Teknologi Insect Trap sebagai Upaya Pengendalian Hama Wereng pada Sektor Pertanian Desa Lasem
Teknologi | 2026-07-14 14:18:09
Pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan, khususnya sebagai sumber penghasilan utama bagi sebagian besar penduduk. Keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh kualitas lahan dan kemampuan petani dalam mengelola tanaman, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti perubahan iklim, ketersediaan udara, hingga serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Salah satu permasalahan yang cukup sering dihadapi petani di berbagai daerah di Indonesia adalah serangan hama yang mampu menurunkan produktivitas bahkan menyebabkan gagal panen apabila tidak ditangani secara tepat dan berkelanjutan.
Permasalahan tersebut juga ditemukan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 29 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya saat melaksanakan kegiatan observasi dan survei lapangan di Desa Lasem. Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat dan diskusi bersama perangkat desa serta kelompok tani setempat, diketahui bahwa hama wereng menjadi salah satu ancaman utama bagi hasil pertanian masyarakat. Tingginya populasi tidak menyebabkan kerusakan tanaman yang berpengaruh langsung terhadap kuantitas maupun kualitas hasil panen petani. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN untuk merancang sebuah solusi yang tidak hanya bersifat praktis, tetapi juga sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Sebagai bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat, Sub Kelompok 5 KKN Reguler 29 kemudian menggagas sebuah program Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa alat perangkap hama serangga atau Insect Trap . Program ini dipilih karena dinilai mampu menjadi alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pestisida secara berlebihan. Penggunaan pestisida memang mampu memberikan hasil yang cepat dalam mengendalikan populasi hama, namun dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti kontaminasi lingkungan, penurunan kualitas tanah, resistensi hama, hingga gangguan kesehatan bagi petani dan masyarakat sekitar.
Insect Trap yang dikembangkan dalam program ini bekerja dengan memanfaatkan perilaku alami serangga tertentu yang tertarik pada cahaya, khususnya cahaya ultraviolet (UV). Secara teknis, alat ini menggunakan lampu ultraviolet sebagai media utama untuk menarik serangga yang aktif pada malam hari, termasuk beberapa jenis hama pertanian yang menyerang tanaman padi. Agar alat dapat beroperasi secara mandiri dan hemat energi, sumber daya yang digunakan berasal dari panel surya mini yang berfungsi menangkap energi matahari pada siang hari. Energi tersebut kemudian disimpan dalam baterai sebagai media penyimpanan sehingga lampu ultraviolet dapat menyala pada malam hari ketika aktivitas serangga meningkat.
Pemanfaatan energi surya pada teknologi ini menunjukkan bahwa konsep Teknologi Tepat Guna tidak hanya fokus pada penyelesaian masalah utama, tetapi juga memperhatikan aspek keinginan dan efisiensi sumber daya. Dengan menggunakan energi matahari sebagai sumber listrik utama, biaya operasional alat dapat ditekan seminimal mungkin sehingga penggunaannya menjadi lebih ekonomis bagi petani. Selain itu, ketergantungan terhadap sumber energi konvensional dapat dikurangi sehingga teknologi ini lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Pelaksanaan program kerja ini dilakukan pada hari Kamis, 9 Juli, bertempat di Balai Desa Lasem dengan sasaran utama para mitra dari kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Lasem. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pemaparan materi sekaligus memadatkan penggunaan alat secara langsung kepada peserta. Metode ini dipilih agar para petani tidak hanya memahami konsep dasar teknologi yang ditawarkan, tetapi juga dapat melihat secara nyata cara kerja alat, proses pemasangan, serta langkah-langkah perawatan yang diperlukan agar alat dapat digunakan secara optimal.
Penyampaian materi kepada para petani menjadi bagian penting dalam kegiatan ini karena keberhasilan suatu inovasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknologi yang dihasilkan, tetapi juga oleh tingkat pemahaman dan penerimaan masyarakat sebagai pengguna akhir. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN menjelaskan mengenai bahaya serangan hama wereng terhadap produktivitas pertanian, batasan penggunaan pestisida kimia dalam jangka panjang, serta potensi pemanfaatan teknologi ramah lingkungan sebagai solusi alternatif. Melalui pendekatan edukatif tersebut diharapkan para petani dapat memiliki perspektif baru mengenai pentingnya pengendalian hama yang berkelanjutan.
