Masjid Omari: Jejak Pergantian Kekuasaan di Gaza
Sejarah | 2026-09-03 16:14:34
Masjid Omari atau Masjid Agung Gaza, merupakan salah satu landmark penting bagi Gaza. Lebih dari sekadar situs arkeologi, masjid ini menjadi simbol pergantian kekuasaan di Gaza dari masa ke masa. Hampir setiap bangsa yang pernah menguasai Gaza, pernah menggunakan masjid ini. Masjid ini, yang hancur karena serangan udara Israel 8 Oktober 2023, ternyata memiliki sejarah panjang menjadi saksi bisu pergantian kekuasan di Gaza.
Sejarawan Jean Pierre Filliu, dalam penelitiannya tentang Sejarah Gaza, yamg dituangkan dalam buku nya, Gaza: A History, menuliskan bahwa Masjid Omari alias Masjid Agung Gaza tersebut, pada awalnya adalah Kuil Zeus, yang pada masa kekuasaan Byzantium di Gaza menjadi Gereja Santo Eudoksia. Sekitar pertengahan 630-an M, Pasukan Kekhalifahan Islam merebut Gaza dari tangan Kekaisaran Byzantium dan mengubah gereja tersebut menjadi sebuah masjid.
Waktu tepat kapan Gaza jatuh ke tangan kekuasaan Islam, masih diperdebatkan. Sejarawan Irak generasi awal , Al-Baladzuri ( wafat 892 M), dalam kitabnya, Futuhul Buldan ( penaklukan negeri-negeri) menuliskan Gaza jatuh ke tangan kekuasaan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq ( memerintah 632-634 M). Sejarawan lain, Al-Tabari ( 839-923 M) dalam kitabnya, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, menuliskan Gaza jatuh ke tangan kekuasaan Islam sekitar 636/637 M yaitu masa kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab ( memerintah 634-644 M).
Menurut Filliu, masjid ini menjadi tempat singgah para pedagang. Salah satu sumber Islam awal yang menjelaskan eksistensi masjid ini di Gaza, adalah catatan Penjelajah asal Yerusalem, Al-Muqaddasi pada 985 M dalam kitabnya, Ahsan al-Taqasim Wa Marifat al-Aqalim. Al-Muqaddasi menyebutkan adanya suatu masjid yang indah di Gaza dan menjadi monumen untuk Khalifah Umar bin Khattab.
Mengingat posisnya yang strategis, terletak di jalur dagang antara Mesir dan Syam, pada abad pertengahan, Gaza terus berpindah dari satu penguasa ke penguasa lainnya. Dari tangan Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah. Peneliti Ziad.M.Shehada dalam artikelnya, The Reflection of Interreligious Coexistence on the Cultural Morphology of the Grand Mosque Omari On Gaza , yang dimuat dalam Journal of History Culture and Art Research , Vo.9, No.4, 2020, menyebutkan, masjid tersebut mengalami kerusakan akibat gempa pada 1083 M.
Hingga sekitar 969 M, kota itu ditaklukkan oleh Dinasti Syiah yang berpusat di Mesir, Dinasti Fathimiyah. Pada 1149 M, kota itu jatuh ke tangan Pasukan Salib Kerajaan Latin Yerusalem yang dipimpin Baldwin III. Masjid Omari, diperbesar untuk diubah menjadi sebuah katedral bernama Katedral Santo Yohanes Sang Pembaptis. Begitulah yang ditulis Filliu.
Reuven Amitai dalam makalahnya, Gaza in the Frankish and Ayyubid Periods: the Run Up to 1260 CE yang dimuat dalam buku Carole Hillenbrand, Syria In Crusader Times, menyebutkan , Raja Baldwin III juga membangun sebuah kastil di Gaza dan kastil tersebut dikelola olah para Ksatria Templar. Ksatria Templar, menjadi penguasa de facto atas Gaza dibawah pendudukan Pasukan Salib.
Selama periode itulah, Katedral Santo Yohanes Sang Pembaptis dibangun. Peneliti Ziad M.Shehada, menyebutkan, saat Katedral Santo Yohanes dibangun, Masjid Omari dalam keadaan runtuh karena gempa 1030 M. Namun gereja tertua di Gaza , Gereja Santo Porfirius, menolak penyatuan dengan Katedral Santo Yohanes dan menganggapnya sebagai pendudukan Eropa.
