Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nadia Ismi

Bandung tidak Pernah Benar-benar Diam, Dari Trotoar hingga Layar Digital

Bisnis | 2026-09-03 13:23:56

Ada kota yang berubah karena pembangunan gedung-gedung tinggi. Ada pula kota yang perubahannya justru terasa dari hal-hal kecil: trotoar yang dibongkar, pohon yang kembali ditanam, terminal yang berganti fungsi, atau sebuah ruang publik yang perlahan memiliki wajah baru.

Bandung termasuk kota yang menarik untuk diamati dari sisi tersebut.

Kota ini seperti tidak pernah benar-benar diam. Pagi hari dipenuhi aktivitas warga yang berangkat bekerja dan sekolah. Siang bergerak dengan kesibukan perdagangan dan perkantoran. Menjelang sore, sejumlah ruas jalan mulai dipenuhi kendaraan dan masyarakat yang hendak menghabiskan waktu.

Pada malam hari, wajah Bandung kembali berubah.

Kafe, pusat kuliner, ruang kreatif, taman, hingga berbagai tempat berkumpul menjadi bagian dari kehidupan kota. Di tengah ritme tersebut, perubahan lain sebenarnya sedang berlangsung: cara masyarakat Bandung berinteraksi dengan teknologi.

Ketika Trotoar Menjadi Cerita

Salah satu kabar yang menarik perhatian beberapa hari terakhir adalah penyesuaian trotoar di kawasan Gasibu.

Trotoar yang dinilai terlalu tinggi mulai dibongkar untuk menyesuaikan elevasi dan memudahkan akses pejalan kaki menuju zebra cross. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menutup kawasan Gasibu untuk renovasi hingga awal 2027.

Bagi sebagian orang, membicarakan trotoar mungkin terdengar seperti persoalan yang sangat biasa.

Namun bagi sebuah kota, trotoar adalah bagian penting dari pengalaman warganya.

Orang berjalan kaki membutuhkan jalur yang aman. Lansia membutuhkan akses yang lebih mudah. Penyandang disabilitas membutuhkan fasilitas yang tidak menyulitkan. Bahkan pengguna kendaraan pun pada akhirnya membutuhkan trotoar yang baik karena lalu lintas kota tidak hanya terdiri atas mobil dan sepeda motor.

Hal-hal seperti inilah yang sering luput dari perhatian ketika orang berbicara tentang pembangunan kota.

Kota yang nyaman ternyata tidak selalu ditentukan oleh bangunan yang megah.

Kadang ukurannya justru sesederhana: apakah seseorang bisa berjalan kaki tanpa harus merasa khawatir?

Bandung Sedang Mengubah Cara Bergerak

Perubahan juga terlihat dalam proyek transportasi publik Bandung Raya.

Sejumlah kios di Terminal Antapani dibongkar sebagai bagian dari pembangunan fasilitas BRT. Di sisi lain, Terminal Cicaheum mulai mengalami perubahan fungsi untuk mendukung pembangunan depo BRT.

Perubahan tersebut tentu membawa konsekuensi bagi masyarakat yang selama ini beraktivitas di kawasan tersebut.

Bagi pedagang, terminal bukan sekadar tempat kendaraan datang dan pergi. Ada penghasilan yang bergantung pada keberadaan penumpang. Ada pelanggan yang sudah dikenal bertahun-tahun. Ada pula rutinitas yang terbentuk secara perlahan.

Karena itu, pembangunan transportasi publik seharusnya tidak hanya dibaca sebagai pembangunan infrastruktur.

Ada kehidupan manusia yang ikut bergerak bersamanya.

Di sinilah tantangan pembangunan kota menjadi lebih kompleks. Pemerintah membutuhkan sistem transportasi yang lebih baik, sementara masyarakat membutuhkan kepastian bahwa perubahan tidak membuat mereka kehilangan ruang untuk mencari nafkah.

Bandung sedang mencari titik temu antara keduanya.

Live Streaming Bandung

Pohon, Jalan, dan Ingatan Warga

Cerita lain datang dari Jalan LLRE Martadinata atau Jalan Riau.

Sepuluh pohon mahoni kembali ditanam setelah sebelumnya terjadi penebangan pohon tanpa izin. Pohon-pohon tersebut memiliki tinggi sekitar lima hingga enam meter dan akan mendapatkan perawatan untuk memastikan pertumbuhannya.

Bagi pengendara yang melintas, mungkin pemandangan itu hanya berlangsung beberapa detik.

Tetapi pohon di kota memiliki fungsi yang jauh lebih panjang daripada waktu yang dibutuhkan seseorang untuk melewatinya.

Pohon memberikan keteduhan. Ia menjadi bagian dari karakter jalan. Dalam waktu bertahun-tahun, pohon bahkan dapat menjadi penanda sebuah kawasan.

Bandung sendiri memiliki banyak ruas jalan yang dikenal bukan hanya karena bangunannya, tetapi juga karena suasana yang diciptakan pepohonan.

Karena itu, penanaman kembali bukan hanya persoalan mengganti pohon yang hilang.

Ada upaya untuk mengembalikan karakter sebuah ruang.

