Menjemput Adab yang Hanyut di Aliran Gawai Anak-Anak Kita
Eduaksi | 2026-07-17 08:48:52
Beberapa waktu lalu, sebuah video pendek melintas di beranda media sosial saya. Tayangan itu memperlihatkan seorang anak usia sekolah dasar yang sedang mengamuk kepada orang tuanya hanya karena masalah sepele. Hal yang membuat dada terasa sesak bukan hanya amarah si anak, melainkan pilihan kata yang meluncur dari mulutnya. Kosakata kasar, nada bicara yang meremehkan, dan hilangnya rasa hormat terpampang begitu telanjang tanpa rasa bersalah. Di kolom komentar, ribuan orang menghela napas dan mengeluhkan hal serupa, merasa bahwa anak zaman sekarang semakin kehilangan tata krama.
Fenomena ini bukan kasus tunggal yang terjadi di ruang hampa. Di jalanan, di lingkungan sekolah, hingga di dalam rumah kita sendiri, ada pergeseran nyata dalam cara anak-anak berkomunikasi. Sapaan ramah kepada tetangga atau orang yang lebih tua kini semakin jarang terdengar. Permintaan tolong, ucapan terima kasih, dan kata maaf yang dahulu menjadi pondasi dasar pergaulan sosial seolah lenyap dari perbendaharaan kata harian mereka
Ketika Algoritma Merebut Peran Pengasuhan
Mengapa kemunduran karakter ini bisa terjadi begitu masif? Jawaban paling mudah adalah menunjuk media sosial sebagai sebuah alasan tunggal. Namun, jika kita mau menelisik lebih dalam dengan sudut pandang humaniora, masalahnya jauh lebih pelik daripada sekadar pengaruh telepon genggam di tangan anak. Layar digital pelan-petan telah berhasil merebut peran lingkungan sosial tradisional dalam membentuk kepribadian anak.
Dahulu, seorang anak belajar tentang batasan moral, kesopanan, dan kepatutan sosial dari interaksi langsung di ruang tamu, teras rumah, tetangga sekitar, serta rumah ibadah. Ada kontrol sosial yang hangat dan langsung bekerja saat anak melakukan kesalahan di ruang publik. Sayangnya, interaksi fisik yang sarat makna itu kini digantikan oleh algoritma dunia maya yang dingin dan tanpa kompas moral. Di dunia virtual, batas antara yang pantas dan tidak pantas menjadi sangat kabur.
Anak-anak kita setiap hari disuguhi konten dari para pembuat konten yang mendulang popularitas lewat cara yang instan, seperti berkata kasar, melakukan aksi usil yang kelewat batas, hingga meremehkan orang lain demi sebuah angka statistik bernama jumlah penonton. Bagi anak yang belum matang secara emosional dan kognitif, apa yang viral dan disukai banyak orang dianggap sebagai sebuah kebenaran baru yang patut ditiru agar tidak dikucilkan oleh lingkungan pergaulannya. Mereka kesulitan membedakan mana akting demi hiburan semata dan mana realitas sosial yang harus dihormati dalam kehidupan sehari-hari.
Runtuhnya Empati di Balik Hilangnya Tata Krama
Kehilangan sopan santun sebenarnya bukan sekadar masalah hilangnya formalitas berbahasa seperti kata permisi atau silakan. Ini adalah tanda bahaya dari terkikisnya rasa empati dalam jiwa generasi muda. Sopan santun adalah perwujudan fisik paling nyata dari cara manusia menghargai keberadaan sesamanya. Ketika tata krama itu luntur, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang egosentris, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan selalu menempatkan kenyamanan dirinya di atas segalanya. Jika dibiarkan terus berlanjut, kita sedang mempersiapkan generasi masa depan yang sangat cerdas secara digital namun cacat secara sosial dan emosional. Pada akhirnya, kecerdasan tanpa adab hanya akan melahirkan kesenjangan sosial yang lebih dingin.
Tentu saja kita tidak bisa menyelesaikan masalah besar ini hanya dengan memarahi anak atau menyita gawai mereka secara sepihak. Langkah keras seperti itu sering kali justru memicu jarak yang semakin lebar dan merusak komunikasi antara anak dan orang tua. Langkah awal yang paling mendesak untuk kita lakukan saat ini adalah membangun kembali benteng keteladanan dari dalam rumah kita sendiri. Anak adalah peniru yang sangat ulung di dunia. Mereka mungkin mengabaikan nasihat panjang lebar yang kita sampaikan, namun mereka tidak pernah meleset dalam meniru perilaku keseharian orang tuanya.
Sangat mustahil mengharapkan anak berkata lembut jika di meja makan mereka setiap hari mendengar orang tuanya berbicara dengan nada tinggi dan penuh makian saat membahas pekerjaan atau urusan politik di televisi. Kebiasaan menghormati orang lain harus dimulai dari bagaimana cara kita memperlakukan anak di rumah. Hargai pendapat mereka, gunakan kata yang santun saat meminta bantuan mereka, dan biasakan meminta maaf dengan tulus jika kita melakukan kesalahan di depan mereka.
Selain keteladanan, kita perlu menghidupkan kembali tradisi dialog di dalam keluarga. Luangkan waktu khusus setiap hari tanpa gangguan layar gawai untuk saling bercerita, mendengar keluh kesah anak, dan mendiskusikan apa saja yang mereka temui di jagat internet secara kritis. Orang tua harus hadir sebagai penyaring pertama yang menjelaskan mengapa perilaku tertentu di media sosial tidak boleh dibawa ke dunia nyata. Melalui dialog yang setara, anak akan merasa dihargai dan lebih terbuka menerima masukan.
Mengajarkan kembali sopan santun di tengah gempuran dunia digital memang bukan perkara mudah. Ini adalah perjuangan panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kerja sama dari semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Kita tidak boleh menyerah dan membiarkan karakter mulia anak-anak kita hanyut begitu saja oleh arus algoritma internet yang tak bernyawa. Pada akhirnya, peradaban suatu bangsa tidak pernah diukur dari seberapa canggih teknologi yang mereka kuasai, melainkan dari seberapa tinggi adab dan sopan santun yang dijunjung oleh generasinya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
