Healing dan Self-Reward: Solusi atau Pelarian Gen Z?
Kolom | 2026-08-20 21:43:19
Hidup Gen Z hari ini penuh paradoks. Segala kemudahan ada dalam genggaman. Belanja tinggal sentuh layar, hiburan tak pernah habis, tren datang setiap hari. Akan teapi di balik kemudahan itu, kecemasan yang mereka hadapi justru makin dalam. Hidup terasa mahal, masa depan tidak pasti, sementara tuntutan untuk tetap terlihat baik-baik saja tidak pernah berhenti.
Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 mencatat, 48% Gen Z merasa tidak aman secara finansial, naik tajam dari 30% pada tahun sebelumnya. Anehnya, di tengah tekanan finansial yang makin berat itu, pengeluaran untuk self-reward dan healing justru tetap tinggi. Konsumsi hari ini bukan lagi soal memenuhi kebutuhan. Ia sudah menjadi cara mengelola emosi.
“Sudah capek kerja, masa nggak boleh healing?”
“Sesekali self-reward, dong.”
Kalimat semacam ini terasa wajar, bahkan menolaknya bisa dianggap tidak mencintai diri sendiri. Di titik inilah, persoalan Gen Z sebenarnya bukan cuma soal ekonomi. Mereka sedang hidup dalam sistem yang membuat tekanan ekonomi dan budaya konsumtif tumbuh bersamaan.
Ketika Hidup Diserahkan pada Pasar
Dalam kapitalisme, mahalnya biaya hidup bukan semata soal orang tidak pandai mengatur uang. Sistem ini menyerahkan pemenuhan kebutuhan hidup kepada mekanisme pasar. Pendidikan, kesehatan, perumahan, energi, semua jadi komoditas yang harus dibeli. Sementara itu, tidak semua orang punya posisi tawar yang sama di pasar tenaga kerja. Harga terus naik, pendapatan tidak selalu mengikuti, lapangan kerja makin sempit, dan anak muda dituntut punya segudang sertifikasi serta personal branding hanya untuk mendapat pekerjaan layak.
Generasi ini pun masuk ke kehidupan dewasa dengan kecemasan yang menumpuk. Cukupkah penghasilan saya? Bisakah saya punya rumah? Mampukah saya menikah? Wajar jika keamanan finansial jadi momok. Ironisnya, sistem yang sama yang membuat mereka tertekan juga menawarkan konsumsi sebagai jalan keluarnya.
Di sinilah gaya hidup sekuler-liberal mengambil alih. Kebahagiaan dimaknai sebagai kebebasan menikmati apa saja yang diinginkan. Maka ketika lelah, solusinya belanja. Ketika stres, obatnya jalan-jalan. Ketika merasa tertinggal, harus buruan ikut tren.
Media sosial memperkuat pola ini. Orang tidak lagi hanya melihat barang, tapi melihat hidup orang lain yang tampak lebih bahagia, lebih mapan, lebih menarik. Lahirlah FOMO dan YOLO.
Konsumsi pun berubah jadi kompensasi psikologis. Bukan karena barang itu dibutuhkan, tapi karena seseorang ingin merasa hidupnya baik-baik saja. Masalahnya, rasa itu cepat berlalu. Tagihan tetap menunggu, masa depan tetap belum pasti, kecemasan kembali datang, dan seseorang membutuhkan self-reward berikutnya.
Tekanan hidup melahirkan stres, stres mencari pelarian lewat konsumsi, konsumsi menguras penghasilan, penghasilan yang terkuras melahirkan tekanan baru. Lingkaran ini berputar terus.
Hilangnya Jawaban atas "Untuk Apa Hidup?"
Ada masalah yang jauh lebih mendasar daripada sekadar kemampuan mengatur keuangan pada Gen Z, yaitu hilangnya jawaban atas pertanyaan untuk apa dia hidup. Ketika pertanyaan ini tidak terjawab dengan benar, ia akan mencari kebahagiaan dari apa saja yang tersedia di hadapannya. Jika kebahagiaan diukur dari uang, ia mengejar uang. Jika diukur dari validasi orang lain, ia mengejar validasi. Semua ukuran itu sifatnya sementara.
Islam memberi jawaban yang jauh lebih fundamental. Allah Swt. berfirman di dalam surah Adz-Dzariyat ayat ke-56 yang artinya, "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Ayat ini sangat jelas. Manusia tidak diciptakan untuk sekadar mencari uang, membeli barang, menikmati hiburan, lalu mengulang siklus itu sampai ajal tiba. Allah Swt. menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Dengan paradigma ini, kebahagiaan tidak lagi bergantung pada seberapa banyak seseorang bisa membeli atau seberapa sempurna hidupnya terlihat di media sosial. Kebahagiaan lahir dari ketundukan kepada Allah dan kehidupan yang dijalani sesuai aturan-Nya.
Islam Tidak Membiarkan Generasi Berjuang Sendiri
Islam tidak berhenti pada nasihat agar Gen Z pandai mengatur keuangan. Islam punya solusi yang menyeluruh dan solusi itu dimulai dari negara.
Dalam sistem Khilafah, negara menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat. Sumber daya alam yang menjadi milik umum dikelola langsung oleh negara untuk kemaslahatan rakyat, bukan diserahkan kepada korporasi atau mekanisme pasar. Negara juga memastikan setiap laki-laki punya lapangan kerja yang layak, sehingga ia mampu menafkahi diri dan keluarganya. Dengan mekanisme ini, rakyat, termasuk Gen Z, tidak dibiarkan berjuang sendiri menghadapi beban ekonomi.
Islam juga menutup pintu gaya hidup hedonis. Generasi muda dilindungi dari paparan konten yang merusak. Terutama konten yang bersumber di luar akidah Islam. Media dalam Khilafah tidak diarahkan untuk mengejar keuntungan atau menjadikan masyarakat konsumtif. Media berfungsi mengedukasi masyarakat agar lingkungan terus dilingkupi ketakwaan.
Dengan cara ini, generasi akan terlindungi keimanan dan ketakwaannya. Mereka tidak akan kehilangan tujuan hidupnya. Generasi yang berdiri di atas akidah memahami bahwa kebahagiaan sejati terletak pada ketaatannya kepada Allah dan keterlibatan membangun kehidupan yang diatur Islam.[]
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
