menirunya, lalu menghapusnya lagi karena terasa dipaksakan. Bukan karena ia tidak menguasai materi — ia mengajar mata pelajaran itu bertahun-tahun — tapi karena menyusun soal yang benar-benar mengukur penalaran ternyata jauh lebih rumit dari yang terlihat.

Momen semacam ini terjadi di ribuan ruang guru di seluruh Indonesia, terutama sejak Tes Kemampuan Akademik (TKA) mulai menggantikan Ujian Nasional. Diskusi publik tentang TKA selama ini banyak berputar di seputar kebijakan: jadwal pelaksanaan, mata pelajaran yang diuji, atau apakah hasilnya memengaruhi seleksi ke jenjang berikutnya. Yang jauh lebih jarang dibahas adalah pertanyaan paling mendasar: siapa yang menyusun soalnya, dan seberapa siap mereka melakukannya?

TKA Menuntut Lompatan, Bukan Sekadar Format Baru

TKA dirancang untuk mengukur kompetensi akademik siswa secara lebih menyeluruh, dengan penekanan pada penalaran dan pemecahan masalah — bukan sekadar mengingat fakta. Pendekatan ini konsisten dengan semangat Kurikulum Merdeka, dan secara konsep memang lebih relevan untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir yang lebih tahan lama.

Tapi lompatan konseptual ini menuntut lompatan yang setara di sisi pelaksana: guru sebagai penyusun soal. Soal yang mengukur penalaran — dikenal luas dengan istilah HOTS atau Higher Order Thinking Skills — jauh lebih kompleks disusun dibanding soal hafalan konvensional. Ia membutuhkan pemahaman mendalam tentang taksonomi kognitif, kemampuan merumuskan stimulus yang kontekstual, dan ketepatan dalam menyusun kisi-kisi yang benar-benar mengarah pada kompetensi yang ingin diukur.

Data yang Jarang Diangkat ke Permukaan

Sejumlah penelitian di berbagai daerah dan jenjang pendidikan menunjukkan pola yang konsisten: menyusun soal HOTS memang menjadi titik lemah yang nyata bagi banyak pendidik. Sebuah studi di SDN Gugus V Cakranegara mencatat kesulitan guru dalam menyusun soal HOTS pada mata pelajaran PPKn berada pada kategori sedang dengan persentase 66,67 persen [Utari et al., Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 2022]. Studi lain bahkan pada level pendidikan tinggi menemukan 42 persen dosen berada pada kriteria kurang mampu menyusun soal HOTS — meski secara sikap, 85 persen di antaranya menyatakan setuju bahwa soal HOTS itu penting [Ali et al., 2021].

Pola kesulitan yang muncul cenderung berulang di berbagai penelitian: guru kesulitan menganalisis kompetensi dasar untuk diturunkan menjadi indikator soal, kesulitan menyusun kisi-kisi yang tepat, dan yang paling sering disebut — kesulitan menemukan stimulus yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan siswa [Jurnal Educatio FKIP UNMA, 2023; SDN 03 Jembatan Gantung, 2024]. Ini bukan sekadar soal teknis penulisan, melainkan soal cara berpikir dalam merancang evaluasi — kompetensi yang membutuhkan latihan berulang, bukan sekali pelatihan lalu selesai.

Upaya yang Ada, tapi Belum Merata

Bukan berarti tidak ada upaya. Di berbagai daerah, pelatihan penyusunan soal HOTS terus dilakukan — mulai dari lokakarya oleh dinas pendidikan, program pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi, hingga pendampingan berbasis komunitas guru. Salah satu perkembangan menarik: sejak akhir 2025, beberapa program pelatihan mulai mengenalkan pemanfaatan AI generatif seperti ChatGPT untuk membantu guru merumuskan soal HOTS, lengkap dengan teknik penyusunan prompt yang tepat [Program Pengabdian, November 2025].

