Ilusi Angka di Atas Kertas
Risalah | 2026-08-06 17:21:14
Setiap dari kita pasti pernah, setidaknya sekali seumur hidup, merasakan kemampuan kita diukur berdasarkan angka-angka yang disebut nilai. Nilai ini bisa bervariasi, mulai dari 1 - 100, 1 - 10, atau bahkan di bangku perkuliahan yang umumnya memberi nilai antara angka 1 - 4. Nilai dalam wujud angka itu seakan memberikan pembenaran atas kemampuan yang kita miliki, termasuk rasa bangga, rasa lega, dan rasa telah menuntaskan pekerjaan. Namun dibalik itu semua, apakah angka-angka itu masih mampu menunjukkan kualitas kemampuan kita yang sebenarnya?
Contoh saja begini. Ketika kita duduk di bangku sekolah ataupun bangku kuliah, hampir pasti ada beberapa pelajaran yang kita kurang berminat, tapi terpaksa mengikuti pelajaran itu karena bersifat diwajibkan oleh lembaga pendidikan, katakanlah seperti pelajaran Matematika.
Dengan kondisi sedikitnya semangat, sulitnya memahami pelajaran, secara tiba-tiba laporan akhir menunjukkan Matematika mendapatkan nilai 95/100, padahal barangkali kita lebih banyak menebak jawaban daripada benar-benar menghitung sesuai konsep yang diujikan, entah karena faktor murni keberuntungan, rasa iba dari tenaga pengajar, kesalahan sistem penilaian, ataupun faktor lain yang menjadikan nilai angka pada pelajaran Matematika seakan mewakili bahwa kita 'mampu' dan 'menguasai', padahal kita tahu bahwa sebenarnya kemampuan yang dimiliki tidak sebaik angka yang ditampakkan.
Hal inilah yang sering membuat kita sebagai manusia seringkali termakan dengan ilusi angka di atas kertas. Angka-angka itu dianggap mewakili dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki, padahal kemampuan yang sebenarnya barangkali tidak sesuai dibanding angka yang ditampakkan.
Merasa sudah sanggup dan tidak mau melanjutkan proses pembelajaran karena menganggap diri sendiri sudah mendapatkan validasi angka, akhirnya kemampuan kita tidak pernah dikembangkan, tidak pernah ditingkatkan, karena merasa tidak ada kebutuhan untuk diasah.
Permasalahan ini kemungkinan tidak akan menjadi besar apabila kemampuan yang dimaksud tidak terlibat atau sedikit sekali digunakan pada kebutuhan di masa depan, namun menjadi bencana jika kemampuan yang dimaksud justru menjadi tulang punggung kehidupan.
Melamar pekerjaan yang membutuhkan kemampuan yang dimaksud, lalu menjadi kebingungan saat terjun langsung pada ranah praktik lapangan. Tentu ini membuat rugi diri sendiri karena ilusi yang dipupuk terus-menerus, juga merugikan orang lain yang membutuhkan kemampuan kita, karena dunia pekerjaan tidak hanya mencari ijazah dengan nilai gemilang, namun juga kemampuan nyata yang bisa digunakan dengan cemerlang.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menghilangkan angka-angka sebagai wujud nilai dari kemampuan yang kita miliki. Biarlah angka itu tetap ada sebagai bentuk mekanisme yang dipercaya oleh banyak pihak, namun kemampuan yang diwakili tetap harus ditingkatkan, baik sendirian maupun dengan bantuan orang lain. Harapannya, angka yang ditunjukkan diatas kertas betul-betul mewakili kemampuan yang dimiliki, bahkan bisa jadi kemampuan kita melebih angka-angka yang ditunjukkan.
Barangkali selama ini kita tidak pernah serius belajar meningkatkan kemampuan, melainkan hanya mencari validasi atas nama kemampuan tersebut.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