Pada 583 H/1187 M, Pendiri Dinasti Ayyubi , Shalahuddin al-Ayyubi mengalahkan Pasukan Salib dalam Pertempuran Hitthin dan membebaskan kota-kota Palestina hingga Yerusalem. Salah satu sekretaris nya , Bahauddin bin Shaddad (1145-1234 M), dalam karyanya, An-Nawadir as-Sulthaniyah Wa Mahasin al-Yusufiyah , mencatat , Gaza termasuk kota yang dibebaskan oleh Pasukan Shalahuddin al-Ayyubi pada 1187 M . Kota ini dibebaskan setelah Pasukan Shalahuddin al-Ayyubi sebelumnya membebaskan Ramla ( Ibelin), Yubna, dan Darum dalam perjalanan menuju Yerusalem .
Pasca ditaklukan oleh Shalahuddin al-Ayyubi, Katedral Santo Yohanes , dialihfungsikan kembali menjadi masjid seperti sebelumnya. Masjid ini, sempat beralih kembali menjadi katedral pada 1228 M, saat Gaza kembali diduduki Pasukan Salib. Masjid Omari kembali dijadikan katedral dengan nama Katedral Mario Hanna. Pada 1244 M, Pasukan Ayyubi dan Pasukan Salib bertempur di dekat kawasan Masjid Omari. Gaza berhasil direbut kembali, akan tetapi menurut Ziad M.Shehada, masjid mengalami kerusakan yang parah.
Pertempuran ini dicatat oleh Sejarawan abad ke 14 M, Imam Adz-Dzahabi ( 1274-1348 M) dalam kronik nya, Duwal al-Islam Jilid II. Imam Adz-Dzahabi menuliskan , pertempuran ini terjadi pada 642 H (1244 M). Pasukan Ayyubiyah digerakkan Sultan Ayyubi Mesir, Malik as-Shalih Najmuddin , untuk memerangi Penguasa Ayyubiyah Damaskus yaitu Malik as-Shalih Ismail yang telah menyerahkan Syaqif dan Safed pada Pasukan Salib. Pasukan Ayyubiyah dibantu pasukan bayaran Khawarizmi dari Asia Tengah. As-Shalih kemudian meminta bantuan pada Penguasa Ayyubiyah di Al-Karak, An-Nashir Daud, dan Penguasa Ayyubiyah di Homs, Al-Manshur Ibrahim. Pasukan Salib turut membantu koalisi Ayyubiyah tersebut. Dikisahkan oleh Imam Adz-Dzahabi, pertempuran terjadi antara Gaza dan Asqalan. Pasukan koalisi Ayyubiyah Damaskus, Homs, dan Al-Karak yang didukung Tentara Salib mengalami kekalahan. Adz-Dzahabi menuliskan, korban dalam pertempuran ini mencapai lebih dari 30.000 orang.
Bangunan tersebut, mengalami restorasi terakhir sebagai masjid pada 1260 M, pada masa kekuasaan Sultan Dinasti Mamluk, Az-Zhahir Baybars. Az-Zhahir Baybars, melengkapi Masjid Omari dengan sebuah perpustakaan yang memuat lebih dari 20.000 buku. Peneliti Indlieb Farazi Saber dalam artikelnya, A Cultural Genocide: Which of Gaza s Heritage Site Have Been Destroyed”? yang dimuat dalam Al-Jazeera, mencatat perpustakaan tersebut baru dibuka pada 1277 M. Koleksi literatur yang ada dalam perpustakaan tersebut, sangat beragam, meliputi Al-Quran, biografi Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam, filsafat, pengobatan dan ilmu Tasawuf.
Dinasti Mamluk, yang didirikan para mantan budak Turki yang dulunya mengabdi pada Dinasti Ayyubiyah, dengan wilayah di Mesir dan Syam, memang merupakan dinasti yang sangat menaruh perhatian pada keilmuan dan literatur.
