Bukan Invasinya yang Perlu Diperbaiki, Tapi Penyebabnya!
Eduaksi | 2026-06-27 12:48:15Berton-ton Dikubur, Lalu Apa?
Membaca Ikan Sapu-Sapu Sebagai Sinyal, Bukan Sekadar Hama
Oleh: Dwi Savinatul Bahriah - Universitas Airlangga
Paradoks di Sungai Ibu Kota
Pada 17 April 2026, petugas gabungan DKI Jakarta menangkap 68.800 ekor ikan sapu-sapu, hampir tujuh ton dalam satu kali operasi. Ikan-ikan yang telah ditangkap itu lalu dikubur hidup-hidup. Sampai 10 April, totalnya sudah lebih dari 12 ton.
Masyarakat banyak yang merespons aksi ini dengan kagum. Tapi ada asumsi yang perlu dikoreksi terlebih dulu, sungai penuh ikan bukan berarti sungai yang sehat. Justru sebaliknya. Melimpahnya ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung adalah tanda bahwa ekosistem sungai ini sedang dalam kondisi buruk.
Mengapa Ikan Ini Bisa Menguasai Sungai Ciliwung?
Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) bukan spesies asli asal Indonesia. Ikan ini berasal dari Sungai Amazon dan masuk ke Indonesia lewat jalur perdagangan ikan. Keberhasilannya di Sungai Ciliwung bukan kebetulan. Tubuhnya dilapisi scutes, yakni lempengan tulang keras yang membuat predator lokal kesulitan memangsa karena kulitnya yang sangat keras. Ia juga punya sistem pernapasan tambahan yang memungkinkannya mengambil oksigen dari udara, sehingga tahan hidup di luar air hingga 30 jam dan bertahan di air dengan kadar oksigen sangat rendah sekalipun.
Di sinilah masalahnya, kondisi Ciliwung yang tercemar justru menguntungkan ikan ini. Data ONLIMO KLHK mencatat mutu air Ciliwung telah tercemar hingga 95,5 persen pada Semester I 2025. Di kondisi air seperti itu, ikan-ikan lokal yang lebih sensitif tidak bisa bertahan. Tanpa kompetitor dan tanpa predator alami yang efektif, populasi ikan sapu-sapu meningkat drastis dari 12 ekor pada 2011 menjadi 287 ekor pada penelitian 2023–2024, naik 24 kali lipat dalam 14 tahun.
Lantas Siapa yang Sebenarnya Bertanggung Jawab?
Sebelum menyalahkan ikannya, alangkah baiknya kita menelaah terlebih dahulu dasar dari masalah ini, mengapa kondisi Sungai Ciliwung bisa sampai separah itu?
Ikan sapu-sapu adalah Bioindikator, yang berarti kehadirannya dalam jumlah besar mencerminkan kondisi lingkungan yang buruk. Ia tidak datang untuk merusak sungai, ikan ini berkembang karena sungai yang memang sudah rusak terlebih dahulu, oleh limbah domestik dan industri yang terus mengalirkan dan membuang polusi air ke sungai Ciliwung terus menerus.
Hal ini penting karena berimplikasi langsung pada efektivitas penanganan. Menangkap berton-ton ikan sapu-sapu tanpa memperbaiki kualitas air adalah solusi yang tidak akan pernah tuntas. Satu induk ikan sapu-sapu bisa menghasilkan ribuan telur per siklus. Selama sungainya masih tercemar, populasi baru akan terus tumbuh menggantikan yang sudah ditangkap. Ini seperti mengepel lantai sementara atapnya masih bocor.
Kenapa Tidak Dimakan atau Dijual Saja?
Pertanyaan ini wajar. Jawabannya ada di dalam tubuh ikannya sendiri.
Sebagai pemakan detritus di dasar sungai, ikan sapu-sapu menyerap dan menumpuk logam berat dari sedimen, proses tersebut dinamakan proses Bioakumulasi. Penelitian menemukan kandungan timbal (Pb) pada dagingnya mencapai 2,2 mg/kg, lebih dari sepuluh kali batas aman yang ditetapkan oleh BPOM, yakni sebesar 0,20 mg/kg. Uji laboratorium Dinas KPKP DKI juga menemukan bakteri Salmonella dan E. coli pada ikan-ikan ini.
