Mengapa Kita Boros di Hari Jumat?
Belanja | 2026-07-17 01:01:26Jika ada satu hari dalam seminggu di mana aplikasi belanja daring di ponsel kita mendadak menjadi sangat sibuk, hari itu hampir pasti adalah hari Jumat. Sejak Jumat siang, tepatnya setelah jam istirahat atau ketika perhatian kita pada pekerjaan mulai mengendur, jempol kita secara ajaib mulai melakukan gerilya tak sadar: membuka keranjang belanja (add-to-cart), melihat-lihat promo akhir pekan, atau sekadar menelusuri katalog barang hobi yang sudah seminggu penuh hanya kita pandangi.
Bagi sebagian orang, Jumat malam adalah waktunya bergeser ke pusat perbelanjaan atau supermarket untuk melakukan ritual "belanja mingguan". Namun, jika kita perhatikan isi keranjang belanjaan kita di hari Jumat, ada sebuah pola psikologi ekonomi yang sangat unik sedang bekerja di sana.
Hubungan Rumit Antara Lelah Mental dan 'Retail Therapy'
Dalam ilmu perilaku konsumen, ada sebuah konsep yang disebut sebagai Belanja Kompensasi (Compensatory Consumption). Sederhananya: ketika kita merasa lelah secara mental, tertekan oleh tenggat waktu pekerjaan sejak hari Senin, atau jenuh dengan rutinitas, otak kita secara alami akan mencari cara cepat untuk mendapatkan hormon kebahagiaan (dopamine).
Belanja adalah salah satu jalur pintas tercepat untuk mendapatkan dopamin tersebut.
- Di hari Senin sampai Kamis, logika keuangan kita masih bekerja dengan sangat ketat karena energi mental kita masih penuh untuk melakukan kontrol diri.
- Namun di hari Jumat sore, pertahanan itu runtuh. Kita merasa "berhak" atas sebuah penghargaan setelah berhasil melewati minggu yang berat.
Di sinilah lahir jargon pembenaran paling populer abad ini: "Self-reward" atau "Apresiasi diri". Kalimat sakti "Kan sudah kerja keras seminggu ini" menjadi stempel sah yang mengubah barang tersier menjadi kebutuhan primer dalam sekejap.
Anatomi Belanja Hari Jumat: Dari yang Mewah hingga yang 'Random'
Berbeda dengan belanja hari biasa yang didominasi oleh perencanaan dan daftar kebutuhan yang kaku, belanja di hari Jumat malam biasanya jauh lebih impulsif dan ekspresif. Coba perhatikan bagaimana isi keranjang kita bergeser:
- Peningkatan Kualitas Bahan Makanan: Di supermarket, kita yang biasanya memilih bahan standar di hari biasa, mendadak beralih membeli daging potong premium, camilan impor yang harganya agak mahal, atau buah-buahan segar berukuran besar untuk dinikmati sambil menonton film di rumah.
- Belanja Barang Hobi: Hari Jumat adalah waktu eksekusi bagi barang-barang hobi yang sudah mengendap lama di daftar keinginan (wishlist). Mulai dari perlengkapan kamera, aksesori hobi, pakaian estetis, hingga pernak-pernik rumah. Logikanya sederhana: kita membelinya hari Jumat agar bisa segera digunakan atau dinikmati saat Sabtu dan Minggu.
- Ilusi 'Mumpung Libur': Kita sering membeli barang dalam jumlah banyak dengan asumsi "untuk stok mumpung libur akhir pekan". Padahal, sering kali kapasitas konsumsi kita di akhir pekan tidak sebanyak yang kita bayangkan saat belanja dalam kondisi panik/lelah di hari Jumat malam.
Menghitung Biaya Peluang 'Self-Reward' yang Rasional
Secara ekonomi, melakukan self-reward melalui belanja di hari Jumat sebenarnya sangat manusiawi dan fungsional untuk menjaga kesehatan mental kita (mental decompression). Namun, tantangannya adalah menjaga agar ritual akhir pekan ini tidak berubah menjadi penyesalan finansial saat hari Senin pagi tiba.
Siasat paling taktis untuk mengendalikan "belanja hari Jumat" ini bukanlah dengan melarang diri kita belanja sama sekali, karena itu hanya akan membuat kita semakin stres, melainkan dengan menerapkan Aturan 24 Jam atau membuat "Anggaran Khusus Senang-Senang".
Cobalah masukkan semua barang incaran Anda ke dalam keranjang belanja di hari Jumat siang, tetapi tahan diri Anda untuk tidak menekan tombol checkout hingga Sabtu siang. Sering kali, setelah kita tidur nyenyak di Jumat malam dan otak kita sudah kembali segar di hari Sabtu, keinginan menggebu-gebu untuk membeli barang-barang tersebut mendadak hilang setengahnya.
Pada akhirnya, keranjang belanja di hari Jumat adalah cermin dari usaha kita untuk menyeimbangkan hidup. Di dalam tumpukan barang belanjaan itu, sebenarnya yang kita beli bukanlah sekadar objek fisiknya, melainkan rasa lega, kepuasan, dan ruang napas yang dihadirkannya setelah seminggu penuh bergelut dengan kesibukan dunia kerja. Selamat menikmati Jumat malam, dan selamat memanjakan diri secara bijak!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
