Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hayatun Nufus

Ketika Setiap RW Memiliki Cerita dan Potensi untuk Berkembang

Edukasi | 2026-07-30 10:48:34
Mahasiswa KKN UMT Desa Koang Jaya

Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan sekadar menjalankan program kerja di tengah masyarakat. Lebih dari itu, KKN menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengenali kehidupan sosial, budaya, serta potensi yang dimiliki suatu wilayah. Hal inilah yang kami rasakan selama melaksanakan KKN Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) di Desa Koang Jaya yang berlangsung pada 21 Juli hingga 20 Agustus 2026. Sebanyak 26 mahasiswa dari berbagai fakultas diterjunkan untuk hidup berdampingan dengan masyarakat, belajar dari mereka, sekaligus berkontribusi melalui berbagai program pengabdian.

Salah satu kegiatan yang kami lakukan adalah evaluasi kewilayahan dengan mengunjungi setiap RW di Desa Koang Jaya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenali karakteristik wilayah, memetakan potensi yang dimiliki, sekaligus memahami kebutuhan masyarakat secara lebih mendalam. Dari proses observasi tersebut, kami menyadari bahwa setiap RW memiliki identitas yang unik. Identitas inilah yang menjadi kekuatan utama Desa Koang Jaya dan layak untuk terus dikembangkan.

RW 1, misalnya, dikenal sebagai Kampung Inggris. Julukan tersebut mencerminkan adanya semangat masyarakat dalam menghadirkan lingkungan yang mendukung pembelajaran bahasa Inggris. Potensi ini bukan hanya menjadi kebanggaan warga setempat, tetapi juga dapat menjadi daya tarik edukasi apabila terus dikembangkan melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan lembaga pendidikan. Kampung Inggris menunjukkan bahwa desa pun mampu menjadi ruang lahirnya inovasi di bidang pendidikan.

Beranjak ke RW 2, kami menemukan geliat ekonomi masyarakat melalui keberadaan Kampung Tempe dan pabrik bawang. Aktivitas produksi yang dilakukan warga membuktikan bahwa industri rumahan masih menjadi salah satu penopang perekonomian desa. Dengan pendampingan dalam aspek pemasaran, pengemasan produk, dan pemanfaatan teknologi digital, potensi tersebut dapat berkembang menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing lebih luas.

Sementara itu, RW 3 menghadirkan wajah desa yang ramah bagi anak-anak melalui Taman Belajar dan Bermain (Tamberin). Kehadiran ruang belajar dan bermain ini menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga pada pembentukan sumber daya manusia sejak usia dini. Tempat seperti Tamberin menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas, literasi, dan interaksi sosial anak-anak sebagai generasi penerus desa.

Potensi lainnya terdapat di RW 4 yang memiliki Pintu Air 10. Selain berfungsi sebagai infrastruktur pengairan, kawasan ini memiliki nilai strategis dan potensi sebagai sarana edukasi mengenai pengelolaan sumber daya air. Keberadaan infrastruktur tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan desa juga bertumpu pada pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan mampu mendukung aktivitas masyarakat dalam jangka panjang.

Di RW 5, kami mengenal lebih dekat budaya lokal melalui Silat Beksi, salah satu seni bela diri tradisional Betawi yang masih dilestarikan oleh masyarakat. Tidak hanya itu, terdapat pula kuliner khas berupa Nasi Jagal yang menjadi bagian dari identitas wilayah tersebut. Warisan budaya dan kuliner seperti ini bukan hanya perlu dipertahankan, tetapi juga dipromosikan agar dikenal lebih luas sebagai kekayaan budaya Desa Koang Jaya.

Selain berbagai potensi yang dimiliki masing-masing RW, Desa Koang Jaya juga memperlihatkan wajah keberagaman yang harmonis. Keberadaan Vihara Boen Sak Bio serta sebuah pura menjadi bukti bahwa masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda dapat hidup berdampingan dengan damai. Nilai toleransi seperti ini merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam membangun kehidupan masyarakat yang inklusif dan saling menghormati.

Bagi kami, evaluasi kewilayahan bukan hanya menjadi bagian dari pelaksanaan program KKN, tetapi juga menjadi proses pembelajaran yang membuka cara pandang baru terhadap desa. Potensi desa sering kali tidak tampak apabila hanya dilihat dari permukaannya. Namun, ketika mahasiswa hadir, berdialog dengan masyarakat, dan mengamati kehidupan sehari-hari, akan terlihat bahwa setiap sudut desa menyimpan kekuatan yang dapat dikembangkan.

Pengalaman selama KKN mengajarkan bahwa pembangunan desa tidak selalu dimulai dari proyek besar. Mengenali identitas wilayah, menjaga budaya lokal, mengembangkan potensi ekonomi masyarakat, menyediakan ruang belajar bagi anak-anak, serta merawat kerukunan antarumat beragama merupakan fondasi penting bagi kemajuan desa. Ketika potensi-potensi tersebut dikelola secara bersama-sama, Desa Koang Jaya memiliki peluang untuk berkembang sebagai desa yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kaya akan nilai budaya, pendidikan, dan toleransi.

Melalui KKN, kami belajar bahwa mahasiswa bukan hanya datang untuk mengabdi, tetapi juga untuk belajar dari masyarakat. Sebab, masyarakat adalah guru terbaik yang mengajarkan arti gotong royong, kepedulian, dan semangat membangun dari hal-hal sederhana. Desa Koang Jaya telah menunjukkan bahwa setiap RW memiliki cerita, dan dari cerita-cerita itulah lahir harapan akan masa depan desa yang lebih maju.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image