Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image yanhadi mubarrok

Sayap Kanan Menang di Jerman, Warga Indonesia Harus Khawatir?

Politik | 2026-09-09 15:57:01
Sumber: Pinterest/@Daily Mail

Penulis: M. Yanhadi Mubarrok

Kemenangan Alternative für Deutschland (AfD) dalam pemilu negara bagian Saxony-Anhalt pada 6 September 2026 menjadi salah satu perkembangan politik paling mengejutkan di Jerman. AfD meraih sekitar 43,8% suara, jauh melampaui perolehan sebelumnya dan menjadi partai dengan suara terbesar di negara bagian tersebut. Hasil ini bahkan membuka kemungkinan terbentuknya pemerintahan daerah yang dipimpin partai sayap kanan untuk pertama kalinya dalam sejarah Jerman pasca-Perang Dunia II.

Namun, pertanyaan yang lebih dekat dengan masyarakat Indonesia bukan hanya “Mengapa AfD menang?”, melainkan “Apa artinya bagi orang Indonesia yang tinggal di Jerman?” Mahasiswa, pekerja, tenaga profesional, maupun keluarga Indonesia di Jerman tentu memiliki kepentingan langsung terhadap perubahan kebijakan imigrasi dan kehidupan sosial. Karena itu, kemenangan AfD layak diperhatikan, tetapi belum tepat jika langsung disimpulkan bahwa seluruh warga Indonesia di Jerman akan menghadapi perubahan drastis.

Mengapa AfD Bisa Menang? Bukan Sekadar Soal Imigrasi

Kemenangan AfD tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat Jerman tiba-tiba menjadi lebih ekstrem. Di Saxony-Anhalt, persoalan ekonomi, biaya hidup, birokrasi, berkurangnya lapangan pekerjaan, depopulasi, dan rasa ditinggalkan oleh politik arus utama menjadi bagian penting dari keresahan pemilih. Analisis Financial Times menunjukkan bahwa dukungan AfD sangat kuat di wilayah yang menghadapi pendapatan relatif rendah, penurunan jumlah penduduk, dan masyarakat yang menua.

Di sisi lain, isu migrasi menjadi kendaraan politik yang sangat kuat. AfD menawarkan kebijakan yang jauh lebih ketat terhadap migrasi dan integrasi. Partai ini juga mengkritik kebijakan pemerintah mengenai pengungsi dan tenaga kerja asing. Dengan demikian, kemenangan AfD dapat dibaca sebagai protes terhadap kondisi sosial-ekonomi sekaligus penolakan terhadap arah kebijakan politik yang selama ini dianggap terlalu terbuka.

Seorang sejarawan Jerman, Marcus Böick dari University of Cambridge, menggambarkan situasi ini sebagai memasuki “territory unknown” atau “wilayah yang belum dikenal”, karena kemenangan tersebut menguji sistem politik Jerman yang selama ini berusaha mencegah partai ekstrem kanan memperoleh kekuasaan.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Warga Indonesia?

Bagi warga Indonesia, persoalan paling penting adalah kebijakan terhadap orang asing. AfD memiliki agenda imigrasi yang jauh lebih ketat, termasuk mempercepat deportasi dan membatasi migrasi tenaga kerja dari kelompok yang dianggap tidak sesuai dengan kepentingan budaya Jerman. Dalam programnya di Saxony-Anhalt, AfD juga menyatakan penolakan terhadap ketergantungan pada tenaga kerja asing sebagai solusi utama atas persoalan demografi.

Di sinilah kekhawatiran WNI menjadi relevan.

Jika arah politik seperti ini semakin kuat di tingkat nasional, mahasiswa dan pekerja Indonesia mungkin menghadapi lingkungan kebijakan yang lebih ketat, terutama dalam persoalan visa, izin tinggal, migrasi tenaga kerja, dan integrasi. Namun, perlu digarisbawahi bahwa kemenangan AfD di satu negara bagian tidak otomatis mengubah aturan imigrasi seluruh Jerman. Kebijakan nasional tetap ditentukan oleh pemerintah federal dan parlemen nasional.

Jadi, untuk saat ini, kalimat “AfD menang berarti WNI akan dipulangkan” adalah kesimpulan yang terlalu jauh.

Bukan Hanya Soal Visa, tetapi Juga Soal Kehidupan Sehari-hari

Dampaknya tidak selalu berbentuk aturan tertulis. Perubahan politik juga dapat memengaruhi suasana sosial. Kemenangan besar AfD telah menimbulkan kekhawatiran di antara kelompok migran dan minoritas di Saxony-Anhalt. Sejumlah warga dengan latar belakang migran bahkan mengaku takut terhadap masa depan mereka apabila agenda politik AfD semakin berkembang.