Meski terlibat konfrontasi secara terus menerus dengan Kekaisaran Mongol dan Tentara Salib, ilmu pengetahuan , khususnya ilmu agama, masih berkembang di masa Dinasti Mamluk . Imam Adz-Dzahabi , masih dalam Duwal al-Islam Jilid II, mencatat para ulama terkemuka yang hidup pada masa Dinasti Mamluk. Diantara mereka adalah Ulama Hadits asal Nablus, Palestina, Syarafuddin Yusuf , yang wafat di Damaskus pada 671 H (1272 M).
Perpustakaan Masjid Omari, menjadi jejak denyut keilmuan di masa Dinasti Mamluk. Sekaligus simbol integrasi antara agama dan ilmu pengetahuan pada masa tersebut. Robert Irwin dalam penelitiannya, Mamluk Literature, yang dimuat dalam Mamluk Studies Review Vol.7, tahun 2003, literatur pada era kekuasaan Dinasti Mamluk mencakup berbagai tema . Baik kesusasteraan, sejarah, dan karya ensiklopedis. Selaras dengan laporan Indlieb Farazi Saber tentang koleksi perpustakaan Masjid Omari.
Pada masa Dinasti Mamluk pula, Masjid Omari mengalami renovasi . Ziad M.Shehada mencatat, pada 1285 M, menara Masjid Omari didirikan. Pada masa Sultan Mamluk Saifuddin Qalawun (1279-1290 M) , Masjid Omari diperluas dengan mengambil tembok utara Gereja Santo Porfirius yang diberikan pada Umat Islam. Arief Rohmatullah dalam skripsinya, Kebijakan Keagamaan Pemerintahan Sultan al-Manshur Saifuddin Qallawun Pada Masa Dinasti Mamluk Bahri 1279-1290 M, menyebutkan Sultan Qalawun selama masa pemerintahannya, melakukan beberapa pembangunan penting, antara lain Sekolah Fiqih Manshuriyah dan Rumah Sakit Maristan al-Manshuriyah.
Menurut Shehada, Qalawun memperluas masjid untuk menjadi tempat singgah para musafir yang berkunjung ke Gaza . Mengingat Gaza menjadi penghubung antara dua ibukota Mamluk, Kairo, dan Damaskus. Banyak tamu yang datang ke kota tersebut.
Pada 1294 M, terjadi gempa di Gaza yang menyebabkan kerusakan pada Masjid Omari dan Gereja Santo Porfirius. Masjid Omari kemudian kembali direnovasi, dan menurut Shehada, menjadi salah satu masjid terindah saat itu.
Setelah bertahan cukup lama, pertengahan abad ke 16 M, tepatnya tahun 1516 M, Dinasti Utsmani dibawah Sultan Selim I menaklukkan Dinasti Mamluk, merebut Syam dan Mesir. Martin A Meyer dalam bukunya, History of the City of Gaza , menyebutkan bahwa saat itulah, Dinasti Utsmani mulai mengklaim posisi sebagai khalifah ( pemimpin tertinggi Umat Islam). Pada 1600 M, Dinasti Utsmani merenovasi Masjid Omari. Sisi utara masjid dibangun. Restorasi terjadi lagi pada 1895 M, saat Masjid Omari hancur karena gempa. Namun, 1917 M, masjid itu rusak kembali saat pemboman yang dilakukan Pasukan Inggris. Renovasi terakhir tercatat pada 1926 M, oleh Dewan Islam Yerusalem dengan menambahkan mimbar baru pada masjid.
Sepanjang sejarahnya, masjid ini menjadi simbol dinamika kekuasaan di Gaza. Sebuah kota strategis yang mengalami sejarah panjang menjadi bagian dari banyak etintas dalam sejarah. UNESCO dalam laporannya tentang Warisan Budaya di Gaza, The Historic Center Of Gaza, including Omari Mosque and Porphyrius Church, mengkategorikan Masjid Omari , bersama Gereja Santo Porfirius, gereja tertua di Gaza, sebagai warisan budaya yang merepresentasikan kontinuitas kehidupan di persimpangan Asia-Afrika. Kehancuran Masjid Omari bukan hanya tentang akibat dari sebuah konflik, tetapi tentang seperti apa wajah budaya masyarakat Gaza yang multikultural di masa depan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
