Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image AIESEC in UNS

Kesalahpahaman Budaya Masih Terjadi? Global Village Bantu Pemuda Lebih Paham

Kultura | 2026-08-20 13:51:06
sumber: AIESEC in UNS

Surakarta, 19 Agustus 2026 - Di tengah kemudahan akses informasi saat ini, rasanya tak sulit bagi kita untuk mengetahui apa pun tentang tempat yang jauh dari kita. Hanya dalam beberapa detik saja, kita dapat melihat bagaimana makanan di negara lain disajikan, pakaian tradisional dikenakan, hingga seperti apa kehidupan masyarakat yang hidup di belahan dunia lain. Namun, apakah hanya dengan mengetahui sesuatu berarti kita benar-benar memahaminya?

Kita mungkin tahu bahwa setiap negara memiliki tradisi yang berbeda. Kita juga bisa mengetahui nama makanan khas, pakaian tradisional, bahkan kebiasaan masyarakatnya dari internet.

Tapi, keingintahuan itu sering kali terhenti ketika kita telah mendapatkan informasi yang kita inginkan, tanpa benar-benar memahaminya. Untuk memahami mengapa sebuah tradisi begitu berarti bagi seseorang, dibutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar membaca atau menonton dari balik layar ponsel.

Hal inilah yang AIESEC in UNS coba selesaikan melalui Global Village 2026 yang diselenggarakan pada 5 Agustus 2026 lalu. Dengan mengangkat tema “The Journey Painted in Canvas: United Every Mosaic Piece of Culture”, kegiatan ini sukses menjadi wadah yang mempertemukan pemuda dari Surakarta dengan Exchange Participants (EPs) dari berbagai negara, seperti Vietnam, Brazil, India, Nigeria, Pakistan, Bangladesh, Myanmar, dan Portugal.

Di sana, peserta dapat mengenal berbagai cerita, makanan, hingga kebiasaan dari negara yang berbeda di Interactive Country Booths. Sementara itu, Cultural Parade menghadirkan keberagaman tradisi melalui pakaian dan penampilan dari para EP. Pengalaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan International and Local Performances.

Pertemuan itu membuat perbedaan budaya tidak lagi terasa canggung. Di sana, ada percakapan yang membuat setiap cerita terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka yang berbeda budaya. Sehingga dari sebuah rasa penasaran sederhana, peserta memiliki kesempatan untuk melihat bahwa satu budaya pun dapat memiliki banyak cerita ketika dilihat dari pengalaman asli orang yang menjalaninya.

Dari sini, proses mengenal budaya menjadi lebih personal.

Peserta tidak hanya mengetahui bahwa India, Nigeria, atau Vietnam memiliki budaya yang berbeda. Mereka dapat melihat bagaimana budaya tersebut diekspresikan dan dimaknai oleh orang-orang yang membawanya.

Hal tersebut sejalan dengan pandangan Maretha Dinar Cahyono, S.E., M.M., selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. “Global Village mampu menjadi ruang untuk saling mengenal, belajar, dan membangun pemahaman bahwa di tengah keberagaman latar belakang, kita memiliki nilai yang sama sebagai manusia,” ujarnya.

Alhasil, dapat dikatakan bahwa persoalannya saat ini bukan karena kita kekurangan informasi mengenai dunia. Informasi justru semakin mudah ditemukan setiap harinya dengan perkembangan internet dan teknologi. Tapi, yang menjadi tantangan adalah bagaimana informasi tersebut dapat membawa kita lebih dekat pada pemahaman yang sebenarnya mengenai perbedaan budaya di sekitar kita.

Global Village menunjukkan bahwa pemahaman dapat tumbuh ketika seseorang mau berhenti sejenak untuk mendengarkan cerita orang lain dan melihat perbedaan sebagai sesuatu yang bukan harus dijauhkan, tetapi sebagai kesempatan untuk belajar dan membuka wawasan kita dengan lebih luas.

Sebab, setelah sebuah festival selesai dan berbagai pertunjukan berakhir, hal yang paling berharga bukanlah seberapa banyak budaya yang berhasil kita lihat.

Melainkan seberapa berbeda cara kita memandang orang lain setelah kita mengenalnya.

Jadi, apakah kawan-kawan pembaca kini tertarik untuk melihat dunia bukan hanya sebagai informasi saja, tetapi juga untuk membentuk pengalaman dan pertemuan? Ikuti @unstoppable.youths untuk menemukan cerita serta kesempatan lintas budaya lainnya!

Penulis: Nakeisha Azzahra

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image