Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arifda Ayu SW, M.Si

Pestisida Alami: Ramah Lingkungan, Tapi Harus Pakai Ilmu

Gaya Hidup | 2026-01-29 13:04:24

Pestisida alami kini semakin populer. Di banyak desa pertanian, petani mulai mencoba berbagai ramuan dari bahan sekitar: daun-daunan, rempah, atau hasil fermentasi. Alasannya sederhana dan masuk akal: bahan mudah didapat, biaya lebih murah, dan dianggap lebih aman dibanding pestisida sintetis.

Sumber : tanilink

Namun, bersamaan dengan tren ini, muncul juga fenomena lain. Ada petani yang merasa berhasil menekan hama, tetapi ada juga yang mengeluh: sudah disemprot berkali-kali, hama tetap menyerang. Bahkan ada kasus tanaman justru tampak stress, daun menguning, mengeriting, atau seperti terbakar. Dari sini kita bisa melihat satu persoalan penting: pestisida alami memang menjanjikan, tetapi tidak bisa dipakai dengan cara coba-coba. Ia perlu edukasi.

Alami bukan berarti pasti aman

Ini poin pertama yang harus dipahami. Banyak orang menganggap “alami” sama dengan “tidak berbahaya”. Padahal di alam, tanaman menghasilkan senyawa kimia untuk bertahan hidup. Senyawa itulah yang membuat hama tidak suka, tidak mau makan, atau bahkan mati. Artinya, pestisida alami tetap bekerja karena ada kandungan yang bersifat toksik bagi organisme sasaran.

Masalahnya, jika dosis terlalu tinggi atau cara aplikasi tidak tepat, efeknya bisa berbalik ke tanaman budidaya. Beberapa bahan alami dapat menyebabkan fitotoksik, daun terbakar, pertumbuhan terganggu, atau bunga rontok. Di sisi lain, jika terlalu encer atau salah sasaran, pestisida alami menjadi tidak efektif dan hanya membuang tenaga serta biaya.

Jadi, sekalipun berbahan alami, prinsipnya tetap sama: ada aturan dosis, waktu, dan cara pakai.

Masalah utama di lapangan: tidak standar

Mengapa pestisida alami sering tidak konsisten hasilnya? Karena hampir semua prosesnya bergantung pada kebiasaan dan taksiran. Satu genggam bahan bagi tiap orang berbeda. Lama perendaman berbeda. Cara fermentasi berbeda. Bahkan kualitas air pun bisa berbeda. Akibatnya, petani A bisa berhasil, petani B gagal padahal merasa memakai bahan yang sama.

Ini berbeda dengan pestisida sintetis yang konsentrasinya terukur. Karena itu, edukasi pestisida alami perlu menekankan standardisasi sederhana: takaran yang jelas, wadah yang tepat, proses penyaringan, dan cara penyimpanan. Hal-hal teknis seperti ini sering dianggap sepele, padahal menentukan hasil.

Pestisida alami bukan “obat ajaib”

Kesalahan lain adalah menganggap pestisida alami bisa mengatasi semua masalah OPT (organisme pengganggu tanaman). Padahal hama dan penyakit sangat beragam: ada ulat pengunyah, kutu pengisap, thrips, tungau, hingga patogen jamur dan bakteri.

Sebagian besar pestisida alami bekerja secara:

 

  • kontak (harus mengenai sasaran),
  • repelen (mengusir),
  • atau menekan populasi pada fase awal.

Karena itu pestisida alami paling efektif jika digunakan sejak dini, bukan ketika serangan sudah berat. Pada kondisi ledakan hama atau penyakit parah, pestisida alami sering terlambat. Jika petani memaksakan, yang terjadi adalah kerugian berlipat: serangan tidak turun, panen menurun, dan petani kehilangan kepercayaan.

Maka posisi yang tepat untuk pestisida alami adalah sebagai bagian dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT mengajarkan bahwa pestisida hanyalah salah satu alat, bukan satu-satunya jawaban. Monitoring, sanitasi kebun, pengaturan budidaya, dan konservasi musuh alami tetap menjadi fondasi.

Edukasi yang benar: bukan sekadar bagi “resep”

Di sinilah peran penyuluh, akademisi, dan pemerintah daerah menjadi krusial. Edukasi pestisida alami tidak cukup dengan membagikan formula. Petani perlu pemahaman praktis:

  • bagaimana mengenali OPT sasaran,
  • kapan waktu aplikasi yang aman,
  • bagaimana menentukan interval penyemprotan,
  • bagaimana menguji larutan pada sebagian kecil tanaman sebelum disemprot luas,
  • dan bagaimana menjaga keselamatan kerja.

Sebab pada akhirnya, yang menentukan keberhasilan bukan “alami atau sintetis”, melainkan ketepatan penggunaan.

Pestisida alami adalah peluang. Ia bisa mengurangi ketergantungan input kimia, menekan biaya, dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem lahan. Tetapi peluang ini hanya akan menjadi manfaat jika disertai ilmu.

Maka, pestisida alami memang perlu didorong namun yang lebih penting: petani harus didampingi dan diedukasi, agar penggunaan pestisida alami tidak menjadi sekadar tren, melainkan benar-benar menjadi praktik pertanian yang efektif, aman, dan berkelanjutan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image