Kemiskinan Bukan Aib Individu
Politik | 2026-08-06 15:34:30Selama ini, kemiskinan sering dianggap sebagai buah dari kesalahan individu. Kemalasan, rendahnya pendidikan, atau etos kerja yang buruk. Namun, kemiskinan tidak selalu lahir dari sikap individu, melainkan juga dari jerat sistem yang timpang. Saat kita menyalahkan keluarga miskin karena “tidak berusaha cukup keras”, mungkin kita lupa bahwa mereka terjepit dalam struktur sosial-ekonomi yang menghambat mobilitas mereka.
Kemiskinan secara sederhana dapat kita pahami sebagai kondisi ketika seseorang atau kelompok tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan hidup yang layak, baik secara material maupun sosial. Ini meliputi ketidakmampuan memperoleh pangan yang cukup, sandang, papan, serta akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan sanitasi.
Perbincangan mengenai persoalan kemiskinan salah satunya ialah pertanyaan kenapa seseorang menjadi miskin. Untuk menjawab persoalan itu, kita harus memahami dengan baik konsep kemiskinan dalam ilmu sosial. Setidaknya kemiskinan itu terbagi ke dalam dua jenis. Pertama, kemiskinan kultural, dan yang kedua, kemiskinan struktural.
Kemiskinan kultural adalah kondisi kemiskinan yang bersumber dari faktor-faktor budaya dan mentalitas individu atau kelompok, di mana nilai-nilai, kebiasaan, dan keyakinan yang dianut menumbuhkan sikap pasrah, fatalisme, atau rendahnya etos kerja sehingga menghalangi upaya keluar dari kemiskinan. Contohnya, perilaku menunda-nunda pekerjaan, mengerjakan pekerjaan asal-asalan, atau kebiasaan pasrah akan nasib. Pikiran bahwa kemiskinan ini adalah kehendak Tuhan.
Jenis lainnya adalah kemiskinan struktural adalah bentuk kemiskinan yang dihasilkan oleh ketimpangan dalam susunan sosial, ekonomi, dan politik, di mana kebijakan, sistem distribusi sumber daya, atau hubungan kekuasaan menghalangi sekelompok masyarakat untuk mengakses sarana penghidupan yang sebenarnya tersedia. Sederhananya, kemiskinan ini disebabkan oleh ketimpangan kondisi sosial politik yang menyebabkan seseorang terjebak dalam kemiskinan. Kemiskinan jenis ini adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor di luar diri individu. Di sini, kemiskinan bukanlah kesalahan individu, melainkan hasil dari sistem yang mengubur akses kelompok rentan terhadap hak-hak dasar. Mereka terjebak dalam lingkaran tanpa akhir. bukan karena malas, tetapi karena struktur sosial menutup jalan mereka.
Jika kita perhatikan dengan seksama, maka kita akan menyadari bahwa kemiskinan struktural yang menciptakan lingkaran setan kemiskinan. Keluarga miskin akan memiliki akses terbatas terhadap berbagai hal. Keluarga yang miskin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang layak, hal ini menyebabkan kondisi kesehatan mereka menjadi buruk dan kemudian berdampak pada rendahnya angka harapan hidup. Kondisi ini juga berdampak pada anak-anak mereka yang tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan dan berakibat pada malnutrisi seperti stunting.
Keluarga miskin yang memiliki kondisi kesehatan yang buruk juga kesulitan mendapatkan akses kesehatan yang layak. Rumah sakit menjadi sesuatu yang mereka hindari. Saat jatuh sakit mereka lebih memilih untuk menahannya daripada datang ke rumah sakit, alasannya karena kesulitan biaya. Pilihan lainnya adalah berobat ke pengobatan alternatif yang biasanya lebih murah akan tetapi seringkali tidak membantu malah memperburuk kondisi kesehatan mereka. Kondisi ini tak jarang berujung pada kematian. Jika orang tua meninggal, anak-anak pun menjadi yatim piatu yang terlantar, mengulangi nasib yang sama.
Keluarga miskin juga kesulitan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Kondisi ekonomi mereka membuat mereka tidak mampu untuk menghantarkan anak-anak mereka untuk mengenyam pendidikan. Mereka tidak sanggup untuk membayar biaya SPP dan biaya kebutuhan lainnya seperti seragam, buku tulis dan ongkos untuk ke sekolah. Jika pun ada, sebagian besar hanya mampu mengenyam hingga SMA. Mereka yang lulus SMA jarang mampu melanjutkan ke perguruan tinggi, sehingga hanya menjadi tenaga kerja tidak terampil.
Akibatnya, tanpa pendidikan berkualitas, mereka terdampar di pekerjaan berupah rendah. Mereka hanya mampu bekerja sebagai tenaga kerja kasar. Menjadi buruh tani, tukang bangunan, pemulung, dan tak sedikit yang kemudian justru terlibat dalam aktivitas kriminal. Kondisi ini membuat mereka kemudian melanjutkan mata rantai kemiskinan dari keluarga mereka.
Keluarga miskin, tidak mampu mengakses kesehatan berakibat kepada kondisi kesehatan yang buruk dan produktivitas kerja yang rendah. Akibatnya, anak-anak mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Riwayat yang pendidikan yang tak berkualitas menjadikan mereka tenaga kerja yang tak terampil sehingga menjadi tenaga kerja yang murah. Akibatnya kemudian mereka kembali menjadi orang miskin, dan memulai lingkaran kemiskinan kembali.
Dapat kita bayangkan betapa buruknya kondisi itu. Bagaimana caranya keluarga miskin dapat terlepas dari lingkaran kemiskinan tersebut. Salah satu syarat agar dapat terjadinya mobilitas sosial adalah tersedianya akses kepada pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Ketika semua akses itu tertutup, maka lingkaran setan kemiskinan ini akan terus berlanjut yang melahirkan keluarga-keluarga miskin dikemudian hari. Kemiskinan struktural adalah cermin kegagalan kolektif, bukan aib individu. Selama kita masih berpuas diri menyalahkan korban, selama itu pula kemiskinan akan tetap menjadi warisan abadi.
Perlu kita tegaskan bahwa memutus lingkaran kemiskinan bukan semata tanggung jawab individu, melainkan tugas kolektif seluruh elemen bangsa seperti pemerintah, swasta, komunitas, dan masyarakat sipil. Upaya nyata seperti perluasan akses pendidikan berkualitas, jaminan layanan kesehatan yang terjangkau, serta penciptaan lapangan kerja layak harus dirancang secara sinergis dan berkelanjutan. Kebijakan pro-rakyat kecil yang inklusif akan membuka jalan bagi mobilitas sosial, memecah jebakan struktural yang mengekang generasi terdampak. Hormati hak-hak dasar warga miskin, bangun solidaritas, dan lawan stigma budaya yang menyesatkan. Hanya dengan demikian kita dapat mewariskan masa depan yang lebih adil dan sejahtera bagi seluruh anak bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
