Halal Bihalal: Ruang Pulang bagi Anak Muda Betawi
Sejarah | 2026-07-26 16:10:26
Oleh: Rafi Putra Rabbani, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UMJ, Keluarga Mahasiswa Betawi dan Kaukus Muda Betawi.
Bagi kami mahasiswa Betawi, halal bihalal bukan sekadar tradisi lebaran. Ia adalah salah satu dari sedikit ruang di Jakarta di mana kami masih merasa "pulang" bukan pulang ke rumah, tapi pulang ke cara kami disapa, cara kami bercanda, cara kami dihargai tanpa harus menjelaskan siapa kami.
Di kampus, kami belajar teori tentang identitas, multikulturalisme, kota global. Tapi di lapangan, kami lebih sering merasa jadi catatan kaki. Betawi disebut dalam buku, dipajang di panggung, lalu dilupakan dalam perencanaan kota.
Kami tumbuh di kota yang bangga dengan keterbukaannya, tapi diam-diam membuat kami canggung dengan akar kami sendiri.
Kondisi ini semakin terasa karena mahasiswa Betawi hari ini tersebar luas di seluruh provinsi se-Nusantara, bahkan banyak yang sedang menempuh studi di luar negeri.
Kami belajar dan berjejaring di mana-mana, membawa nama Betawi ke berbagai kampus, tetapi ketika pulang ke Jakarta, kami justru kesulitan menemukan ruang di mana identitas itu hidup secara alami bukan sebagai materi presentasi, melainkan sebagai cara hidup.
Karena itu, ketika Gubernur Pramono Anung menggagas Halal Bi Halal Akbar di Lapangan Banteng, kami melihatnya lebih dari seremoni. Kami melihatnya sebagai pengakuan bahwa Jakarta masih butuh ruang perjumpaan yang cair, bukan hanya ruang transaksi yang kaku, sebagaimana Lebaran Betawi yang sudah sudah
Multikulturalisme yang adil, bukan netral
Filsuf Will Kymlicka, dalam teori multikulturalisme, membedakan antara netralitas dan pengakuan. Negara yang netral memperlakukan semua budaya sama dengan cara mengabaikan semuanya. Sedangkan negara yang adil mengakui budaya tuan rumah sebagai kerangka bersama, sambil tetap memberi ruang bagi budaya pendatang.
Jakarta, selama ini, cenderung memilih netralitas yang kebablasan. Atas nama pluralisme, semua simbol lokal disingkirkan agar tidak "menyinggung" siapa pun. Hasilnya bukan kota yang adil, melainkan kota yang hambar di mana tidak ada yang merasa benar-benar memiliki.
Halal bihalal adalah contoh kecil dari pengakuan itu. Di sana, orang Betawi tidak perlu menjadi "pertunjukan budaya". Kami cukup menjadi tuan rumah yang menyuguhkan senyum, menyodorkan kue, dan membuka obrolan. Tidak ada panggung tinggi, tidak ada naskah. Yang ada hanya salaman, tawa, dan rasa saling memaafkan yang tidak dibuat-buat. Dan justru dalam suasana itu, orang dari latar mana pun bisa masuk, merasa diterima, tanpa merasa budayanya terancam.
Bagi generasi kami, ini penting. Kami adalah generasi yang fasih dengan istilah inclusivity, tapi sering kehilangan belonging. Kami bisa berteman dengan siapa saja, tapi jarang merasa memiliki kota ini sepenuhnya. Halal bihalal mengingatkan kami bahwa menjadi terbuka tidak harus berarti menjadi hambar. Jakarta bisa ramah pada semua, tanpa harus malu pada tuan rumahnya.
Kami di Keluarga Mahasiswa Betawi percaya, merawat tradisi seperti halal bihalal adalah bentuk perlawanan yang halus terhadap keterasingan. Bukan perlawanan yang marah-marah, melainkan perlawanan yang mengundang. Yang tidak mengusir pendatang, tapi memastikan yang asli tidak hilang.
Lebih dari itu, dengan banyaknya mahasiswa Betawi yang tersebar di Nusantara, halal bihalal juga membuka peluang mempertemukan para tokoh adat dari berbagai daerah. Bukan dalam rangka transaksional, melainkan untuk membangun kerja sama kebudayaan saling mengenal, saling belajar, dan saling menguatkan. Karena pada akhirnya, Jakarta sebagai simpul Nusantara memang seharusnya menjadi tempat budaya-budaya bertemu, bukan saling meniadakan.
Dan jika Lapangan Banteng bisa menjadi ruang itu tempat orang Betawi merasa dihargai, dan orang luar merasa diterima maka sesungguhnya Jakarta sedang mempraktikkan multikulturalisme yang sehat mengakui tuan rumah, merangkul tamunya.
Karena pada akhirnya, kota yang baik bukan hanya kota yang membangun gedung tinggi, melainkan kota yang masih menyediakan lapangan untuk warganya saling memaafkan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
