MERANCANG PEMBELAJARAN DENGAN MENDENGAR DAN MEMAHAMI
Teknologi | 2026-07-14 23:47:40Perkembangan teknologi membawa banyak perubahan dalam dunia pendidikan. Berbagai media pembelajaran terus bermunculan dengan tampilan yang semakin menarik. Meski demikian, pengalaman selama mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 09 Sidayu membuat saya memahami bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu bergantung pada teknologi. Hal yang lebih penting adalah memahami kebutuhan guru dan peserta didik sebelum merancang sebuah solusi.
Saat pertama kali mengikuti kegiatan di sekolah, saya mengira membuat media pembelajaran cukup mengandalkan kreativitas. Setelah melakukan observasi dan berdiskusi dengan guru, pandangan itu berubah. Guru lebih membutuhkan media yang sederhana, mudah digunakan, dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Media yang praktis justru lebih memudahkan guru menciptakan suasana belajar yang aktif daripada media yang rumit.
Pengalaman tersebut membuat saya semakin yakin bahwa pembelajaran yang bermakna lahir dari proses saling mendengar dan memahami. Teknologi tetap memiliki peran penting, tetapi bukan satu-satunya solusi dalam menciptakan inovasi pembelajaran. Inovasi akan memberikan dampak yang lebih nyata ketika dirancang berdasarkan kondisi di lapangan dan kebutuhan guru maupun peserta didik. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, saya belajar bahwa membangun pembelajaran yang bermakna tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga kesediaan untuk mendengar, memahami, dan menghadirkan solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan di ruang kelas.
Selama kegiatan berlangsung, saya juga melihat bagaimana anak-anak begitu antusias ketika guru bercerita. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian, aktif menjawab pertanyaan, dan berani menyampaikan pendapat. Suasana belajar terasa lebih hidup karena anak terlibat secara langsung dalam alur cerita. Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa metode storytelling masih sangat efektif diterapkan pada pendidikan anak usia dini karena mampu mengembangkan kemampuan berbahasa, imajinasi, dan interaksi sosial anak.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, tim pengabdian mengembangkan BOSARA 3D (Boneka Sarung Tangan dan Buku Cerita Pop-Up 3D) sebagai media pendukung kegiatan storytelling. Proses penyusunannya tidak langsung berjalan sempurna. Isi cerita, tampilan media, hingga cara penggunaannya beberapa kali diperbaiki berdasarkan masukan dari guru. Dari proses tersebut saya belajar bahwa kreativitas bukan hanya menghasilkan ide baru, tetapi juga tentang kesediaan menerima masukan agar media yang dikembangkan benar-benar memberikan manfaat.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat juga memberikan pengalaman yang berbeda dari pembelajaran di ruang perkuliahan. Selama berada di sekolah, saya tidak hanya terlibat dalam pelaksanaan program, tetapi juga belajar dari pengalaman para guru. Diskusi sederhana membuka pemahaman bahwa setiap sekolah memiliki kebutuhan yang berbeda. Solusi yang berhasil diterapkan di satu tempat belum tentu sesuai jika digunakan di tempat lain. Pengalaman tersebut membuat saya semakin yakin bahwa pembelajaran yang baik lahir dari proses saling mendengar dan memahami.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
