Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nurul Azizah Safitri

Minum Teh setelah Makan Daging Picu Anemia? Ini Penjelasan Kimianya

Gaya Hidup | 2026-07-26 20:29:19

Jakarta — Kebiasaan minum teh setelah makan menjadi hal yang lumrah di banyak keluarga Indonesia. Semangkuk nasi dengan lauk daging hampir selalu didampingi gelas teh hangat atau es teh. Pola ini terjadi di rumah makan, acara keluarga, hingga acara syukuran. Namun, di balik kebiasaan yang sudah mengakar ini, muncul pertanyaan yang sering diabaikan. Apakah minum teh setelah makan daging dapat memicu anemia?

Pertanyaan ini bukan sekadar mitos tanpa dasar. Teh mengandung senyawa bernama tanin. Senyawa ini dapat mengikat zat besi dari makanan sehingga penyerapannya di dalam tubuh berkurang. Interaksi ini penting diperhatikan karena prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia masih tergolong tinggi. Pola makan sehari-hari, termasuk kebiasaan minum teh, menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut.

Tanin bukan satu-satunya senyawa penghambat penyerapan zat besi. Kopi juga mengandung polifenol dengan sifat serupa. Meski begitu, teh tetap menjadi sorotan utama karena paling sering dikonsumsi bersamaan dengan waktu makan. Kondisi ini membuat peluang interaksi antara tanin dan zat besi menjadi lebih besar dibandingkan minuman lain.

TIDAK SEMUA ZAT BESI TERPENGARUH SAMA

Anggapan bahwa tanin mempengaruhi seluruh jenis zat besi dalam makanan ternyata salah. Zat besi dalam tubuh manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu zat besi heme dan zat besi non heme. Zat besi heme berasal dari hemoglobin dan mioglobin pada bahan pangan hewani seperti daging. Zat besi non heme berasal dari pangan nabati seperti sayuran dan biji-bijian.

Penelitian Paramita, Atasasih, dan Afifah (2024) yang dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan Komunitas menjelaskan bahwa tanin dalam teh lebih banyak mempengaruhi penyerapan zat besi non heme. Zat besi heme memiliki jalur penyerapan melalui reseptor khusus di usus sehingga lebih tahan terhadap pengaruh tanin.

Kesalahanpahaman lain juga sering muncul terkait kafein. Banyak orang mengira kafein dalam teh yang menghambat penyerapan zat besi. Padahal kafein dan tanin adalah dua senyawa yang berbeda. Kafein bekerja pada sistem saraf pusat, sedangkan tanin berperan sebagai agen yang mengikat ion logam, termasuk zat besi, di saluran pencernaan.

Anggapan bahwa hanya vegetarian atau vegan yang perlu waspada terhadap interaksi ini juga tidak tepat. Kelompok non vegan tetap mengonsumsi nasi dan sayuran setiap hari. Kedua bahan pangan ini mengandung zat besi non heme yang tetap dapat mempengaruhi tanin.

WAKTU MINUM TEH LEBIH BERPENGARUH DARIPADA FREKUENSI

Penelitian yang sama pada remaja putri di Pekanbaru menemukan hal menarik. Frekuensi konsumsi teh ternyata tidak berhubungan signifikan dengan kejadian anemia, dengan nilai p sebesar 0,381. Sebaliknya, waktu konsumsi teh yang berdekatan dengan waktu makan menunjukkan hubungan signifikan dengan anemia, dengan nilai p sebesar 0,021.

Temuan ini mengubah cara pandang terhadap risiko anemia akibat teh. Risiko tidak ditentukan oleh seberapa sering seseorang minum teh, melainkan oleh kapan teh tersebut diminum dalam kaitannya dengan waktu makan.

Jenis teh juga mempengaruhi kadar tanin yang terkandung di dalamnya. Teh hitam yang mengalami oksidasi lebih tinggi memiliki karakteristik senyawa berbeda dibandingkan teh hijau. Cara penyeduhan ikut berperan. Air bersuhu tinggi dan waktu seduh yang lama meningkatkan jumlah tanin yang larut ke dalam air teh.

BAGAIMANA TANIN MENGIKAT ZAT BESI

Secara kimiawi, tanin merupakan kelompok senyawa polifenol dengan berat molekul lebih dari 1.000 gram per mol. Penelitian Maryam, Suhaenah, dan Irmawan (2023) dalam Makassar Pharmaceutical Science Journal menjelaskan bahwa tanin memiliki struktur cincin benzena yang terikat dengan gugus hidroksil.

Gugus hidroksil pada tanin, khususnya pada bagian katekol atau gaoil, dapat memberikan pasangan elektron bebas kepada ion besi bermuatan positif atau Fe3+. Proses ini disebut kelasi. Ion besi yang terikat oleh tanin membentuk kompleks berukuran besar dan sulit larut dalam saluran pencernaan. Akibatnya, zat besi tersebut ikut terbuang bersama sisa makanan dan tidak sempat diserap oleh tubuh.

Semakin banyak gugus hidroksil yang berikatan dengan ion besi, semakin kuat pula kompleks kelat yang terbentuk. Inilah alasan mengapa tanin dapat mengikat zat besi secara efektif meski dalam jumlah kecil.