Dari Jalanan Bandung ke Ruang Digital

Menariknya, perubahan Bandung tidak hanya dapat dilihat secara fisik.

Ada perubahan lain yang berlangsung jauh lebih cepat dan mungkin tidak terlihat.

Cara masyarakat mengikuti acara, seminar, diskusi, pertandingan, maupun kegiatan komunitas kini semakin beragam.

Dulu, sebuah acara biasanya memiliki batas yang sederhana: siapa yang datang ke lokasi, dialah yang bisa menyaksikan.

Sekarang batas tersebut semakin kabur.

Seseorang bisa berada di Bandung sementara orang lain mengikuti kegiatan yang sama dari Jakarta, Surabaya, Bali, bahkan dari luar negeri.

Perkembangan teknologi siaran langsung ikut mendorong perubahan tersebut. Istilah jasa live streaming Bandung misalnya, sekarang muncul dalam konteks yang jauh lebih luas daripada sekadar menyiarkan sebuah acara.

Siaran langsung telah menjadi bagian dari cara sebuah kegiatan berkomunikasi dengan publik.

Sebuah diskusi kampus dapat disaksikan mahasiswa dari daerah lain. Seminar komunitas dapat diikuti oleh peserta yang sedang berada di luar kota. Acara kebudayaan dapat menjangkau penonton yang sebelumnya tidak mungkin hadir secara langsung.

Teknologi akhirnya membuat sebuah ruangan memiliki “pintu” yang lebih banyak.

Acara Tidak Lagi Harus Berada di Satu Ruangan

Perubahan tersebut semakin terasa melalui konsep kegiatan hybrid.

Dalam satu acara, sebagian peserta hadir langsung, sementara peserta lainnya bergabung melalui internet.

Model seperti live zoom hybrid multi kamera menjadi salah satu gambaran bagaimana teknologi produksi acara berkembang. Beberapa sudut kamera dapat digunakan untuk menampilkan pembicara, moderator, suasana ruangan, hingga materi presentasi kepada peserta yang mengikuti secara daring.

Sekilas, ini terlihat seperti persoalan teknis.

Tetapi dampaknya sebenarnya menyentuh cara manusia berkumpul.

Sebuah acara tidak lagi selalu memiliki satu tempat dan satu jenis peserta. Ada orang yang duduk di ruangan, ada yang berada di depan komputer, ada pula yang mungkin hanya menyaksikan melalui perangkat seluler.

Bandung, dengan banyaknya kegiatan pendidikan, komunitas, ekonomi kreatif, dan acara publik, memiliki ruang yang cukup besar untuk perkembangan model komunikasi semacam ini.

Teknologi bukan menggantikan pertemuan langsung.

Ia hanya memperpanjang jangkauannya.

Ketika Kota dan Teknologi Berjalan Bersamaan

Mungkin inilah bagian menarik dari perkembangan Bandung hari ini.

Di satu sisi, kota masih sibuk mengurus persoalan yang sangat mendasar: trotoar, pohon, terminal, transportasi, dan ruang publik.

Di sisi lain, masyarakatnya sudah hidup dalam dunia yang sangat digital.

Keduanya berjalan bersamaan.

Seorang warga bisa mengeluhkan kondisi trotoar melalui media sosial pada pagi hari, mengikuti rapat secara daring pada siang hari, kemudian menikmati suasana kota pada malam harinya.

Batas antara kehidupan fisik dan digital semakin sulit dipisahkan.

Namun perkembangan teknologi juga membawa pertanyaan baru.

Apakah semua masyarakat mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengaksesnya?

Apakah kegiatan digital hanya akan dinikmati kelompok tertentu?

Dan yang tidak kalah penting, apakah teknologi benar-benar membuat kehidupan menjadi lebih mudah atau justru menambah persoalan baru?

Pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban sederhana.

Bandung dan Masa Depan yang Sedang Dibentuk

Bandung mungkin tidak akan pernah selesai dibangun.

Setiap kali sebuah jalan diperbaiki, muncul kebutuhan baru. Ketika transportasi diperbarui, pola perjalanan masyarakat ikut berubah. Ketika ruang publik ditata, muncul pula kebutuhan terhadap fasilitas yang berbeda.

Hal yang sama terjadi pada teknologi.

Apa yang dianggap canggih hari ini bisa menjadi hal biasa beberapa tahun mendatang.

Karena itu, masa depan Bandung tidak hanya ditentukan oleh proyek-proyek besar. Ia juga dibentuk oleh keputusan kecil yang terjadi setiap hari.

Bagaimana trotoar dibuat.

Bagaimana pohon dirawat.

Bagaimana transportasi publik dikembangkan.

Bagaimana ruang publik digunakan.

Dan bagaimana masyarakat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan interaksi sebagai manusia.

Pada akhirnya, kota yang baik bukan kota yang terlihat sempurna dari kejauhan.

Kota yang baik adalah kota yang terasa nyaman ketika dijalani.

Bandung masih berada dalam proses menuju ke sana.

Jalannya terus berubah, ruangnya terus ditata, teknologinya terus berkembang, dan masyarakatnya terus beradaptasi.

Mungkin justru di situlah daya tarik Bandung.

Kota ini tidak pernah benar-benar selesai menjadi dirinya sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image