Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muti Ara

Dua Dekade Dramaturgi UNAIR: Panggung Terus Menyala, Arsip Terlupakan

Sastra | 2026-07-17 16:56:29

Setiap pementasan selalu berakhir dengan cara yang sama. Lampu dipadamkan, properti dibongkar, kostum dikembalikan ke ruang penyimpanan, lalu para penonton pulang membawa kesan mereka masing-masing. Yang tersisa hanyalah foto, rekaman, atau cerita yang terus berpindah dari mulut ke mulut. Namun sayangnya, tidak semua pertunjukan memiliki dokumentasi yang tersimpan dengan baik untuk dikenang melalui arsip.

Kesadaran itu muncul ketika saya mencoba menelusuri perjalanan Dramaturgi di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga. Mata kuliah yang telah berjalan sejak 2005 ini telah melahirkan puluhan pementasan dengan naskah yang beragam. Namun, ketika menelusuri jejaknya untuk dirangkai menjadi sebuah sejarah, banyak potongan yang ternyata sudah hilang. Beberapa rekaman pertunjukan tidak lagi diketahui keberadaannya. Dokumentasi tersebar di penyimpanan pribadi. Bahkan, urutan pementasan pada tahun-tahun awal tidak lagi dapat dipastikan hanya melalui narasumber yang diwawancarai. Ironisnya, pementasan terus berlangsung setiap tahun.

Dramaturgi lahir bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan kurikulum. Dari hasil wawancara dengan dosen pengampu, mata kuliah ini muncul sebagai jawaban atas kebutuhan mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia untuk mengalami proses produksi teater secara langsung. Tidak semua mahasiswa bergabung dengan komunitas teater kampus seperti Teater Mata Angin atau Teater Gapus. Dramaturgi kemudian menjadi ruang belajar yang mempertemukan mereka dengan proses kreatif sebuah pertunjukan, mulai dari membaca naskah, mengelola produksi, hingga berdiri dan tampil di hadapan penonton.

Selama dua dekade, berbagai lakon penting telah dipentaskan. Malam Jahanam karya Motinggo Boesje, RT 0 RW 0 karya Iwan Simatupang, Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer, Konglomerat Burisrawa karya N. Riantiarno, hingga sejumlah naskah lain pernah dihidupkan kembali melalui pementasan tersebut. Ada beberapa naskah yang dipentaskan lebih dari satu kali dalam waktu yang berbeda. Setiap angkatan membaca naskah yang sama dengan cara yang berbeda pula. Sayangnya, dokumentasi Dramaturgi UNAIR ini tidak utuh atau hilang entah kemana. Padahal, bagi sejarah, dokumentasi justru merupakan bagian yang paling penting dalam sebuah acara. Tanpa arsip, kita hanya memiliki ingatan. Sementara ingatan manusia selalu memiliki batas.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa kampus masih memiliki pekerjaan rumah dalam merawat sejarah keseniannya sendiri. Selama ini, perhatian lebih banyak diarahkan pada keberhasilan menyelenggarakan pertunjukan, sementara upaya mengarsipkan proses kreatif sering kali berjalan seadanya. Akibatnya, ketika seseorang ingin menelusuri perkembangan Dramaturgi dari masa ke masa, ia harus menyusun kepingan-kepingan informasi dari wawancara, unggahan internet, atau koleksi pribadi para alumni.

Padahal, perguruan tinggi bukan hanya tempat untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Setiap pertunjukan yang lahir merupakan bagian dari perjalanan dari pengalaman intelektual mahasiswanya. Pilihan naskah, tema yang diangkat, hingga bentuk pementasan menunjukkan bagaimana sebuah generasi memandang persoalan sosial pada masanya. Jika jejak-jejak itu hilang, yang ikut menghilang bukan sekadar sejarah sebuah mata kuliah, melainkan juga rekam kebudayaan kampus.

Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dramaturgi Universitas Airlangga telah melewati berbagai generasi, berganti kurikulum, berganti sutradara, berganti pemain, dan terus menemukan cara baru untuk berbicara melalui panggung. Tradisi itu patut untuk diapresiasi. Namun, hal ini tidak cukup hanya dilakukan setiap kali tirai dibuka. Ia juga perlu dijaga dan diarsipkan. Sebab, sejarah tidak selalu hilang karena peristiwanya tidak pernah terjadi. Sering kali sejarah menghilang hanya karena tidak ada yang sempat menyimpannya.

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image