Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dr. Tatu Zakiyatun Nufus, M.Pd

Terhubung Setiap Hari, Mengapa Kita Masih Kesepian?

Gaya Hidup | 2026-08-18 17:06:29

Setiap pagi, sebelum benar-benar bangun dari tempat tidur, banyak dari kita sudah lebih dulu terhubung dengan dunia. Ada pesan WhatsApp, notifikasi Instagram, video TikTok, berita, dan berbagai unggahan teman. Belum lagi berbagai grup yang seolah tidak pernah tidur. Menariknya, di tengah begitu banyak koneksi itu, semakin banyak orang justru berbicara tentang kesepian. Pertanyaannya sederhana: mengapa kita bisa merasa kesepian ketika hampir setiap saat terhubung dengan orang lain?

Mungkin kita perlu membedakan antara “being connected” dan “feeling connected”. Terhubung secara digital belum tentu membuat seseorang merasa dekat secara emosional.

Seseorang bisa memiliki ratusan bahkan ribuan teman di media sosial, tetapi ketika sedang menghadapi masalah, ia belum tentu memiliki seseorang yang bisa benar-benar diajak berbicara. Kita bisa mendapatkan puluhan “likes”, tetapi belum tentu mendapatkan satu orang yang bertanya, "Kamu sebenarnya baik-baik saja?" Di sinilah persoalan “loneliness” menjadi menarik untuk dilihat dari perspektif psikologi sosial.

Menurut WHO, kesepian merupakan perasaan subjektif ketika terdapat jarak antara hubungan sosial yang kita miliki dan hubungan yang sebenarnya kita inginkan atau butuhkan. Jadi, kesepian tidak selalu berarti tidak memiliki teman. Seseorang dapat berada di tengah keluarga, kampus, kantor, atau komunitas, tetapi tetap merasa sendirian.

Riset global WHO yang dirilis pada 2025 menunjukkan bahwa sekitar “satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian”. Yang menarik, kelompok anak muda, khususnya remaja, justru termasuk kelompok yang melaporkan tingkat kesepian paling tinggi.

Temuan ini terasa paradoks jika kita melihat kehidupan anak muda hari ini. Mereka adalah generasi yang memiliki akses komunikasi paling mudah dalam sejarah. Mereka dapat berbicara dengan siapa saja, kapan saja, dan dari mana saja. Tetapi akses komunikasi yang luas tidak selalu menghasilkan hubungan yang dalam.

Media sosial sebenarnya bukan musuh. Ia dapat membantu seseorang menjaga hubungan dengan keluarga yang jauh, menemukan komunitas, mencari informasi, bahkan memperoleh dukungan ketika sedang menghadapi masalah. Karena itu, persoalannya bukan sekadar berapa lama kita menggunakan media sosial, tetapi “bagaimana kita menggunakannya dan apa yang kita cari di dalamnya”. Sebuah penelitian yang menganalisis pengalaman remaja dalam komunitas dukungan daring juga menemukan gambaran yang menarik. Media sosial digunakan untuk mencari hubungan dan dukungan, tetapi pada saat yang sama para remaja juga banyak menceritakan pengalaman negatif seperti tekanan sosial dan pengalaman tidak menyenangkan di dunia digital. Artinya, media sosial dapat menjadi ruang untuk mendapatkan koneksi sekaligus menjadi sumber tekanan.

baru, menikah, membeli rumah, melanjutkan pendidikan, atau mencapai berbagai

WHO menjelaskan bahwa “social connection” bukan hanya soal jumlah hubungan yang kita miliki. Ada aspek kualitas dan fungsi hubungan: apakah kita merasa didukung, diterima, dihargai, dan memiliki hubungan yang positif dengan orang lain. Karena itu, seorang mahasiswa dapat memiliki banyak teman tetapi tetap merasa kesepian. Seorang guru dapat bertemu banyak orang setiap hari tetapi tidak memiliki tempat untuk berbagi ketika sedang menghadapi persoalan. Seorang anak muda dapat aktif di berbagai platform digital tetapi tetap merasa tidak ada orang yang benar-benar memahami dirinya.

“Banyak koneksi tidak selalu berarti banyak kedekatan.

Mungkin karena itu kita perlu belajar kembali tentang arti "hadir".

Sesekali, letakkan telepon ketika sedang berbicara dengan keluarga. Jangan hanya bertanya kepada teman melalui pesan, tetapi temui mereka ketika memungkinkan. Jangan hanya memberikan “like” ketika seseorang sedang mengalami kesulitan. Tanyakan bagaimana keadaannya. Kita juga perlu belajar mendengarkan.

Tidak semua orang yang bercerita membutuhkan nasihat. Kadang-kadang seseorang hanya ingin didengar dan merasa bahwa dirinya tidak sendirian. Pada akhirnya, teknologi bukanlah persoalan utama. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan adalah bagaimana manusia menggunakannya untuk membangun hubungan. Kita tidak harus meninggalkan media sosial. Kita hanya perlu memastikan bahwa kehidupan digital tidak menggantikan hubungan manusia yang nyata.

Sebab, memiliki banyak followers tidak selalu membuat kita merasa diterima. Memiliki banyak likes tidak selalu membuat kita merasa dihargai. Dan memiliki banyak kontak tidak selalu berarti kita memiliki seseorang untuk bersandar. Di tengah dunia yang semakin terkoneksi, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi, "Berapa banyak orang yang terhubung dengan saya?"

Tetapi:

“Dengan siapa saya benar-benar merasa terhubung?”

Pertanyaan sederhana itu mungkin menjadi pengingat bahwa manusia pada akhirnya tidak hanya membutuhkan koneksi. Kita membutuhkan “belonging”—perasaan bahwa kita diterima, dianggap penting, dan menjadi bagian dari kehidupan orang lain. Karena itu, jangan sampai kita menjadi generasi yang “selalu online, tetapi merasa sendirian”.

Barangkali, di tengah begitu banyak teknologi yang membuat kita semakin dekat, tugas kita justru sederhana: “kembali belajar menjadi manusia yang benar-benar hadir bagi manusia lainnya”.

Reference:

World Health Organization. (2025). From loneliness to social connection: Charting a path to healthier societies.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image