Ketika Informasi Ada di Mana-Mana, Apa yang Perlu Diajarkan Sekolah?
Pendidikan dan Literasi | 2026-07-04 15:56:15
Dulu, sekolah menjadi salah satu sumber utama untuk memperoleh pengetahuan. Buku pelajaran, guru, dan perpustakaan merupakan tempat peserta didik mencari informasi yang mereka butuhkan. Kini, situasinya telah berubah. Berbagai informasi dapat diakses kapan saja melalui internet, video pembelajaran, media sosial, hingga kecerdasan buatan (AI). Dalam hitungan detik, seseorang dapat menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tanpa harus membuka buku pelajaran.
Perubahan tersebut menghadirkan pertanyaan yang menarik. Jika informasi dapat diperoleh dengan begitu mudah, apa yang sebenarnya perlu diajarkan sekolah?
Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi peran sekolah, melainkan mengajak kita melihat bahwa fungsi pendidikan terus berkembang mengikuti perubahan masyarakat. Dalam perspektif sosiologi kurikulum, kurikulum tidak berdiri sendiri, tetapi selalu dipengaruhi oleh perkembangan sosial, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Ketika masyarakat berubah, pendidikan juga perlu menyesuaikan diri agar tetap relevan.
Di era informasi, tantangan utama bukan lagi keterbatasan akses terhadap pengetahuan, melainkan kemampuan untuk memilih informasi yang benar, memahami konteksnya, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Tidak semua informasi yang mudah ditemukan dapat dipercaya. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis, literasi digital, serta etika dalam menggunakan teknologi menjadi semakin penting untuk dimiliki peserta didik.
Hal tersebut tidak berarti pengetahuan dasar menjadi tidak penting. Kemampuan membaca, menulis, berhitung, serta penguasaan konsep dalam berbagai mata pelajaran tetap menjadi fondasi utama proses belajar. Namun, pendidikan saat ini juga perlu membantu peserta didik mengembangkan kemampuan menganalisis informasi, memecahkan masalah, bekerja sama, dan beradaptasi dengan perubahan yang terus berlangsung.
Kehadiran kecerdasan buatan juga menjadi contoh bagaimana teknologi mengubah cara seseorang belajar. AI mampu membantu mencari referensi, menjelaskan konsep, bahkan memberikan umpan balik terhadap hasil pekerjaan. Namun, AI tidak dapat menggantikan kemampuan manusia dalam mengambil keputusan, mempertimbangkan nilai, maupun memahami situasi sosial yang kompleks. Karena itu, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan-kemampuan tersebut.
Perubahan kebutuhan masyarakat inilah yang membuat kurikulum tidak dapat bersifat tetap. Kurikulum perlu terus dievaluasi agar mampu membekali peserta didik dengan kompetensi yang sesuai dengan tantangan zamannya. Tujuannya bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan bahwa pendidikan tetap mampu mempersiapkan generasi yang siap menghadapi kehidupan.
Pada akhirnya, kemudahan memperoleh informasi tidak mengurangi pentingnya sekolah. Justru di tengah derasnya arus informasi, sekolah memiliki peran yang semakin besar untuk membantu peserta didik belajar berpikir, bukan sekadar mengingat. Sebab, pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan individu yang mengetahui banyak hal, tetapi juga individu yang mampu menggunakan pengetahuan tersebut secara bijaksana dalam kehidupan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