Demonstrasi penggunaan alat juga memberikan kesempatan kepada petani untuk berinteraksi secara langsung dengan teknologi yang diperkenalkan. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan terkait efektivitas alat, jangkauan penangkapan serangga, ketahanan baterai, serta cara perawatan panel surya. Interaksi semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki ketertarikan terhadap inovasi yang sederhana namun memberikan manfaat nyata bagi aktivitas pertanian mereka sehari-hari.
Dari sudut pandang mahasiswa, pelaksanaan program ini memberikan pengalaman berharga mengenai pentingnya proses mengidentifikasi masalah sebelum merancang suatu program pengabdian kepada masyarakat. Program kerja yang baik bukanlah program yang sekedar mengikuti tren atau berdasarkan asumsi, melainkan program yang lahir dari kebutuhan riil masyarakat. Melalui survei lapangan dan komunikasi dengan berbagai pihak di Desa Lasem, mahasiswa dapat memahami bahwa permasalahan hama wereng merupakan isu yang memerlukan perhatian serius sehingga solusi yang diberikan menjadi lebih tepat sasaran dan memiliki peluang perpindahan yang lebih tinggi.
Selain itu, program ini juga menampilkan bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menghasilkan inovasi yang bermanfaat secara langsung. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu mengenalkan masyarakat dan memanfaatkan teknologi sederhana untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Di sisi lain, masyarakat memberikan pengetahuan lokal dan pengalaman lapangan yang sangat berharga dalam penyempurnaan teknologi yang dikembangkan.
Meskipun demikian, penerapan teknologi Perangkap Serangga tentu masih memiliki beberapa tantangan yang perlu diperhatikan. Efektivitas alat dalam menangkap serangga sangat dipengaruhi oleh lokasi penempatan, kondisi cuaca, serta jenis serangga yang terdapat pada area pertanian tertentu. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi dan pengembangan lebih lanjut agar teknologi ini dapat bekerja secara maksimal pada berbagai kondisi lingkungan. Penggunaan alat ini juga sebaiknya dipadukan dengan metode pengendalian hama lainnya dalam kerangka pengendalian hama terpadu sehingga hasil yang diperoleh menjadi lebih optimal.
Di bagian depan, teknologi semacam ini memiliki potensi untuk terus dikembangkan dengan menambahkan berbagai fitur pendukung seperti sensor otomatis, pengaturan waktu penyalaan lampu, serta sistem monitoring berbasis teknologi digital. Inovasi tersebut dapat meningkatkan efektivitas alat sekaligus memberikan kemudahan bagi petani dalam melakukan pengawasan terhadap kondisi lahan pertanian mereka. Dengan demikian, teknologi tepat guna tidak hanya menjadi solusi sementara, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi pertanian menuju pertanian modern yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, program Teknologi Tepat Guna Perangkap Serangga yang dilaksanakan oleh KKN Reguler 29 Sub Kelompok 5 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di Desa Lasem merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam menjawab permasalahan masyarakat melalui pendekatan ilmiah dan inovatif. Program ini tidak hanya menawarkan solusi terhadap permasalahan hama yang dihadapi petani, tetapi juga memperkenalkan konsep pertanian ramah lingkungan dengan memanfaatkan energi terbarukan. Kehadiran teknologi sederhana namun fungsional seperti Insect Trap yang diharapkan mampu membantu petani mengurangi kerugian akibat serangan hama sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di Desa Lasem.
Lebih dari sekedar program kerja KKN, kegiatan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan kelompok tani dapat menghasilkan perubahan positif yang berkelanjutan. Melalui semangat pengabdian dan inovasi, mahasiswa tidak hanya belajar dari masyarakat, tetapi juga turut memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pertanian Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