Mengkonsumsi ikan sapu-sapu di lingkungan tercemar dapat meningkatkan risiko kesehatan serius jangka panjang, terutama keracunan logam berat yang efeknya kumulatif dan tidak langsung terasa. Ironisnya, sebagian warga sudah lama memanfaatkan ikan ini sebagai bahan olahan makanan murah seperti siomay, pentol, pakan bebek. Bukan karena tidak peduli, tapi karena edukasi soal bahayanya memang belum sampai ke telinga mereka. Ini celah yang perlu diisi, bukan hanya dikritik.
Lantas Apa Solusinya?
Penguburan oleh pemerintah DKI Jakarta punya alasan logis, ikan ini tahan hidup lama di darat, sehingga harus dipastikan benar-benar mati. Opsi insinerator ditolak karena berpotensi menimbulkan polusi udara. Tapi penguburan bukan tanpa risiko juga, ketika ikan sapu-sapu mulai terurai dalam tanah, logam berat yang terkubur bisa merembes ke tanah dan mencemari air tanah jika lokasi penguburan tidak dipilih dengan kajian yang memadai. Informasi soal ini belum pernah dikomunikasikan secara terbuka ke publik.
Ada beberapa alternatif yang lebih produktif dan perlu didorong pengembangannya:
- Bahan bakar biomassa. Ikan sapu-sapu bisa dibakar di tungku industri bersuhu tinggi dengan sistem filtrasi emisi. Logam berat tertahan di abu, tidak menyebar, dan energinya bisa dimanfaatkan.
- Industri kreatif. Kulit ikan sapu-sapu yang keras dan bertekstur unik berpotensi disamak menjadi bahan aksesori. Sejumlah komunitas UMKM sudah mulai menjajaki ini, meski belum dalam skala besar.
Selain itu banyak masyarakat yang berpikir untuk menjadikannya sebagai pupuk untuk tanaman, hal ini masih perlu diluruskan. Mengolahnya menjadi pupuk untuk tanaman pangan berisiko memindahkan logam berat ke rantai makanan manusia melalui sayuran atau padi. Jika pemanfaatan pupuk tetap dilakukan, seharusnya hanya digunakan untuk tanaman non-pangan seperti pohon kota atau tanaman hias.
Yang paling mendasar, semua solusi di atas tidak akan benar-benar berarti selama kualitas air di Sungai Ciliwung belum diperbaiki. Di bagian hulu yang kualitas airnya masih lebih baik, ikan baung sebagai predator alami ikan sapu-sapu muda masih ditemukan. Ekosistem yang sehat selalu mempunyai mekanisme pengendalinya sendiri. Tugas kita adalah memulihkan kondisi itu, bukan hanya terus mengejar gejalanya.
Penutup
Ikan sapu-sapu bukan musuh yang datang dari luar. Ia tumbuh subur karena kondisi yang kita ciptakan sendiri lewat limbah yang kita buang dan sungai yang kita abaikan bertahun-tahun.
Operasi penangkapan massal mungkin perlu sebagai langkah jangka pendek. Tapi jika itu satu-satunya yang dilakukan, masalah ini tidak akan selesai. Sungai yang sehat tidak perlu "dibersihkan" dari ikan seperti ini setiap bulan. Selama Ciliwung masih tercemar, ikan sapu-sapu akan selalu kembali.
Pertanyaannya bukan lagi bagaimana cara terbaik mengubur ikan-ikan ini. Pertanyaannya adalah: kapan kita mulai serius menyembuhkan sungainya?
Artikel ini ditulis sebagai tugas akhir mata kuliah Logika dan Pemikiran Kritis. Referensi utama mencakup penelitian Iqbal Mujadid dkk. dalam Jurnal Berita Biologi Vol. 24 No. 2 (2025), data pemantauan KLHK melalui sistem ONLIMO Semester I 2025,, serta liputan Kompas.com, Kumparan, Garda Animalia, dan CNBC Indonesia (April–Mei 2026).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
