Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Utari Putri Kusumawardhani

Gen Z, Kerja Terus Sampai Lupa Istirahat? Ini Kaitannya dengan K3

Gaya Hidup | 2026-09-01 21:49:26

Bagi generasi Z yang mulai memasuki dunia kerja, pola pikir seperti ini dapat menjadi tantangan. Keinginan sukses di usia muda, mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya, dan membangun karir dengan cepat dapat membuat seseorang merasa harus terus bekerja dan sulit meluangkan waktu untuk istirahat. Padahal, tubuh dan pikiran memiliki batasan.

Fenomena yang menjunjung tinggi kerja keras dan produktivitas tanpa mengenal batas ini sering disebut sebagai hustle culture . Sekilas, budaya tersebut memberikan dampak positif karena dapat mendorong seseorang untuk bekerja keras dan tidak bermalas-malasan. Namun, ketika bekerja secara berlebihan dianggap sebagai sesuatu yang normal, maka kesehatan menjadi taruhannya.

Bayangkan seorang pekerja muda yang baru memulai karir. Ia ingin memberikan kesan yang baik, tidak dianggap kurang mampu, dan berusaha memenuhi setiap target yang diberikan. Pulang tepat waktu pun terkadang membuatnya merasa kurang produktif, sehingga pekerjaan yang belum selesai dibawa pulang untuk dikerjakan kembali. Waktu akhir pekan yang seharusnya digunakan untuk beristirahat dan memulihkan diri pun perlahan diisi dengan urusan pekerjaan.

Apakah kondisi seperti ini bisa disebut sebagai bentuk kerja keras, atau justru sudah menjadi sebuah risiko bagi kesehatan pekerja?

Permasalahannya mulai berkaitan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). K3 bukan hanya tentang mencegah kecelakaan kerja ataupun sekedar penggunaan alat pelindung diri. Di balik lingkungan kerja yang aman, terdapat pula kesehatan fisik dan psikologis pekerja yang perlu dilindungi. Ketika tuntutan untuk terus bekerja mulai mengorbankan waktu istirahat dan kehidupan pribadi, pekerja tidak hanya menghadapi kelelahan, tetapi juga risiko psikososial yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraannya.

Fenomena tersebut bukan sekadar gambaran yang muncul di media sosial. Berbagai penelitian mulai menunjukkan adanya permasalahan yang berkaitan dengan tekanan kerja, beban kerja, dan kesejahteraan pekerja muda. Hal ini menunjukkan bahwa hustle culture tidak hanya dapat dilihat sebagai sebuah tren gaya hidup, tetapi juga sebagai fenomena yang perlu diperhatikan dalam dunia kerja.

Ketika Sibuk Dianggap Sebagai Bukti Kesuksesan

Salah satu masalah dari hustle culture adalah munculnya anggapan bahwa semakin sibuk seseorang, semakin sukses pula dirinya. Seseorang yang bekerja sampai malam dapat dianggap lebih rajin. Orang yang selalu membalas pesan pekerjaan dengan cepat dianggap lebih bertanggung jawab. Bahkan para pekerja yang meluangkan waktu untuk beristirahat terkadang justru merasa bersalah karena menganggap dirinya tidak cukup produktif. Padahal, sibuk dan produktif merupakan dua hal yang berbeda.

Produktivitas seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa lama seseorang bekerja, tetapi juga dari bagaimana pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif tanpa mengorbankan kesehatan. Bekerja selama berjam-jam belum tentu menghasilkan pekerjaan yang lebih baik jika tubuh dan pikiran sudah mengalami kelelahan.

Dilakukannya hustle culture menjadi berbahaya ketika diterapkan tanpa batas. Nilai kerja keras yang sebenarnya positif dapat berubah menjadi tekanan. Seseorang tidak lagi bekerja karena ingin berkembang, tetapi karena takut tertinggal, takut dianggap malas, atau takut kalah dari orang lain.

Media sosial juga dapat memperkuat pola pikir tersebut. Kita sering melihat konten tentang “morning rutin”, bekerja sambil minum kopi, belajar setelah pulang kerja, mengejar banyak target dalam satu hari, hingga cerita mengenai seseorang yang sukses di usia muda. Konten seperti itu memang dapat menjadi motivasi. Namun, jika dikonsumsi terus-menerus tanpa melihat kenyataan di baliknya, seseorang dapat mulai membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

Masalahnya, media sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat pencapaiannya, tetapi tidak selalu melihat kegagalannya. Kita melihat rutinitasnya produktif, tetapi tidak mengetahui berapa banyak tekanan yang mungkin ia hadapi. Akhirnya muncul pemikiran, “Kalau dia bisa, kenapa aku tidak?” Dari menciptakan tekanan untuk terus produktif dapat berkembang.

Kerja Keras atau Sudah Lebih Jauh?

