Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rafeyfa Miss Asyla Setiyawan

Menjaga Mutu BBM: Bagaimana Pertamina Memastikan Kualitas BBM hingga ke SPBU

Eduaksi | 2026-09-03 12:11:28

Selama magang di fungsi Quality & Quantity PT. Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu, saya jadi tahu bahwa setiap liter BBM yang akhirnya mengalir ke tangki motor atau mobil kita di SPBU, sudah melewati perjalanan panjang yang sama sekali tidak terlihat oleh pengendara mana pun.

Fuel Terminal (FT) Rewulu di Sedayu, Bantul, ini salah satu simpul penting distribusi BBM Pertamina Patra Niaga untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Tapi cakupannya ternyata lebih luas dari yang saya bayangkan sebelumnya — bukan cuma menyalurkan ke SPBU dan Pertashop di DIY, terminal ini juga mengirim Pertalite, Pertamax, dan Biosolar ke Fuel Terminal Madiun lewat kereta api, memasok Avtur ke seluruh AFT (bandara) di DIY dan Jawa Tengah seperti YIA, Adisutjipto, Adisumarmo, sampai Ahmad Yani Semarang, serta melayani kebutuhan Solar khusus TNI/POLRI dan sejumlah pelanggan industri.

BBM-nya Datang dari Mana Saja?

Yang bikin saya lumayan kaget: BBM yang masuk ke FT Rewulu itu bukan dari satu sumber saja. Ada yang dipasok dari FT Lomanis melalui jalur pipa sepanjang +/-180 km, Integrated Terminal Cilacap melalui jalur kereta api, ada juga datang dari Integrated Terminal Semarang melalui truk tangki Pertamina.

Nah, di titik inilah pekerjaan tim Quality & Quantity, tempat saya magang, benar-benar dimulai.

Empat Kali Dicek, Bukan Sekali

Quality & Quantity FT Rewulu

Awalnya saya pikir cukup sekali cek waktu BBM sampai terminal. Ternyata tidak sesederhana itu. Setiap batch BBM yang masuk harus melewati beberapa kali pemeriksaan sebelum akhirnya boleh keluar lagi dari terminal.

Begitu BBM tiba, baik itu melalui jalur pipa, gerbong ketel atau mobil tangki, petugas langsung melakukan pengujian visual tes yaitu melakukan pengecekan melalui density, temperature, dan appearance dari produk yang diterima, lalu hasilnya dicatat di logbook uji sampel di laboratorium FT Rewulu.

Sebelum BBM benar-benar dipompa masuk ke tangki timbun besar FT Rewulu, ada pengujian ulang lagi, namanya pengujian Before Discharge (BD). Tujuannya memastikan mutunya tidak berubah selama di perjalanan dan parameter pengujian sudah sesuai dengan spesifikasi Ditjen Migas.

Setelah proses pemompaan ke tangki timbun selesai, pengujian belum berhenti dilakukan, ada pengujian After Receive (AR) untuk memastikan produk yang diterima di tangki timbun masih sesuai dengan spesifikasi Ditjen Migas.

Sampai di situ pun belum selesai. Saat mobil tangki dan gerbong ketel sudah diisi dan siap disalurkan — baik itu ke SPBU, Pertashop, atau konsinyasi — masih ada pengecekan lagi untuk memastikan BBM-nya tetap sesuai dengan spesifikasi Ditjen Migas.

Dari keseluruhan proses pengujian tadi — baik Before Discharge, After Receive, serta pengujian ke pelanggan dan konsinyasi — seluruh hasil pengujian wajib dicantumkan ke dalam Test Report sebagai pengesahan hasil seluruh pengujian yang telah dilakukan.

Jujur, di awal saya berada disini, saya sempat bingung dengan istilah singkatan-singkatan ini. Tapi setelah beberapa kali diskusi dengan mentor, saya jadi paham mengapa prosesnya berlapis seperti itu — satu kali cek saja belum cukup untuk menjamin BBM yang sampai ke SPBU dan masyarakat benar-benar aman dan sesuai dengan spesifikasi.

Bukan Cuma Prosedur Internal

Yang membuat saya cukup yakin proses ini bukan formalitas belaka: laboratorium di FT Rewulu ternyata sudah terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan standar SNI ISO/IEC 17025:2017 — standar internasional untuk kompetensi laboratorium pengujian. Sertifikatnya berlaku sampai Juli 2030, dan mencakup metode uji standar seperti ASTM dan IP untuk parameter density, distilasi, flash point, kandungan air, sampai warna, di hampir semua produk yang ditangani di Fuel Terminal Rewulu yaitu Pertamax, Pertalite, Avtur, Pertamina Dex, Dexlite dan Biosolar.

Artinya, hasil ujinya bukan cuma catatan internal perusahaan yang bisa diklaim sepihak, tapi mengikuti metode yang diverifikasi lembaga akreditasi resmi.

Parameter yang diuji juga lumayan banyak, tergantung jenis BBM-nya — mulai dari 7 sampai 15 parameter. Yang paling sering: density (berat jenis, penting untuk performa mesin), flash point (titik nyala, terkait keamanan), kandungan air (air berlebih bisa merusak sistem bahan bakar kendaraan), dan kandungan sulfur (berpengaruh ke emisi). Untuk Avtur ada tambahan uji konduktivitas listrik, karena berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan. Untuk Biosolar, ada uji kadar ester metil dan keasaman total karena kandungan biodieselnya.

Konsisten, Bukan Sesekali

Karena penasaran seberapa konsisten proses ini benar-benar dijalankan — bukan cuma di atas kertas — saya coba menelusuri hasil uji resmi sepanjang Juli 2026, mulai dari tahap BBM diterima di terminal, sebelum dibongkar ke tangki timbun, sampai tahap akhir sebelum disalurkan ke SPBU, pelanggan industri, maupun konsinyasi.

Hasilnya lumayan bikin saya lega: di semua jenis BBM — Pertamax, Pertalite, Pertamina Dex, Dexlite, Solar/Biosolar, FAME, sampai Avtur — semuanya menunjukkan hasil yang memenuhi batas spesifikasi yang ditetapkan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. Tidak ada satu pun catatan yang keluar dari ambang batas aman.

Yang Saya Pelajari

Bagian yang paling menempel di kepala saya selama magang bukan detail teknisnya, tapi kenyataan bahwa proses menjaga mutu BBM ini benar-benar berulang setiap hari, bukan sesekali. Konsumen yang mengisi bensin di SPBU nggak akan pernah melihat langsung petugas mengambil sampel di terminal atau membaca hasil uji laboratorium. Tapi prosesnya memang berjalan konsisten — diverifikasi berkali-kali, bukan cuma diperiksa sekali lalu dianggap selesai.

Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman magang penulis di bagian Quality & Quantity Fuel Terminal Rewulu, PT Pertamina Patra Niaga, serta data hasil uji resmi periode Juli 2026 yang telah mendapat izin publikasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image