Ketika Anak Muda Indonesia Berdiri di Depan Kelas di Negara Lain
Eduaksi | 2026-07-31 21:56:44
Surabaya, 19 Juli 2026 - Teman-teman, bayangkan situasi ini. Teman-teman berdiri di depan sekelompok anak kecil yang menatap dengan mata penasaran, berbicara dalam bahasa yang teman-teman belum fasih, di sebuah sekolah di negara yang baru pertama kali teman-teman kunjungi. Tidak ada rekan yang bisa dimintai tolong dalam bahasa Indonesia, tidak ada panduan yang familier, hanya teman-teman dan kepercayaan yang teman-teman bawa dari rumah.
Itulah gambaran yang kira-kira dialami oleh anak muda Indonesia yang pernah mengikuti program mengajar di luar negeri. Dan menariknya, kebanyakan dari mereka menyebutnya sebagai salah satu pengalaman paling berharga yang pernah mereka jalani.
Mengajar di lingkungan asing bukanlah soal menjadi guru sempurna. Jauh dari itu. Ini soal bagaimana seseorang harus menemukan cara berkomunikasi meski hambatannya berlapis, mulai dari bahasa, budaya, sampai perbedaan cara belajar anak-anak di negara tersebut. Dalam proses itulah, tanpa disadari, banyak keterampilan yang terbentuk. Kemampuan membaca situasi, kreativitas dalam menyampaikan ide, dan keberanian untuk mencoba lagi meski gagal di percobaan pertama.
World Economic Forum dalam beberapa laporannya menyebutkan bahwa di antara keterampilan yang paling dibutuhkan tenaga kerja pada era ini, kemampuan interpersonal, fleksibilitas kognitif, dan kecerdasan emosional menempati posisi yang semakin penting. Ketiga hal tersebut bukan sesuatu yang bisa dilatih secara optimal di dalam lingkungan yang sudah terlalu dikenal dan terlalu nyaman.
AIESEC in Surabaya memfasilitasi anak muda di kota ini untuk menjalani pengalaman mengajar di luar negeri melalui program outgoing Global Teacher. Program ini menempatkan peserta di berbagai negara untuk berkontribusi dalam proyek pendidikan yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan sesuai SDG keempat. Peserta tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga belajar banyak dari cara komunitas setempat memandang pendidikan, anak-anak, dan masa depan.
Yang paling menarik dari cerita para alumni program ini adalah bagaimana mereka menggambarkan perubahan yang terjadi dalam diri mereka. Bukan perubahan besar yang dramatis, melainkan perubahan halus dalam cara mereka menghadapi orang yang berbeda pendapat, dalam cara mereka bereaksi saat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, dan dalam cara mereka memaknai kontribusi yang sesungguhnya.
Buat teman-teman yang tertarik untuk merasakan pengalaman serupa atau sekadar ingin tahu lebih dalam tentang program mengajar di luar negeri, kunjungi AIESEC.org untuk informasi lengkap dan ikuti cerita nyata dari peserta Surabaya di Instagram @aiesecsurabaya.
Inspire the world through education with AIESEC in Surabaya! (Marsha Muntahir)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