Bagi WNI, hal ini penting karena Indonesia merupakan masyarakat yang sangat beragam. Orang Indonesia di Jerman tidak hanya terdiri dari mahasiswa, tetapi juga pekerja, tenaga kesehatan, profesional, keluarga, dan kelompok diaspora lainnya.

Artinya, persoalannya bukan sekadar “Apakah saya masih bisa tinggal di Jerman?”, tetapi juga “Apakah saya masih merasa diterima di sana?”

Tetapi WNI Tidak Perlu Panik

Ada alasan untuk tidak langsung melihat kemenangan AfD sebagai ancaman langsung bagi seluruh WNI.

Pertama, hasil tersebut merupakan pemilu negara bagian, bukan pemilu nasional. Kedua, AfD memperoleh sekitar 43,8% suara dan belum otomatis menguasai mayoritas pemerintahan sendiri. Partai-partai arus utama Jerman selama ini juga mempertahankan apa yang disebut “firewall”, yaitu kebijakan untuk tidak bekerja sama secara politik dengan AfD

Namun, justru di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Meskipun belum menguasai pemerintahan nasional, AfD telah berhasil mengubah arah percakapan politik Jerman. Partai-partai lain kini menghadapi tekanan untuk merespons persoalan migrasi, keamanan, ekonomi, dan identitas nasional yang selama ini menjadi kekuatan kampanye AfD. Reuters menilai kemenangan tersebut bukan hanya masalah politik daerah, tetapi juga menjadi sinyal melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap konsensus politik Jerman.

“Apakah Orang Indonesia Harus Khawatir?”

Jawabannya: waspada, tetapi tidak perlu panik.

Namun, kita juga harus menghindari generalisasi. Tidak semua pemilih AfD otomatis membenci orang asing, dan tidak semua kebijakan AfD langsung berlaku kepada seluruh penduduk Jerman. Sejumlah analisis justru menunjukkan bahwa sebagian pemilih memberikan suara kepada AfD sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi dan politik, bukan semata-mata karena ideologi ekstrem. Bagi WNI yang tinggal di Jerman, perkembangan politik ini sebaiknya menjadi perhatian karena kebijakan mengenai migrasi dan tenaga kerja asing berpotensi menjadi semakin ketat apabila pengaruh AfD terus berkembang.

Karena itu, persoalan yang lebih besar mungkin bukan “Apakah Jerman akan mengusir orang Indonesia?”, tetapi “Seberapa jauh perubahan politik Jerman akan mengubah cara negara tersebut memandang migrasi dan keberagaman?”

Kemenangan AfD Bisa Menjadi Awal, Bukan Akhir

Yang membuat kemenangan ini penting adalah kemungkinan efek domino. AfD sendiri melihat keberhasilan di Saxony-Anhalt sebagai pijakan menuju kekuatan politik yang lebih besar menjelang pemilu federal 2029. Jika tren tersebut berlanjut, perdebatan mengenai imigrasi, tenaga kerja asing, identitas nasional, dan integrasi kemungkinan akan semakin kuat. Bagi Indonesia, ini berarti perkembangan politik Jerman bukan lagi sekadar urusan domestik negara Eropa. Jerman merupakan salah satu tujuan penting bagi mahasiswa, pekerja, peneliti, dan profesional Indonesia. Ketika kebijakan negara tersebut berubah, ruang hidup dan peluang orang Indonesia di Jerman juga berpotensi ikut berubah.

Penutup: Bukan Saatnya Takut, tetapi Saatnya Memperhatikan

Kemenangan sayap kanan di Jerman menunjukkan bahwa masyarakat sedang mengalami perubahan dalam melihat politik, ekonomi, dan identitas. AfD berhasil memanfaatkan ketidakpuasan tersebut menjadi kekuatan elektoral yang besar.Bagi warga Indonesia, kemenangan ini belum menjadi alasan untuk panik. Tetapi juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan.
Sebab, perubahan politik sering kali tidak datang sekaligus. Ia dimulai dari perubahan suara pemilih, kemudian masuk ke parlemen, memengaruhi kebijakan, dan pada akhirnya dapat mengubah kehidupan masyarakat.Pertanyaan bagi WNI bukan hanya apakah Jerman akan berubah, tetapi apakah perubahan Jerman nantinya masih menyediakan ruang yang sama bagi mereka yang datang dari luar.

Dan mungkin, justru itulah pertanyaan yang paling penting setelah kemenangan AfD: ketika Jerman memilih semakin ke kanan, siapa yang akan merasa semakin diterima dan siapa yang mulai merasa harus pergi?

 



 

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image