Ketika Pemimpin Mendengarkan Masukan Timnya
Agama | 2026-08-06 14:09:24Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Founder Insani Leadership)
Jika pernah menonton film Troy yang diadaptasi dari buku Illiad karya Homer, Anda akan menemukan scenes Raja Priam, Pangeran Paris, dan pasukan Troya menyelidiki keberadaan pasukan Yunani yang mundur hingga ke tepi pantai. Mereka tidak mendapati pasukan Yunani di sana. Hanya ada patung kuda troya dari kayu dalam ukuran raksasa. Raja mengira pasukan Yunani benar-benar telah mundur.
Pangeran Paris melihat ada yang aneh dari kuda troya itu. Dari mana asalnya? Bagaimana bisa berada di tepi pantai? Siapa yang membawanya? Paris terkesiap dan meminta agar kuda troya itu dibakar.
“Bakar kuda troya itu,” katanya dengan serius.
Namun, Raja Priam mencegah dan melarangnya. Raja berpendapat itu adalah hadiah dari dewa atas kemenangan mereka memukul mundur pasukan Yunani. Bahkan, dengan gegabahnya, Raja Priam memerintahkan kuda troya itu dibawa masuk ke benteng kota Troya.
Apa yang terjadi? Anda sudah tahu cerita filmnya. Ternyata itu siasat jenius dari panglima pasukan Yunani, Odiseus. Ketika raja dan rakyat Troya telah lelap tertidur usai merayakan kemenangan semu, pasukan Yunani pun keluar dari dalam kuda troya itu. Mereka tidak perlu berdarah-darah untuk bisa masuk benteng kota Troya yang kokoh seperti pada peperangan-peperangan sebelumnya dengan hasil gagal total.
Mereka membuka gerbang benteng kota Troya. Pasukan Yunani yang telah menunggu, menghambur masuk seperti gelombang air bah. Pasukan Yunani leluasa menyerang kota Troya di dalam bentengnya sendiri. Singkat cerita kota Troya jatuh. Raja Priam tewas. Masih beruntung Paris berhasil meloloskan diri dengan membawa beberapa anggota kerajaan.
Benteng yang selama ini menjadi pertahanan kokoh kota Troya luluh lantak dihancurkan pasukan Yunani akibat kesalahan raja mengambil keputusan. Ia mengabaikan masukan putranya yang menangkap sesuatu yang ganjil. Raja lebih memilih keputusannya sendiri yang membawa kehancuran bagi kerajaan dan rakyatnya.
Mari kita belajar dari pemimpin terbesar sepanjang masa, bagaimana seorang pemimpin dengan rendah hati mengubah keputusannya karena mendengarkan dan menerima masukan timnya. Begini kisahnya.
Pada tahun ke-2 Hijriah, negara Madinah yang baru seumur jagung mendapat ancaman dari musuh, kaum kafir Quraisy. Pasukan kafir Quraisy berjumlah seribu prajurit di bawah pimpinan Abu Jahal bergerak menuju Madinah. Rasulullah menyambutnya dengan menghimpun pasukan muslimin sejumlah 313 prajurit. Kedua pasukan berbeda akidah ini bergerak dan berhadap-hadapan di lembah Badar.
Lembah Badar diapit dua bukit; di timur diapit bukit ‘Udwah al-Qushwa dan di barat diapit bukit ‘Udwah ad-Dunya. Di sisi selatan, lembah Badar dibatasi bukit al-Asfal. Sejak masa sebelum Islam, lembah Badar sudah menjadi jalur yang banyak dilintasi kafilah-kafilah dagang asal Mekah atau Yaman yang hendak berniaga ke Syam. Tanahnya yang subur karena memiliki campuran pasir dan tanah dengan beberapa mata air, membuat para kafilah singgah beristirahat di lembah Badar dengan nyaman.
Lembah Badar menjadi saksi sejarah pasukan muslimin memukul telak pasukan kafir Quraisy dalam perang Badar. Perang ini meletus pada 17 Ramadhan tahun ke-2 H. Ketika itu, Rasulullah menghentikan pasukan kaum muslimin di dekat sebuah mata air. “Kita berkemah di sini,” terang Rasulullah.
Hubab bin al-Munzhir, seorang yang paling mengenal daerah itu, bertanya dengan santun, “Ya Rasulullah, apa pertimbangan baginda rasul mengambil keputusan berhenti di tempat ini? Kalau ini merupakan wahyu dari Allah, maka kami tidak akan maju atau mundur setapak pun dari sini? Ataukah ini hanya pendapat baginda rasul dan merupakan taktik berperang?”
Rasulullah menjawab, “Ini sekadar pendapatku dan merupakan taktik pertahanan perang.”
“Jika demikian, tidak tepat kita berhenti di sini. Mari kita beranjak dan pindah sampai ke tempat mata air yang terdekat dengan musuh, lalu sumur-sumur yang berada di belakang kita timbun. Kita buat kolam dan mengisinya dengan air sepenuhnya. Kita hadapi pasukan musuh dengan cadangan air berlimpah. Kita memiliki cadangan air minum, sementara mereka tidak,” tutur Hubab memberikan penjelasan.
Anda tahu, cadangan air minum menjadi sangat penting dalam perang konvensional. Perang konvensional bisa berlangsung berminggu-minggu, bahkan mungkin bisa berbulan-bulan. Bayangkan jika pasukan tidak mendapatkan akses air. Ini akan menjadi kelemahan yang fatal dalam peperangan. Salah satu strategi keberhasilan pasukan muslimin dalam perang khaibar melawan Yahudi adalah memutus sumber air Yahudi.
Bagaimana sikap Rasulullah terhadap masukan Hubab? Dengan rendah hati, Rasulullah menerima masukan dan pendapat Hubab yang cemerlang. Anda bayangkan, Rasulullah, sebagai pemimpin tertinggi pasukan muslimin, berlapang hati menerima masukan dari prajurit biasa. Bukan masukan dari sayidina Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib, atau Zubair bin al-Awwam, para kesatria andalan Rasulullah.
Dalam peperangan badar, pasukan muslimin meraih kemenangan gemilang. Sudah pasti ini merupakan pertolongan Allah semata (QS. 3: 123 – 126). Namun demikian, dalam perspektif kemanusiaan, ada ide jenius Hubab yang menjadi bagian strategi perang pasukan muslimin. Dan, itu bermula dari sikap rendah hati Rasulullah yang bersedia mendengarkan dan menerima masukan Hubab.
Jika Anda seorang pemimpin, sedia hatikah mendengarkan dan menerima masukan tim? Kemudian, Anda berlapang hati mengubah keputusan karena pendapat tim Anda lebih tepat? Renungkanlah, jika Anda merasa tinggi hati dan merasa tidak perlu mendengarkan masukan tim, bisa jadi Anda telah memposisikan diri melebihi Rasulullah.
Betapa tidak, jika Rasulullah saja, pemimpin tertinggi, sedia hati mendengarkan dan menerima masukan prajuritnya, apa alasan Anda menjaga gengsi dan mengabaikan saran dan masukan tim Anda? Jangan sampai organisasi atau perusahaan Anda bernasib seperti kota Troya. Hancur karena kesalahan raja mengambil keputusan dan mengabaikan pendapat putranya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