Bekerja keras tentu saja bukan sesuatu yang salah. Setiap orang membutuhkan usaha untuk mencapai tujuan. Pekerja juga memiliki tanggung jawab yang harus diselesaikan. Masalahnya bukan terletak pada kerja keras, melainkan ketika kerja keras mulai menghilangkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika pekerjaan selalu dibawa ke luar jam kerja. Awalnya mungkin hanya sesekali membuka laptop di rumah. Lama-kelamaan, membalas pesan pekerjaan pada malam hari menjadi suatu kebiasaan. Akhir pekan yang seharusnya digunakan untuk beristirahat juga diisi dengan menyelesaikan pekerjaan. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, waktu untuk pemulihan menjadi semakin sedikit.

Padahal, istirahat bukanlah lawan dari produktivitas. Istirahat merupakan bagian dari proses agar seseorang dapat kembali bekerja dengan kondisi yang lebih baik. Tubuh membutuhkan pemulihan, begitu pula pikiran.

Oleh karena itu, pulang sesuai jam kerja bukan berarti seseorang malas. Mengambil cuti bukan berarti tidak memiliki ambisi. Menolak pekerjaan tambahan ketika kapasitas sudah penuh juga bukan berarti tidak profesional.

Justru, kemampuan untuk mengenali batas diri merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan di tempat kerja.

Saat Hustle Culture Mulai Masuk ke Ranah K3

Dalam K3, keselamatan dan kesehatan pekerja tidak hanya berkaitan dengan bahaya fisik. Ada pula bahaya yang bersifat psikososial. Risiko psikososial dapat berkaitan dengan berbagai kondisi pekerjaan, seperti beban kerja yang berlebihan, tekanan waktu, kurangnya kontrol terhadap pekerjaan, hubungan kerja yang kurang baik, hingga keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

Budaya hiruk pikuk dapat memperburuk kondisi tersebut apabila bekerja secara berlebihan mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Bayangkan seorang pekerja yang selalu merasa harus memberikan hasil terbaik. Ia takut melakukan kesalahan, takut mengecewakan atasan, dan takut dianggap tidak mampu. Akibatnya, ia terus memaksakan diri meski sudah merasa lelah.

Pada awalnya mungkin terlihat seperti dedikasi. Namun, jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan yang semakin menumpuk. Pekerja dapat menjadi sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, mudah merasa stres, atau kesulitan memisahkan urusan pekerjaan dengan kehidupan pribadi.

Yang lebih diingatkan, kondisi seperti ini sering kali tidak terlihat dari luar. Seorang pekerja tetap datang ke kantor, menyelesaikan tugasnya, dan terlihat baik-baik saja. Padahal, di balik produktivitas tersebut mungkin terdapat tekanan yang terus menumpuk.

Oleh karena itu, kesehatan psikologis tidak dapat dianggap sebagai persoalan pribadi semata. Lingkungan kerja juga memiliki peran dalam menciptakan kondisi yang mendukung kesehatan pekerja.

Peran Perusahaan dalam Menghadapi Hustle Culture

Mengatasi hustle culture tidak bisa hanya dibebankan kepada pekerja. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Salah satunya adalah dengan memperhatikan beban kerja. Target memang diperlukan agar pekerjaan memiliki arah, namun target harus tetap realistis dan disesuaikan dengan kapasitas serta sumber daya yang tersedia.

Budaya kerja juga perlu diperhatikan. Perusahaan sebaiknya tidak menjadikan pekerja yang selalu pulang paling malam sebagai contoh pekerja utama yang paling parkir. Jika perilaku tersebut terus dipuji, pekerja lain dapat merasa harus melakukan hal yang sama agar dianggap rajin.

Selain itu, komunikasi di luar jam kerja juga perlu diperhatikan. Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan saat itu juga. Batasan antara waktu kerja dan waktu pribadi perlu dihargai agar pekerja memiliki kesempatan untuk beristirahat.

Perusahaan juga dapat membangun komunikasi yang terbuka sehingga pekerja tidak takut menyampaikan ketika beban kerja sudah terlalu berat. Dengan demikian, persoalan yang dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Dalam hal ini, K3 memiliki peran penting. K3 tidak hanya bertugas memastikan pekerja menggunakan alat pelindung diri atau mengikuti prosedur keselamatan, tetapi juga dapat berkontribusi dalam mengenali dan mengendalikan risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja, termasuk risiko psikososial.

Gen Z Boleh Ambisius, Tapi Jangan Sampai Kehilangan Diri Sendiri

Menjadi generasi yang bertekad bukanlah sebuah kesalahan. Justru, memiliki keinginan untuk belajar, berkembang, mendapatkan pengalaman, dan membangun karier merupakan hal yang baik. Namun, ambisi perlu berjalan bersama kesadaran terhadap batas diri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image