Mengubah Kebiasaan Masyarakat Melalui Kesadaran Pengelolaan Sampah
Teknologi | 2026-07-14 17:48:47
Pengabdian masyarakat mahasiswa Untag SUrabaya menjadi salah satu kesempatan bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke tengah masyarakat, memahami berbagai permasalahan yang ada, serta menghadirkan solusi yang dapat memberikan manfaat nyata. Selama pelaksanaan Pengabdian di Desa Purwodadi, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, salah satu persoalan yang menjadi perhatian saya adalah masih belum optimalnya kebiasaan masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah rumah tangga.
Pada dasarnya, masyarakat telah memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Namun, kebiasaan untuk memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik dan anorganik, masih belum banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, berbagai jenis sampah bercampur menjadi satu sehingga menyulitkan proses pengolahan kembali dan mengurangi potensi pemanfaatan sampah yang masih bernilai.
Menurut saya, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Permasalahan ini lebih berkaitan dengan pola kebiasaan yang sudah terbentuk sejak lama serta terbatasnya informasi mengenai pentingnya pemilahan sampah. Sebagian masyarakat masih memandang sampah sebagai sesuatu yang harus segera dibuang tanpa mengetahui bahwa beberapa jenis sampah sebenarnya dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang memiliki manfaat.
Melalui Pengabdian , saya melihat bahwa masyarakat sebenarnya memiliki keinginan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih. Akan tetapi, diperlukan pendampingan dan edukasi yang mudah dipahami agar masyarakat mengetahui langkah sederhana dalam mengelola sampah. Perubahan perilaku tidak dapat terjadi hanya dengan menyediakan fasilitas, tetapi membutuhkan pemahaman dan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus.
Salah satu upaya yang kami lakukan dalam program Pengabdian adalah memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah serta memperkenalkan konsep bank sampah kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diberikan pemahaman bahwa sampah tidak selalu menjadi barang yang tidak berguna. Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan logam masih memiliki peluang untuk didaur ulang maupun memiliki nilai jual.
Menurut pandangan saya, pengelolaan sampah yang baik membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Pemerintah desa, masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi pemuda, serta mahasiswa memiliki peran masing-masing dalam membangun budaya peduli lingkungan. Edukasi yang dilakukan secara rutin akan lebih memberikan dampak dibandingkan kegiatan sosialisasi yang hanya dilakukan sekali, karena membangun kebiasaan membutuhkan proses dan konsistensi.
Dari pengalaman selama mengikuti, saya memahami bahwa solusi terhadap permasalahan lingkungan tidak selalu harus berupa teknologi yang kompleks. Tindakan sederhana seperti memilah sampah dari rumah dapat menjadi langkah awal yang memberikan perubahan besar. Kebiasaan kecil tersebut dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah menjadi sumber ekonomi baru.
Pada akhirnya, permasalahan rendahnya kesadaran dalam memilah sampah merupakan tantangan yang dapat diselesaikan melalui edukasi, pendampingan, dan keterlibatan bersama. Program ini menjadi salah satu media untuk membangun kesadaran masyarakat agar pengelolaan sampah tidak hanya menjadi kegiatan sementara, tetapi dapat berkembang menjadi budaya yang terus diterapkan. Dengan adanya perubahan kebiasaan tersebut, diharapkan Desa Purwodadi dapat menjadi lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Penulis merupakan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Sub Kelompok 3 Desa Purwodadi, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Ir. Kukuh Setyadjit, M.T.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