Namun pola yang muncul dari inisiatif-inisiatif ini punya satu kesamaan: sifatnya lokal, sporadis, dan bergantung pada inisiatif masing-masing sekolah, kampus, atau dinas daerah — bukan bagian dari sistem pendukung yang terintegrasi dan menjangkau merata ke seluruh guru. Guru di sekolah yang kebetulan punya akses ke universitas terdekat atau dinas yang aktif mengadakan pelatihan akan jauh lebih siap dibanding guru di daerah yang tidak terjangkau program semacam itu. Kesenjangan kompetensi ini, kalau dibiarkan, akan tercermin langsung pada kualitas soal yang dihadapi siswa — dan pada akhirnya, pada validitas hasil TKA itu sendiri sebagai alat ukur.

Ketika Bank Soal dan Referensi Jadi Kunci

Salah satu cara paling praktis untuk menjembatani kesenjangan ini, di luar pelatihan formal yang butuh waktu untuk merata, adalah menyediakan bank soal HOTS berkualitas yang bisa dijadikan rujukan dan bahan latihan bagi guru — bukan untuk disalin mentah, tapi untuk dipelajari polanya. Dari pengalaman kami mengembangkan sistem ujian dan bank soal di e-ujian.id untuk ribuan sekolah, guru yang punya akses ke contoh-contoh soal HOTS yang sudah terverifikasi cenderung lebih cepat memahami polanya dibanding yang harus merumuskan dari nol tanpa rujukan yang jelas. Ini bukan pengganti pelatihan, tapi bisa jadi jembatan sementara sambil ekosistem pelatihan yang lebih sistematis dan merata terus dibangun.

Penutup: PR yang Tidak Selesai dengan Ganti Nama Ujian

TKA membawa niat baik: mengukur siswa berdasarkan penalaran, bukan hafalan semata. Tapi niat baik ini hanya akan terwujud kalau orang yang merancang soalnya — para guru di depan kelas — benar-benar dibekali kapasitas untuk melakukannya. Mengganti format ujian tanpa membenahi dukungan bagi penyusunnya sama saja meletakkan tanggung jawab besar di pundak orang yang belum sepenuhnya diperlengkapi.

Pekerjaan rumah terbesar dari transisi ini bukan cuma soal jadwal ujian, jaringan internet, atau jumlah komputer. Ia juga soal memastikan setiap guru, di mana pun mereka mengajar, punya akses yang sama terhadap pengetahuan, latihan, dan rujukan yang mereka butuhkan untuk merancang evaluasi yang benar-benar bermakna. Sampai itu terwujud secara merata, semangat baik TKA akan terus berjalan timpang — baik di kota besar maupun di pelosok negeri.

Referensi

  1. Utari, N. M. W., Widiada, I. K., & Nisa, K. (2022). Kesulitan Guru dalam Menyusun Soal HOTS pada Mata Pelajaran PPKn Kelas Tinggi di SDN Gugus V Cakranegara. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 7(4b).
  2. Ali et al. (2021). Analisis Kemampuan Dosen dalam Menyusun Soal HOTS di Perguruan Tinggi.
  3. Jurnal Educatio FKIP UNMA. (2023). Kesulitan Guru dalam Menyusun Soal Evaluasi Berbasis Higher Order Thinking Skills dalam Pembelajaran Kurikulum 2013.
  4. Insani, Tahir, & Hasnawati. (2023), dikutip dalam Analisis Kesulitan Guru Menyusun Soal Berbasis HOTS pada Muatan Materi IPS di SDN 03 Jembatan Gantung.
  5. Program Pengabdian Masyarakat. (November 2025). Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Soal HOTS dengan Memanfaatkan Artificial Intelligence.
  6. Riswari, L., & Ermawati, D. (2025). Pelatihan Penyusunan Soal Berbasis HOTS dalam Kurikulum Merdeka untuk Guru Sekolah Dasar. Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma, 6(2).
  7. tka.kemendikdasmen.go.id — Laman resmi Tes Kemampuan Akademik, Kemendikdasmen RI.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image