Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dahlia-Ku

Healing Tipis-Tipis Di Tengah Tekanan Ekonomi

Gaya Hidup | 2026-08-30 09:48:40
Picture : magnific (freepik)

Dimanapun berada, maka manusia pasti akan berhadapan dengan berbagai problem hidup baik di dunia nyata maupun dunia maya. Diantaranya problem stres di dunia kerja. Adanya tuntutan kerja yang tinggi dinilai sebagai salah satu faktor pemicu stres, kecemasan dan kelelahan secara mental. Begitupun soal karier bagi generasi muda (gen Z), masalah kontrak kerja, dan ketidakstabilan politik ekonomi sangatlah berpengaruh menciptakan rasa tidak aman dan merasa insecure walaupun sudah bekerja.

Belum lagi gencarnya opini tentang gaya hidup yang "ideal", pentingnya healing, dan self reward yang dianggap sebagai kebutuhan emosional dan harus dilakukan. Tawaran healing yang dilakukan mulai dari jalan-jalan dan rekreasi ke tempat yang membuat rileks, makan minum di tempat yang viral, membeli baju, sepatu, hingga tas kekinian. Biaya untuk healing dan self reward beragam, ada yang rendah hingga harus merogoh biaya yang cukup tinggi.

Semua opini tentang pentingnya healing dan self reward terus bersliweran di beranda media sosial, yang tentu sangat berpotensi untuk menambah tekanan secara mental dan ekonomi di kalangan gen Z. Sehingga walaupun kondisi ekonomi terlihat masih sulit, healing tipis-tipis tetap dijadikan sebuah kebutuhan yang "wajib" dilakukan.

Apalagi saat ini banyak kemudahan yang mendukung untuk biaya healing, misalnya pinjaman online dan aplikasi pay later. Hingga banyak gen Z yang akhirnya terjebak dengan model pembiayaan seperti ini.

Chief Product Officer Frich Aleksandra Medina mengatakan -- "Banyak Gen Z berada dalam situasi keuangan yang serba sulit, terjebak antara membayar kebutuhan saat ini atau menyisihkan uang untuk keadaan darurat dan membeli barang menggunakan kredit."

Siklus ini ibarat lingkaran setan, dimana saat gaji yang diperoleh bersifat stagnan (bahkan kecil), namun biaya hidup terus bertambah. Diantaranya untuk biaya kebutuhan dasar (makan, tempat tinggal, transportasi atau kendaraan) serta biaya healing dan self reward yang dianggap sebagai "kebutuhan wajib" yang harus dipenuhi.

Inilah gambaran kehidupan serba bebas (liberal) yang menjadikan healing, self reward dan konsumsi dengan biaya kredit sebagai solusi dari berbagai tekanan kerja dan ekonomi. Bahkan kemajuan teknologi dan perkembangan media sosial menjadi sarana tersebarnya tren budaya belanja besar pasak daripada tiang di kalangan gen Z.

Derasnya tren dan budaya belanja di atas, semakin mejauhkan gen Z pada tujuan hidup yang hakiki. Sebagian besar gen Z memandang dan mengukur kebahagiaan dari kenikmatan materi sesaat. Sehingga gaya hidup hedonis jadi pilihan yang diambil, meninggalkan nilai dan standar keridhoan Allah.

Perlu diketahui bahwa, gaya hidup besar pasak daripada tiang tidak terjadi dalam kehidupan yang diselimuti nilai-nilai kebaikan Islam. Dalam aqidah Islam, rakyat termasuk gen Z tidak akan dibiarkan berjuang sendiri hingga mengalami tekanan hidup. Negara menurut syariah mempunyai tanggungjawab untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh rakyat. Caranya melalui pengelolaan SDA untuk kesejahteraan rakyat, membuka luas lapangan kerja dan memastikan setiap laki-laki mendapat pekerjaan yang halal dan layak. Dengan jaminan ini, maka rakyat (termasuk gen Z) tidak akan pernah berjuang sendiri.

Di bidang pendidikan, negara akan memastikan agar masyarakat mempunyai paradigma yang benar dalam memandang kehidupan. Allah Ta'ala telah jelas memberikan panduan dalam surah Adz Dzariyat ayat 56, dimana tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah. Maka dengan visi misi hidup yang benar, generasi akan tumbuh menjadi sosok pembangun peradaban Islam yang cemerlang.

Kehidupan sosial dalam Islam sangat jauh dari gaya hidup hedonis dan tren kebahagiaan materi seperti kehidupan sekuler saat ini. Dalam Islam, pintu gaya hidup hedonis akan ditutup rapat. Disamping itu, perkembangan media sosial akan diarahkan agar berisi konten tentang pendidikan dan konten yang meningkatkan ketakwaan masyarakat.

Inilah perubahan mendasar yang diharapkan menjadi pilihan kita bersama, di tengah tekanan ekonomi dan gencarnya wacana healing tipis-tipis di tengah masyarakat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image