Zat besi heme relatif lebih aman dari proses ini. Ion besi pada zat besi heme masih terikat dalam struktur cincin porfirin pada molekul hemoglobin dan mioglobin, sehingga tidak berada sebagai ion bebas di saluran pencernaan. Struktur ini melindungi zat besi heme dari jangkauan gugus hidroksil tanin. Zat besi non heme tidak memiliki perlindungan serupa. Ion Fe2+ dan Fe3+ pada zat besi non heme berada bebas di lumen usus, sehingga lebih mudah berinteraksi dengan tanin.

VITAMIN C SEBAGAI PENYEIMBANG

Tubuh sebenarnya memiliki cara alami untuk mengurangi hambatan penyerapan zat besi akibat tanin, yaitu melalui vitamin C. Penelitian Afriandi dan Aktalina (2023) dalam Majalah Ilmiah Metoda menjelaskan bahwa vitamin C berperan sebagai agen pereduksi yang mengubah ion Fe3+ menjadi Fe2+.

Bentuk Fe2+ lebih mudah larut dan lebih mudah diserap melalui transporter logam divalen 1 atau DMT1 pada sel usus. Kajian literatur oleh Rahman (2025) dalam Vitalitas Medis menambahkan bahwa vitamin C juga dapat membentuk kompleks dengan zat besi yang bersifat larut dan mudah diserap tubuh.

Pengaruh tanin terhadap penyerapan zat besi juga bersifat tergantung dosis. Semakin tinggi konsentrasi tanin yang berada bersama zat besi pada waktu yang bersamaan, semakin banyak zat besi yang terperangkap dalam kompleks yang tidak larut. Jarak waktu antara minum teh dan makan juga menentukan besar kecilnya interaksi ini.

DAMPAK JANGKA PANJANG DAN SOLUSI PRAKTIS

Penghambatan penyerapan zat besi yang terjadi terus-menerus dapat menurunkan kadar hemoglobin dan meningkatkan risiko anemia. Gejala yang muncul antara lain mudah lelah, sulit konsentrasi, dan kulit tampak pucat. Kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus pada remaja putri, ibu hamil, dan kelompok dengan kebutuhan zat besi tinggi.

Solusi untuk mengatasi masalah ini sebenarnya sederhana dan tidak mengharuskan seseorang berhenti minum. Pertama, berikan jeda satu hingga dua jam antara waktu makan dan minum teh. Penelitian pada remaja putri menunjukkan risiko anemia menurun pada kelompok yang memberi jeda lebih dari satu jam setelah makan.

Kedua, tambahkan asupan vitamin C saat makan, misalnya dari jeruk, jambu biji, tomat, atau sambal berbahan cabai dan tomat. Vitamin C membantu mengubah Fe3+ menjadi Fe2+ sehingga zat besi non heme lebih cepat diserap tubuh.

Ketiga, gunakan teh yang lebih encer atau kurangi waktu penyeduhan. Semakin singkat waktu seduh, semakin sedikit tanin yang larut ke dalam air teh.

Edukasi mengenai waktu konsumsi teh juga penting diberikan pada program pemberian tablet tambah darah di sekolah. Tanin dapat berinteraksi dengan zat besi dari suplemen dengan mekanisme yang sama seperti zat besi dari makanan.

KESIMPULAN

Anggapan bahwa minum teh setelah makan daging langsung menyebabkan anemia perlu diluruskan. Zat besi heme pada daging relatif terlindungi dari pengaruh tanin karena strukturnya yang terikat pada molekul hemoglobin dan mioglobin. Interaksi tanin justru lebih berpengaruh pada zat besi non heme yang berasal dari pangan nabati.

Meski demikian, interaksi ini tetap perlu diperhatikan, terutama oleh kelompok dengan risiko kekurangan zat besi. Memberikan jeda waktu antara makan dan minum teh, serta menambah asupan vitamin C, menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan kebiasaan minum teh yang sudah melekat dalam budaya masyarakat Indonesia.

Sumber:

Afriandi, D., & Aktalina, L. (2023). Konsumsi Vitamin C dan Zat Besi pada Anemia Defisiensi Besi. Majalah Ilmiah Metoda, 13(3), 242–247.

Maryam, Suhaenah, AS, & Irmawan. (2023). Analisis Kandungan Senyawa Fenolik dan Tanin pada Isolat Fungi Endofit (IFEBK20) Bunga Kersen (Muntingia calabura L) dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Jurnal Ilmu Farmasi Makassar, 1(2), 35–42.

Rahman, NF (2025). Tinjauan Pustaka: Efektivitas Jambu Biji Merah terhadap Peningkatan Hemoglobin sebagai Upaya Pencegahan Anemia Ibu Hamil dan Remaja Putri. Vitalitas Medis: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 2(3), 209–217.

Paramita, IS, Atasasih, H., & Afifah, R. (2024). Hubungan Kebiasaan Konsumsi Teh dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di Kota Pekanbaru. Jurnal Kesehatan Komunitas, 10(2), 305–314.

Penulis:

Mahasiswa Ilmu Gizi, Universitas Esa Unggul:

(Nurul Azizah Safitri, Elsha Rahmatul Fadilah, Shofiya Novriyanti, Marisya

Melawati, Ayla Azzahra Mareta N.)

Tugas Project Base Learning Mata Kuliah Kimia Dasar (Gizi)

Pengampu. Dr. Reza Fadhilla, S.TP., M.Si.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image